Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Jumat, 31 Juli 2020

APABILA BERTEMU HARI RAYA DAN HARI JUM'AT

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Sungguh telah berkumpul di hari kalian ini dua hari raya, barangsiapa yang mau (sholat ‘ied) itu mencukupinya dari sholat Jum’at, dan kami sendiri akan tetap sholat Jum'at.” [HR. Abu Daud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 984]

Tabi’in yang Mulia ‘Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syaami rahimahullah berkata,

شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ، قَالَ: أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ: صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَلْيُصَلِّ»

“Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqom radhiyallahu’anhuma: Apakah engkau hadir bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika dua hari raya bersamaan dalam satu hari? Zaid bin Arqom menjawab: Ya. Mu’awiyah bertanya lagi: Apa yang beliau lakukan? Zaid bin Arqom menjawab: Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sholat ‘ied, kemudian beliau memberi keringanan dalam sholat Jum’at, beliau bersabda: Barangsiapa yang mau sholat Jum’at silakan sholat.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 981]

Disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

من صلى العيد يوم الجمعة رخص له في ترك الحضور لصلاة الجمعة ذلك اليوم إلا الإمام، فيجب عليه إقامتها بمن يحضر لصلاتها ممن قد صلى العيد وبمن لم يكن صلى العيد، فإن لم يحضر إليه أحد سقط وجوبها عنه وصلى ظهرا

“Barangsiapa sholat ‘ied di hari Jum’at, maka ia mendapat keringanan untuk tidak ikut sholat Jum’at di hari itu.

Kecuali imam, wajib atas imam untuk mengadakan sholat Jum’at bersama dengan jama’ah yang mau melakukan sholat Jum’at, baik yang telah ikut sholat ‘ied maupun yang tidak ikut sholat ‘ied.

Apabila seseorang tidak ikut sholat Jum’at (karena telah sholat hari raya) maka tidak wajib baginya sholat Jum'at dan ia tetap sholat Zhuhur.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/182 no. 2358]

Sumber: Buku "Fikih Sunnah Hari Raya" hal. 24. ( Penulis Ustad Sofyan Chalid, LC)

Kamis, 30 Juli 2020

Evaluasi Bulanan serta Buka Puasa Arafah bersama Guru dan Karyawan

Kamis, 30 Juli 2020 ( 9 Dzulhijjah 1441 H)



 












   


    Setelah dua minggu memasuki tahun ajaran baru 2020-2021, pada tanggal 30 Juli 2020, bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah 1441 H, guru dan karyawan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra melaksanakan evaluasi bulanan yang biasa diadakan setiap akhir bulan. Evaluasi yang dilaksanakan di Masjid Mus'ab bin Umair kompleks PPIQ Putra ini dihadiri kurang lebih 60 guru dan karyawan, termasuk Pimpinan Pondok, yang pada kesempatan hari ini juga sebagian besarnya melaksanakan Puasa Arafah.
    Acara dimulai pukul 16.45, yang menjadi pembawa acara pada kesmepatan ini adalah Ust. Burhanadi Nurdin S.I.Kom. Setelah dibuka dengan basmalah, agenda di awali dengan melantunkan asma'ul husna bersama, dipimpin oleh Direktur KMI PPIQ Putra, Ustadz. H. Purwadi Pangestutyas S.Pd.I. Gemuruh lantunan asma'ul husna membuat hati siapa saja yang mendengarkannya menjadi tenang.
    Setelah memimpin baca'an asma'ul husna, Ustadz. Purwadi lanjut dengan memberikan sambutannya . Beliau mengawali sambutannya dengan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan sampai saat ini, termasuk nikmat bisa bertemu dengan Hari Besar Islam, Iedul Adha. Selain itu beliau juga menyampaikan seputar kebaikan-kebaikan yang berkaitan dengan hari raya qurban.
    Ustadz Purwadi juga menyampaikan info terkini yang berkaitan dengan pendidikan di Pondok Ibnul Qoyyim Putra pada masa pandemi ini, bahwa memasuki bulan Agustus ini kemungkinan pembelajaran masih tetap dilaksanakan dengan sistem daring, karena pemerintah Kab. Bantul belum mengeluarkan izin pembelajaran tatap muka. Kita mohon bersama kepada Allah 'azza wa jalla, semoga keaadan ini segera membaik, sehingga santriwan bisa kembali menjalani pendidikan di pondok.
     Sebagai penutup sambutannya, Ustadz Purwadi memberikan nasihat kepada Guru dan Karyawan, agar tetap semangat menjalani tugas sebagai pendidik dan pengajar di tengah masa pandemi ini, meskipun kondisi saat ini mempengaruhi kondisi ekonomi, tapi in syaa Allah rezeki dari Allah tetap tersedia untuk kita.
    Setelah sambutan dari Direktru KMI Pondok Putra, acara dilanjutkan dengan penyampaian nasihat singkat dari Pimpinan PP Ibnul Qoyyim, KH. Rohadi Agus Salim Lc S.Pd.I. Pada kesempatan ini beliau menyegarkan kembali pikiran para guru dan karyawan tentang Hagia Sofia. Kembalinya Hagia Sofia menjadi masjid tentunya melalui perjuangan panjang, dan ini merupakan titik terang kebangkitan Islam, tutur beliau. KH. Rohadi Agus Salim memberi nasihat kepada guru dan karyawan agar ikut masuk ke dalam gelombang menuju kejayaan Islam, serta menyatukan kekuatan dengan selalu berinteraksi Al-Qur'an. 
    Terakhir sebelum acara dtitutup , hadirin melaksanakan do'a bersama yang dipimpin oleh Ustadz Purwadi. Dan setelah  MC menutup dengan salam, adzan berkumandang, para guru karyawan bersama-sama membatalkan puasa  dengan hidangan yang telah disediakan. Alhamdulillah.
    
Sebagai penutup berita ini, segenap Keluarga Besar Pondok Pesantren Ibnul Qpyyim Putera mengucapkan, 
"Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H"

Semoga Allah menerima amal ibadah udhiyah bagi yang melaksanakannya.
Bagi yang belum mampu melaksanakan, semoga Allah memberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah udhiyah di waktu yang akan datang. Aamiin

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162)


Reporter: Muhammad Jundi Rabbani

HIKMAH QURBAN TERBESAR

HIKMAH IBADAH QURBAN YANG TERBESAR ADALAH TAUHID
===========================
Oleh : Ustad Sofyan Chalid, Lc

(Renungan bagi Orang yang Masih Menyembelih untuk Selain Allah 'Azza wa Jalla)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada-Nya).” [Al-An’am: 162-163]

PENJELASAN MAKNA AYAT SECARA GLOBAL

Allah 'azza wa jalla memerintahkan kepada Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengatakan kepada orang-orang musyrikin yang menyembah selain Allah dan menyembelih untuk selain-Nya:

Sesungguhnya aku memurnikan untuk Allah: shalatku, sembelihanku, dan segala hal berupa keimanan dan amal shalih yang aku hidup dan mati di atasnya.

Semua hal itu kutujukan kepada Allah semata, dan aku tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, bertolak belakang dengan kesyirikan yang kalian kerjakan.

BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT

1. Bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah syirik besar karena Allah menyebutkan ibadah penyembelihan bersama dengan ibadah shalat. Sebagaimana, seseorang yang mengerjakan shalat untuk selain Allah berarti dia telah berbuat kesyirikan, demikian pula orang yang menyembelih untuk selain Allah berarti dia telah berbuat kesyirikan.

2. Bahwa shalat dan menyembelih termasuk ibadah yang paling agung.

3. Kewajiban untuk ikhlas kepada Allah dalam semua peribadahan (memurnikan ibadah hanya kepada-Nya).

4. Bahwa semua ibadah bersifat tauqifiyyah -yaitu harus berdasarkan dalil syari’at, tidak boleh mengada-ada dalam agama- berdasarkan firman Allah ta’ala (kepada Rasul-Nya untuk berkata): “Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.”

[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu]

RENUNGAN BAGI ORANG YANG MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH 'AZZA WA JALLA

Sejumlah ayat dan hadits telah menegaskan bahwa menyembelih adalah ibadah, dan setiap tahun umat islam berhari raya kurban, harusnya sudah dapat dipahami bahwa menyembelih adalah ibadah yang sangat agung, maka tidak sepatutnya dipersembahkan kepada selain Allah tabaraka wa ta’ala.

Namun sangat disayangkan masih ada orang yang mengaku muslim yang menyembelih untuk persembahan atau sesajen kepada selain Allah 'azza wa jalla, seperti kepada para jin yang menghuni lautan atau gunung tertentu, para wali yang telah wafat dan lain-lain.

Padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk persembahan kepada selain Allah." [HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu]

BERBAGAI KESYIRIKAN YANG LAIN

Bersama dengan menyembelih untuk selain Allah 'Azza wa Jalla, mereka juga melakukan kesyirikan yang lain, diantaranya:
- Berdoa kepada para jin atau wali tersebut.
- Meyakini bahwa para jin atau wali itu bisa melindungi mereka dari berbagai musibah.
- Meyakini bahwa para jin atau wali bisa menimpakan berbagai malapetaka bagi mereka.
- Meyakini bahwa para jin atau wali itu adalah penguasa di tempat-tempat tersebut.
- Takut, harap dan tawakkal kepada para jin atau wali tersebut.

Ironisnya mereka meyakini itu sebagai suatu kebaikan dan tradisi yang harus dilestarikan, bahkan tidak jarang mereka menganggap hal itu dapat mendekatkan diri kepada Allah, padahal kesyirikan adalah dosa terbesar yang membatalkan keislaman seseorang dan mengekalkannya di neraka, kita berlindung kepada Allah 'azza wa jalla.

Sumber: https://www.facebook.com/1661721914060613/posts/2752532371646223/


ADAB TERHADAP HEWAN QURBAN

Oleh : Ustad Sofyan Chalid, Lc

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

"Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat yang terbaik dalam segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan cara yang terbaik, apabila kamu menyembelih, sembelihlah dengan cara yang terbaik, hendaklah setiap kalian menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya." [HR. Muslim dari Syaddad bin Aus radhiyallahu'anhu]

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ، وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ، وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصرِها، قَالَ:أَفَلا قَبْلَ هَذَا، أَوَ تُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتَينِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melewati seseorang yang meletakkan kakinya di atas badan samping seekor kambing sambil menajamkan pisaunya, sedang kambing itu melihat ke arah pisau, maka beliau bersabda: Mengapakah engkau tidak menajamkan pisau sebelum melakukan ini, apakah engkau ingin mematikannya dua kali?!” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, Ash-Shahihah: 24, Shahihut Targhib: 1090]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

ويستحب أن لا يحد السكين بحضرة الذبيحة وأن لا يذبح واحدة بحضرة أخرى ولا يجرها إلى مذبحها

“Dan dianjurkan untuk tidak menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan, tidak boleh pula menyembelih seekor hewan di depan yang lainnya, dan tidak boleh menyeretnya ke tempat pemyembelihannya di depan yang lainnya.” [Syarhu Muslim 13/113]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1. Kewajiban berbuat baik kepada hewan sembelihan dan membuatnya nyaman sebelum disembelih.

2. Tidak boleh menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan.

3. Tidak boleh menyembelih atau menyeret seekor hewan ke tempat penyembelihan dan disaksikan oleh hewan yang lain.

4. Sifat kasih sayang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang sangat besar, demikianlah yang harus diteladani oleh umat beliau.

5. Keistimewaan dan kesempurnaan ajaran Islam serta ketinggian dan keluhuran akhlak yang dianjurkan dalam Islam.

Simak #Video_Pendek On YouTube: https://youtu.be/FyMChM37VC0

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.


Rabu, 29 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (15) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 2

Seri Seputar Qurban (15)
Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

📝 ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 2

8⃣  Kedelapan:  Hewan Qurban yang Akan Disembelih Hendaknya Dihadapkan ke Kiblat

Yaitu tempat yang disembelih (lehernya).

💡 Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/408):

استقبال الذابح القبلة وتوجيه الذبيحة إليها وهذا مستحب في كل ذبيحة لكنه في الهدى والاضحية اشد استحبابا لان الاستقبال في العبادات مستحب وفي بعضها واجب وفي كيفية توجيهها ثلاثة أوجه حكاها الرافعي (أصحها) يوجه مذبحها إلى القبلة ولا يوجه وجهها ليمكنه هو ايضا الاستقبال

“(Disunnahkan) orang yang menyembelih untuk menghadap kiblat, dan hendaknya dia juga mengarahkan hewan qurban agar menghadap kiblat. Hal ini disunnahkan untuk semua sembelihan, tetapi khusus untuk hewan hadyu dan qurban lebih ditekankan lagi, karena menghadap kiblat dalam ibadah adalah dianjurkan, bahkan sebagiannya diwajibkan. Adapun cara menghadapkan hewan qurban ke arah qiblat ada tiga pendapat, yang paling benar adalah menghadapkan tempat disembelihnya  hewan tersebut (yaitu lehernya ) ke arah kiblat dan tidak menghadapkan wajah hewan tersebut, supaya penyembelihnya juga bisa menghadap kiblat."

Sehingga posisi yang tepat yaitu meletakkan kepala atau bagian atas hewan di arah selatan dan bagian belakang hewan di arah utara. Sedangkan kaki, perut, leher dan kepala menghadap ke arah kiblat (barat laut). Ini khusus untuk wilayah Indonesia dan sekitarnya.

9⃣ Kesembilan: Membaringkan Hewan di Atas Lambung Sebelah Kiri.

Dianjurkan ketika menyembelih hewan qurban untuk membaringkannya di atas lambung kiri hewan tersebut. Hal itu akan memudahkan di dalam proses penyembelihan.  

💡 Berkata Syekh Zakariya al-Anshari di dalam Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhi ath-Thalib (1/541):

على جَنْبِهَا الْأَيْسَرِلِأَنَّهُ أَسْهَلُ على الذَّابِحِ في أَخْذِ السِّكِّينِ بِالْيَمِينِ وَإِمْسَاكِ رَأْسِهَا بِالْيَسَارِ

"Hendaknya hewan qurban dibaringkan di atas lambung kiri, karena hal itu lebih mudah bagi penyembelih untuk memegang pisau dengan tangan kanan, dan memegang  kepala hewan dengan tangan kiri."

1⃣0⃣ Kesepuluh: Sebagian Ulama Menganjurkan agar Membiarkan Kaki Kanan Bergerak

Sehingga hewan lebih leluasa dan nyaman. 

💡 Berkata Imam an-Nawawi di dalam Raudhatu ath-Thalibin (3/207)

وتترك رجلها اليمنى وتشد قوائمها الثلاث

“Hendaknya kaki kanannya dibiarkan, sedangkan tiga kaki yang lainnya diikat (dipegang)."

1⃣1⃣ Kesebelas: Menginjakkan Kaki di Bagian Samping Hewan

Dianjurkan untuk menginjakkan kaki di bagian  samping hewan.

💡 Sebagaimana disebutkan dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

    ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di bagian samping kambing." (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966 )

1⃣2⃣ Keduabelas: Menyebut Nama Allah dan Membaca Takbir

🍁 Menyebut nama Allah dengan mengucapkan: Bismillah ketika menyembelih hukumnya wajib menurut mayoritas ulama.

💡 Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala

          وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..

"Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (Qs. al-An’am: 121)

💡 Ini dikuatkan dengan hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

    ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing.“ (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966)

💡 Ini dikuatkan juga dengan hadist Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menyembelih hewan qurban beliau berdo’a,

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” (HR. Muslim, 1967)

💡 Berkata Abdullah al-Bassam di dalam Taudhih al-Ahkam (4/367): “Yang disyariatkan ketika menyembelih adalah mencukupkan membaca “Bismillah“, karena menyebutkan sifat ar-Rahman (Maha Pengasih dan Penyayang) tidak tepat untuk saat penyembelihan yang membutuhkan kekuatan dan penumpahan darah."

🍁 Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah ini berdasarkan firman Allah:

          كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

_“Demikianlah Kami menundukkannya (binatang qurban) tersebut untuk kalian, agar kalian bertakbir (mengagungkan nama Allah) atas hidayah yang diberikan kepada kalian,dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Qs. al-Hajj: 37)

💡 Ini dikuatkan oleh hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

           ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing." (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966)

1⃣3⃣ Ketigabelas:  Setelah itu dianjurkan juga untuk membaca, “Allahumma hadza minka wa laka.”

(Ya Allah qurban ini Ini dari-Mu dan untuk-Mu) maksudnya: bahwa hewan ini adalah rezeki yang Engkau berikan kepadaku, maka sekarang saya qurbankan untuk mendekatkan diri kepada-Mu, ini saya lakukan hanya mencari ridha-Mu, bukan karena riya’ dan pamer.  

💡 Ini sesuai dengan hadist Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:

          أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ يَوْمَ الْعِيدِ كَبْشَيْنِ ثُمَّ قَالَ حِينَ وَجَّهَهُمَا إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ

“Bahwa Rasulullah  menyembelih dua domba pada hari ‘Ied Adha, kemudian berdoa setelah menghadapkannya ke kiblat, 'Saya hadapkan wajahku kepada Yang Menciptakan langit-langit dan bumi secara lurus dan pasrah, dan saya bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu dari Muhammad dan umat-nya' “ (HR. Ahmad, 15022 dan Ibnu Huzaimah 2899. Berkata Syekh Mushthofa al-A’dhami: sanadnya shahih)

1⃣4⃣ Keempatbelas: Menyebut Nama yang berQurban

Pada Saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang berqurban atau yang diwakilinya, seperti perkataan: "Hadza min Muhammadin wa min Ali Muhammad" (Qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad).

💡 Ini sesuai dengan hadist Aisyah  radhiyallahu ‘anha  yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing untuk diri beliau, keluarga dan seluruh umatnya. Sebelum menyembelih beliau berdo’a,

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ »

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan  dari umat Muhammad.” (HR. Muslim 1967)

1⃣5⃣ Kelimabelas: Mempercepat dan Memperkuat Penyembelihan

Dianjurkan untuk menyembelih dengan cepat dan kuat, agar hewan qurban segera mati dan hal itu akan meringankan sakit hewan kurban.

(Bersambung...)

Wallahu A'lam


SEPUTAR QURBAN (14) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 1

Seri Seputar Qurban (14)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

📝 ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 1

Ada beberapa adab dan tata cara yang harus diperhatikan setiap yang ingin berqurban dan menyembelih hewan qurban supaya ibadah qurbannya sesuai dengan tuntunan Islam. 

Diantara adab-adab dan tata cara tersebut adalah sebagai berikut:

1⃣ Pertama: Berniat Qurban (Ketika Membeli Hewan Ternak)

Ketika membeli hewan hendaknya diniatkankan bahwa dia membelinya untuk berqurban. Hal itu karena berqurban adalah bagian dari ibadah dan ibadah tidak sah kecuali dengan niat.

2⃣ Kedua: Mengikat Hewan Sebelum Disembelih

Sebagian ulama menganjurkan agar hewan qurban diikat dulu di suatu tempat beberapa hari sebelum disembelih, karena itu menunjukkan persiapan dan kesungguhan bahwa dia benar-benar ingin menyembelih hewan qurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Hal ini termasuk dalam katagori mengagungkan syiar Islam, sebagaimana firman Allah,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”  (Qs. al-Hajj: 32)

3⃣ Ketiga: Menggiring Hewan Qurban ke Tempat Penyembelihan dengan Baik

Disunnahkan sebelum menyembelih untuk menggiring hewan qurban ke tempat penyembelihan dengan baik dan pelan, dan tidak boleh dengan cara kasar dan menyakiti hewan.

فقد روى عبد الرزاق بسنده عن محمد بن سيرين قال رأى عمر بن الخطاب – رضي الله عنه - رجلاً يسحب شاة برجلها ليذبحها فقال له : ويلك ! قدها إلى الموت قوداً جميلاً

💡 Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Ibnu Sirin yang berkata Umar radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang menyeret kambing dengan menarik kakinya dengan tujuan untuk disembelih, maka Umar berkata kepadanya: “Celaka kamu,  giring hewan ini menuju kematian dengan cara yang baik." (AR. Abdurrazaq di dalam al-Mushannaf 4/493, al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra 9/281) 

4⃣ Kempat: Hendaknya Menyembelih dengan Tangannya Sendiri

 Disunnahkan yang ingin berqurban hendaknya menyembelihnya dengan tangannya sendiri jika dia mampu. 

💡 Sebagaimana di dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata,

 ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas kening kambing.“ (HR. al-Bukhari 5558 dan Muslim 1966)

💡 Diriwayatkan juga dari hadits Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih 63 unta dengan tangannya sendiri, kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib untuk disembelihnya.

💡 Disebutkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya bahwa Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih hewan qurban dengan tangan mereka sendiri. (Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari (12/114-115) mengatakan bahwa al-Hakim di dalam al- Mustadrak meriwayatkan yang serupa dengan sanad yang bersambung) 

 5⃣ Kelima: Jika Dia Tidak Mampu Menyembelih Sendiri

Maka dianjurkan untuk datang ikut menyaksikan ritual penyembelihan hewan qurban tersebut.

💡 Ini berdasarkan hadist Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah,

قومي إلى أضحيتك فاشهديها فانه بأول قطرة من دمها يغفر لك ما سلف من ذنبك

“Wahai Aisyah berdirilah dan saksikan hewan qurbanmu, sesungguhnya dengan darah pertama yang jatuh dari hewan qurban tadi, maka akan diampuni dosamu yang telah berlalu.“ (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak (4/247, no. 7525) beliau berkata: "Hadist ini sanadnya shahih." Dan diriwayatkan juga oleh Abi Hatim di dalam al-‘Ilal  (2/38, no. 1596) beliau berkata: "Saya mendengar bapak-ku mengatakan bahwa hadist ini adalah hadits mungkar." Dan diriwayatkan oleh al-Haitsami di dalam al-Majma’ (4/17), beliau berkata: “Hadist ini diriwayatkan oleh al-Bazzar 1202 di dalamnya terdapat ‘Athiyah bin Qais banyak diperbincangkan dan sudah ditsiqahkan)

Sebagaimana dalam keterangan di atas bahwa hadist ini diperselisihkan oleh ulama hadist tentang keshahihannya, tetapi walaupun demikian, sebagian ulama menyebutkan hadist ini di dalam buku mereka sebagai penguat tentang dianjurkannya orang yang berqurban untuk menyaksikan qurbannya saat disembelih, diantaranya Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/117), Syekh Sayyid Sabiq di dalam Fiqh as-Sunnah (3/324) dan Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam di dalam Taudhih al-Ahkam min Bulughu al-Maram (4/367).

6⃣ Keenam: Dianjurkan Ketika Menyembelih untuk Menggunakan Pisau Tajam

Karena itu bisa mempercepat kematian hewan qurban. Ini termasuk berbuat baik kepada hewan qurban. 

💡 Sebagaimana di dalam hadist Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

          إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan baik, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan baik.  Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

💡 Ini dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa,

      أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ لِيُضَحِّيَ بِهِ, فَقَالَ: اِشْحَذِي اَلْمُدْيَةَ , ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ, وَقَالَ: بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ

"Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang (berwarna putih) tapi kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada Aisyah, "Wahai Aisyah, ambillah pisau, dan asahlah dengan batu". Setelah itu beliau mengambil pisau dan membaringkan kambing, dan menyembelihnya seraya berdo’a "Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." (HR. Muslim, 1967)

7⃣ Ketujuhi: Hendaknya Tidak Mengasah Pisau di Hadapan Hewan Qurban.

Karena hal itu akan menyebabkan hewan tersebut ketakutan dan stress sebelum disembelih.

💡 Hal ini sesuai dengan hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata:

          أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, dan untuk tidak memperlihatkan pisau tersebut kepada hewan.” (HR. Ahmad 5830, Ibnu Majah 3172)

(Bersambung...)

Wallahu A'lam


SEPUTAR QURBAN (13) WAKTU & TEMPAT PENYEMBELIHAN

Seri Seputar Fiqh Qurban (13)

📝 WAKTU & TEMPAT PENYEMBELIHAN

🏷 WAKTU PENYEMBELIHAN

Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar pada hari ‘Iedul Adha. 

💡Dalilnya adalah hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri.  Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari (5546) dan Muslim (1962))

Setelah kesepakatan tersebut, para ulama berbeda pendapat tentang awal dan akhir waktu menyembelih.

📌 Pendapat Pertama

Waktu penyembelihan dimulai setelah terbit matahari dan berlalu waktu sholat dan dua khutbah ‘Ied. Ini adalah pendapat Madzhab asy-Syafi’i. (An-Nawawi, al-Maj’mu’ (8/387), Abu Bakar al-Husani, Kifayatu al-Akhyar, hlm: 700)

💡Disebutkan di dalam matan Abi Syuja’ (hlm.104): 

ووقت الذبح من وقت صلاة العيد إلى غروب الشمس من آخر آيام التشريق

“Adapun waktu penyembelihan (qurban) dimulai semenjak waktu shalat ‘Idul Adha hingga tenggelamnya matahari dari akhir hari Tasyriq .“

Adapun dalil akhir waktu penyembelihan adalah hadist Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كل ايام التشريق ذبح

“Setiap hari Tasyriq adalah waktu penyembelihan." (Berkata an-Nawawi dalam al-Majmu’ (8/387): Hadist Jubair bin Muth’im diriwayatkan al-Baihaqi dari beberapa jalur, dan dia berkata: hadist ini mursal) 

Diantara dua waktu tersebut dibolehkan menyembelih waktu siang, adapun untuk malam dimakruhkan untuk menyembelih di dalamnya.

Jika terlewat waktu akhir penyembelihan sedang dia belum menyembelih, jika qurbannya sunnah maka tidak perlu menggantikan atau mengqadha’ karena setelah itu bukanlah waktu untuk menyembelih hewan qurban. 

Tetapi jika qurbannya wajib (karena bernadzar), maka dia harus menyembelih qurban sebagai pengganti nadzarnya.

📌 Pendapat Kedua

Bagi orang desa waktu penyembelihannya dimulai setelah terbit fajar hari Iedul Adha, adapun untuk orang-orang kota waktunya dimulai setelah Imam melaksanakan sholat dan berkhutbah. Ini pendapat Abu Hanifah

📌 Pendapat Ketiga

Tidak sah menyembelih hewan qurban sebelum Imam melaksanakan shalat dan berkhutbah. Ini pendapat Malik dan Ahmad.

🏷 TEMPAT PENYEMBELIHAN

Tidak ada tempat khusus untuk menyembelih hewan qurban, maka di manapun seseorang menyembelih hewan qurbannya, maka dinyatakan sah.

Hanya saja disunnahkan di tempat lapang, terutama tempat di mana masyarakat melakukan shalat Idul Adha. 

Khusus pemimpin, tokoh masyarakat maupun imam shalat sebaiknya menyembelih qurban di tempat umum, agar masyarakat mengetahui kapan mulainya waktu penyembelihan hewan qurban, jenis-jenis hewan qurban, dan bagaimana cara menyembelihnya. 

💡 Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan unta untuk qurban di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari, 5552)


Wallahu A'lam.

✒ DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

SEPUTAR QURBAN (12) HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 2

Seri Seputar Fiqh Qurban (12)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

📝 HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 2

🏷 Ketiga: Adapun dari sisi warna, maka yang paling utama adalah warna putih, kemudian putih yang bercampur, kemudian hitam.

💡Dalilnya adalah hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing." (HR. al-Bukhari (5558) dan Muslim (1966))

📌 Al-Amlah artinya yang warna putihnya lebih banyak dari warna hitam.

📌 Shi-haf: arah depan dan samping dari segala sesuatu. Yang dimaksud di sini adalah sisi samping hewan qurban. 

💡Ini dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa:

أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ لِيُضَحِّيَ بِهِ, فَقَالَ: اِشْحَذِي اَلْمُدْيَةَ , ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ, وَقَالَ: بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ )

"Bahwa Rasulullah menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang (berwarna putih) tapi kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau. 
Beliau bersabda kepada Aisyah, "Wahai Aisyah, ambillah pisau, dan asahlah dengan batu." 
Setelah itu beliau mengambil pisau dan membaringkan kambing, dan menyembelihnya seraya berdo’a, "Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." (HR. Muslim (1967))

💡Berkata Ibnu Abbas: "Memperbesar dan membaguskan hewan qurban adalah sunnah, adapun warna putih itu lebih baik."

💡Berkata Abu Hurairah: "Darah hewan qurban yang berwarna putih lebih utama dari darah hewan qurban yang berwarna hitam." (Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/ 396): "Adapun Atsar Abu Hurairah  di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi secara mauquf.")  

🏷 Keempat: Hewan Qurban jantan lebih baik dari yang betina, karena dagingnya lebih banyak dan lebih baik. Begitu juga hewan jantan biasanya lebih mahal harganya.

💡Disebutkan di dalam Hasyiah al-Bujairmi ‘ala al-Khatib (13/216):

التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ أَفْضَلُ عَلَى الْأَصَحِّ الْمَنْصُوصِ لِأَنَّ لَحْمَهُ أَطْيَبُ
"Berqurban dengan hewan jantan lebih utama menurut pendapat yang benar yang tertulis (di dalam madzhab) karena dagingnya lebih baik."

🏷 Kelima: Qurban dengan satu kambing lebih baik dari qurban dengan iuran satu sapi. 

💡Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/ 396):

التضحية بشاة أفضل من المشاركة بسبع بدنة أو بسبع بقرة بالاتفاق

"Berqurban dengan satu kambing lebih utama dari berqurban dengan bersyarikat tujuh orang dengan satu unta atau satu sapi. Ini menurut kesepakatan (dalam madzhab Syafi’i)."

Alasannya:
▪ bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua kambing utuh. 
▪ Selain itu bahwa ibadah penyembelihan (dengan satu kambing) terulang sampai tujuh kali. 
▪ Berbeda dengan tujuh orang yang bersyarikat  dengan satu sapi, penyembelihannya hanya dilakukan sekali saja.

Wallahu A'lam.


Selasa, 28 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (11) HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 1

Seri Seputar Fiqh Qurban (11)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

📝 HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 1

Di dalam berqurban, hendaknya seorang muslim memilih hewan-hewan yang paling utama, karena pahalanya lebih besar. Diantara hewan-hewan yang diutamakan adalah sebagai berikut:

🏷 Pertama: yang Gemuk dan Besar

Dianjurkan hewan yang gemuk dan besar, karena tujuan dari berqurban itu adalah untuk dimakan dagingnya. Yang gemuk dan besar tentu dagingnya lebih banyak. 

💡Dalil keutamaannya adalah firman Allah,

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”  (Qs. al-Hajj: 32)

💡Ini dikuatkan dengan riwayat dari Abu Umamah bin Sahal, bahwa beliau berkata:

كُنَّا نُسَمِّنُ الْأُضْحِيَّةَ بِالْمَدِينَةِ وَكَانَ الْمُسْلِمُونَ يُسَمِّنُونَ

“Dulu kami menggemukkan hewan qurban ketika di Madinah, masyarakat muslim juga pada menggemukan binatang qurban.”  (disebutkan oleh al-Bukhari (5552) secara mu’allaq)

Menurut sebagian ulama bahwa hewan qurban yang  gemuk dan besar walaupun hanya satu ekor lebih utama dari hewan qurban yang kurus dan kecil walaupun jumlahnya lebih banyak. 

💡Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/396): 

يستحب التضحية بالاسمن الاكمل قال البغوي وغيره حتى أن التضحية بشاة سمينة أفضل من شاتين دونها قالوا وقد قال الشافعي رحمه الله استكثار القيمة في الاضحية أفضل من استكثار العدد

"Dianjurkan berqurban dengan hewan yang lebih gemuk dan sempurna. Berkata al-Baghawi dan yang lainnya: sampai-sampai berqurban dengan satu kambing yang gemuk lebih utama daripada berqurban dengan dua kambing yang lebih kurus darinya. Mereka berkata bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: memperhatikan kualitas hewan qurban lebih utama daripada memperbanyak jumlah hewan qurban."

🏷 Kedua: Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan qurban yang paling utama adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing.

💡Dalilnya adalah hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ »

“Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti ia mandi junub, kemudian berangkat ke masjid di awal waktu, maka ia seperti orang yang berqurban seekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kedua, maka ia seperti orang yang berqurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu ketiga, maka ia seperti orang yang berqurban seekor kambing yang memiliki tanduk. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu keempat, maka ia seperti orang yang berqurban seekor ayam. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kelima, maka ia seperti orang yang berqurban sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah Jum’ at)." (HR. al-Bukhari (881) dan Muslim (850))

💡Ini dikuatkan dengan hadist Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ الله ، أَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : أَغْلاَهَا ثَمَنًا وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا

“Wahai Rasulullah mana budak yang lebih utama untuk dimerdekakan? Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya." (HR. Bukhari (2518) dan Muslim (84))

💡Adapun Malikiyah berpendapat bahwa hewan qurban yang paling utama adalah kambing, kemudian sapi, kemudian unta. Ini kalau dilihat dari sisi kualitas dagingnya. Mereka berdalil bahwa Nabi Muhammad berqurban dengan dua kambing putih. 

Mereka juga berdalil dengan firman Allah,

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (Qs. ash-Shaffat: 107)

(bersambung...)

Wallahu A'lam.


SEPUTAR QURBAN (10) CACAT PADA HEWAN QURBAN

Seri Seputar Qurban (10)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

📝 CACAT PADA HEWAN QURBAN

Terkadang kita dapatkan hewan qurban mempunyai cacat, seperti buta, pincang, sakit, kurus, tanduknya patah dan lain-lainnya.

Apakah cacat-cacat tersebut mempengaruhi keabsahan berqurban?

Para ulama menjelaskan bahwa cacat yang terjadi pada hewan qurban dibagi menjadi 3 kelompok:

1⃣ Kelompok Pertama 
Cacat yang menyebabkan qurban tidak sah.

Tujuan berqurban, selain mendekatkan diri kepada Allah, adalah untuk dimakan dagingnya, jika sebagian dagingnya berkurang karena cacat, maka menyebabkan qurbannya tidak sah.

Kelompok pertama ini ada empat ciri, sebagaimana disebutkan di dalam hadist al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تُنْقِي

"Empat hal yang tidak boleh dijadikan hewan qurban, buta yang jelas kebutaannya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, kurus yang tidak punya daging." (Hadist Shahih, riwayat an-Nasai (4382), Ibnu Majah (3144), Ahmad (18667))      

🔹 Ciri Pertama: al-‘Aura’ (Buta Sebelah) dan jelas sekali kebutaannya. Jika buta semuanya  atau buta sama sekali (al-‘Umya’), maka jelas tidak sah untuk berqurban.

Tetapi jika butanya belum jelas, orang yang melihatnya menilai belum buta, meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.

🔹 Ciri Kedua: al-Maridhah (Sakit) dan tampak sekali sakitnya.

Jika hanya sakit ringan, maka boleh untuk dijadikan hewan qurban. Sakit keras mempunyai tanda-tanda yang jelas, seperti sangat kurus, atau dagingnya menjadi tidak enak, maka tidak sah untuk dijadikan qurban.

🔹 Ciri Ketiga: al-‘Arja’ (Pincang) dan tampak jelas pincangnya.

Pincang di sini maksudnya pincang yang menyebabkan hewan tersebut tidak bisa berjalan normal, sehingga selalu tertinggal ketika mencari rerumputan dan makanan, itu semua menyebabkan dia kurang makan sehingga  kurus dan  dagingnya berkurang.  Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik, maka boleh dijadikan hewan qurban.

Jika hewan tersebut kakinya putus atau patah, tentunya tidak sah untuk dijadikan hewan qurban.

🔹 Ciri Keempat: al-Hazilah (Sangat Kurus) sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Di dalam hadist di atas disebutkan (la tunqa) yaitu yang tidak punya naqyun (sumsum tulang), ada yang mengatakan tidak punya lemak.

2⃣ Kelompok Kedua 
Cacat yang dimakruhkan untuk dijadikan hewan qurban, tetapi tetap sah.

🔸 Ciri Pertama: Telinganya terputus, atau sebagiannya terputus.

Menurut madzhab Syafi’I hewan kurban yang terputus telinganya tidaklah sah untuk dijadikan qurban, sebagaimana disebutkan di dalam Kifayat al-Akhyar (hlm. 698):

لا تجزئ مقطوعة الأذن وكذا المقطوع أكثر أذنها بلا خلاف فإن كان يسيرا ففيه خلاف الأصح عدم الإجزاء لفوات جزء مأكول

"Tidak sah ( hewan Qurban ) yang terputus telinganya, atau terputus sebagian besar telinganya. Ini tidak terjadi perbedaan pendapat (di kalangan mazhab). Tetapi jika (yang terputus) hanya sedikit, maka terjadi perbedaan pendapat, yang lebih shahih bahwa hal itu tidak sah, karena sebagian dagingnya hilang."

🔸 Ciri Kedua: Tanduknya pecah atau patah.

Disebutkan di dalam matan Abi Syuja’ (hlm. 104):

ويجزئ الخصئ والمكسور القرن ولا تجزئ المقطوعة الأذن والذنب

“Sah qurban dengan hewan yang dikebiri dan patah tanduknya dan tidak sah yang terputus telinga dan ekornya. “

3⃣ Kelompok Ketiga 
Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban. Dan boleh dijadikan untuk qurban, namun kurang sempurna.

Diantara cacat dalam katagori ketiga ini adalah: 
▪ al- Hatma’ (yang tidak bergigi alias ompong) 
▪ al-Batra’ (ekornya terputus atau tidak punya ekor)
▪ al-Jad’a (tidak punya hidung)
▪ al-Khishhi (dikebiri/mandul) dan lain-lainnya. 

Wallahu A'lam.


SEPUTARS QURBAN (9) UMUR HEWAN QURBAN

Seri Seputar Fiqh Qurban (9)
Oleh :  DR. Ahmad Zain An-Najah,MA

📝 UMUR HEWAN QURBAN

Hewan yang dijadikan qurban harus memenuhi batas umur tertentu, sebagai syarat sahnya berqurban. 

Hal ini berdasarkan hadist Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَذْبَحُوا إِلاَّ مُسِنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا الْجَذَعَةَ مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (HR. Muslim, 1963)

💡 Al-Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian sebagai berikut: 
▪ Unta (5 tahun masuk 6 tahun)
▪ Sapi (2 tahun masuk 3 tahun)
▪ Kambing (1 tahun)

💡 Adapun  yang dimaksud Jadza’ dari domba para ulama masih berbeda pendapat di dalam mengartikannnya. Menurut pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i – sebagaimana yang dinukil an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (13/118) adalah domba yang berumur satu tahun, dan ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa Arab.

💡 Sebagian ulama berpendapat, sebagaimana di dalam Tamamu al-Minnah (2/416) bahwa  Jadza’ dari domba adalah hewan domba yang berumur 6 bulan. Sebagian lagi ada yang mengatakan Jadza' dari domba adalah hewan domba yang berumur 8 bulan.

💡 Berkata an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (13/117) mengomentari hadist di atas :

وأما الجذع من الضأن فمذهبنا ومذهب العلماء كافة يجزى سواء وجد غيره أم لا …قال الجمهور هذا الحديث محمول على الاستحباب والأفضل وتقديره يستحب لكم أن لاتذبحوا إلا مسنة فان عجزتم فجذعة ضأن وليس فيه تصريح بمنع جذعة الضأن وأنها لا تجزى بحال وقد أجمعت الأمة أنه ليس على ظاهره

“Adapun berqurban dengan domba  jadza  menurut madzhab kami (Syafi’iyah) dan madzhab seluruh ulama hukumnya sah, baik dia mendapatkan selainnya, atau tidak. ...Berkata mayoritas ulama bahwa hadist ini maksudnya adalah sesuatu yang dianjurkan dan yang lebih baik, jika diartikan sebagai berikut: “Dianjurkan bagi kalian untuk tidak berqurban kecuali dengan hewan ternak al-musinnah, jika kalian tidak mendapatkannya, maka bisa berqurban dengan domba  jadza.” Di dalam hadist ini tidak ada ketegasan tentang pelarangan berqurban dengan domba jadza, dan bahwa itu tidak sah. Dan para ulama sepakat hadist tersebut tidak diartikan secara zhahirnya saja.“

Sebagian ulama berpendapat bahwa Jadza' dari domba tidak boleh dijadikan qurban, kecuali bila tidak mendapatkan yang lainnya berdasarkan zhahir hadist di atas.

Wallahu A'lam.

Senin, 27 Juli 2020

Kuliah Umum IV - Ke Organisasian - Khutbatu-L-'Arsy Ponpes Ibnul Qoyyim Putra

    Di hari terakhir, Jum'at 24 Juli 2020, kuliah umum diisi oleh kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Ibnnul  Qoyyim Putra, Ustadz H. Dhimas Rhomaulian S.Pd. Pada hari ini Ustadz dimas diminta untuk memberikan materi dengan Tema Ke-Organisasian. Secara umum, ada dua organisasi santri di PPIQ yang beliau sampaikan, pertama  yaitu Organisasi setara OSIS, yaitu Organiasi Santri Ibnul Qoyyim (OSIQ), yang kedua adalah Praja Muda Karana (Pramuka). Di Pondok Ibnul Qoyyim yang menjadi pengurus organisasi adalah santri kelas 5, dengan masa jabatan selama 1 tahun. Ustadz Dimas memberikan penjelasan tentang berbagai hal tentang organisasi santri, seperti jajaran bagian-bagian yang ada di OSIQ beserta  fungsinya, seperti Bagian Bahasa, Bagian Keamanan, Bagian Olahraga dan Seni, dan lain-lain . Selain itu ustadz Dhimas juga menerangkan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh setiap bagian di Organisasi Santri.

(Ustadz Dhimas Rhomaulian S.Pd)

Silahkan klik link di bawah ini untuk menonton

https://www.youtube.com/watch?v=Zqj681DEpQ4&t=787s

Jazaakumullah Khairan.

Oleh: Muhammad Jundi Rabbani 


Masa Orientasi Santri Baru 2020, Khutbatul 'Arsy Daring

    Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra kembali mengadakan agenda rutin awal Tahun ajaran, yaitu Khutbatul ‘Arsy atau masa orientasi santri. Tujuan utama agenda ini adalah mengenalkan berbagai hal tentang pondok pesantren kepada santri baru.

    Namun tahun ini sedikit berbeda, santri belum bisa mengikuti kegiatan Khutbatul ‘Arsy secara langsung di Pondok. Seharusnya, apabila santri berada di Pondok, banyak rangkaian Khutbatul ‘Arsy yang akan diikuti, namun di kondisi pandemi ini, santri hanya mengikuti kegiatan Kuliah Umum. Kuliah umum dilakukan secara online, melalui laman Youtube “Ibnul Qoyyim Jogjakarta”, selama lima hari, dari tanggal 20 sampai dengan 24 Juli 2020






    Di hari pertama, Senin 20 Juli 2020, kuliah Umum diisi oleh Pimpinan PPIQ, KH. Rohadi Agus Salim Lc, S.Pd.I, dengan tema ke-pondokan. Berisi tentang sekelumit hal tentang Pondok Pesantren Ibnul Qoyim, mulai dari sejarah didirikannya, tokoh-tokoh pendiri, juga beberap peristiwa fenomenal seperti didirikannya unit kedua pada tahun 2001 yaitu unit pondok Putra. Di antara hal penting yang disampaikan oleh Pak Kiyai di hari pertama Khutbatul ‘Arsy daring adalah tentang tujuan utama para founding father ; Kiyai Matori Al-Huda dan KH. Raden Hisyam Syafi’ie mendirikan Pondok Ibnul Qoyyim. Tujuan utama itu adalah untuk mencetak da’i pedesaan. Mengapa demikian? Karena pada masa itu, Kiyai Matori Al-Huda selaku Ketua sebuah ormas (kini menjadi Yayasan) yang diberi nama Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia ,yang tidak lain merupakan yayasan yang menaungi PPIQ, menemukan permasalahan umat yang begitu pelik, yaitu minimnya da’i yang menyebarkan Islam di desa-desa di DIY. Bahkan salah satu persoalan yang menyedihkan adalah di beberapa desa belum pernah diadakan Khutbah Jum’at, alasannya karena tidak ada  da’i. Maka dari itulah para tokoh tersebut (semoga Allah memberi balasan Jannah Firdaus untuk mereka) mendirikan Pondok Ibnul Qoyyim untuk menyiapkan kader da’i yang akan berdakwah di desa-desa.



(KH. Rohadi Agus Salim Lc S.Pd.I)
Silhkan klik link dibawah ini untuk menonton

Oleh: Muhammad Jundi Rabbani

Menimbang antara Qurban atau Sodaqoh


حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وبقي في بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها . 5249


Imam Bukhori berkata: Abu 'Ashim meriwayatkan hadits kepada kami dari Yazid bin Abi Ubaid dari Salamah bin al-Akwa’ berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.


Para ulama, di antaranya adalah Imam Ahmad menyatakan bahwa menyembelih kurban lebih utama daripada mensedekahkan harganya.

Ibnul Qayyim berkata, “Menyembelih pada waktunya lebih utama daripada sedekah dengan harganya, sekalipun dengan jumlah sedekah yang lebih banyak daripada harga nominal Qurban. Mengingat bahwa penyembelihan dan mengalirkan darah adalah target dari peribadatan itu sendiri. Berkurban merupakan ibadah yang disandingkan dengan shalat.

Allah ta’ala berfirman,artinya, “Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dan Allah ta’ala berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Di setiap agama ada shalat dan penyembelihan yang tidak tergantikan dengan yang lain.

Di antara alasannya adalah :

1- Qurban adalah ibadah khusus yang diperintahkan di waktu yang khusus pula, sementara sedekah adalah ibadah umum yang tidak berpatok dengan waktu, bila sebuah ibadah sudah ditentukan di waktu tertentu, maka ia merupakan ibadah paling utama di waktunya, bukan ibadah umum.

2- Bahwa Qurban adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan amal kaum muslimin, seandainya sedekah harga lebih utama, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesekali akan meninggalkan qurban dan menggantinya dengan sedekah, tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan amalan yang kalah utama dengan amalan lain semenjak beliau tiba di Madinah sampai wafat.

3- Suatu kali kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertimpa paceklik, saat itu waktu qurban tiba, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah dengan harga qurban, sebaliknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kaum muslimin untuk menyembelih dan membagikan dagingnya kepada kaum muslimin.

Dalam ash-Shahihain dari Salamah bin al-Akwa’ berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.”

Dalam Shahih al-Bukhari Aisyah ditanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan daging kurban lebih dari tiga hari?” Dia menjawab, “Beliau tidak melakukannya kecuali di tahun di mana masyarakat sedang paceklik, beliau ingin orang kaya memberi makan orang miskin.”

4- Seandainya kaum muslimin menggantinya dengan sedekah, niscaya melenyapkan sebuah syiar agung dalam Islam yaitu qurban, syiar yang ditetapkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits, dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin dan beliau menamakannya sunnah kaum muslimin.
Berkurban pada saat idul Adha merupakan syiar agung umat islam di seluruh negeri, sehingga layak untuk diperlihatkan syiar ibadah ini di setiap tempat. Syiar agama yg berujud dzikir, penyembelihan kurban dan menyelisihi tata cara kaum musyrik dalam berkurban, dimana syiar ini tidak terlihat kalau dilaksanakan dengan cara sedekah atau ibadah lain.

https://www.alukah.net/spotlight/0/92227/

Kamis, 23 Juli 2020

TAFSIR SURAT ASH SHAFFAT 99-107


Tafsir QS Ash Shaffat 99-107

PESAN SINGKAT DIREKTUR PPIQ PUTRA

Berikut pesan singkat Direktur Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra
Ustad H. Purwadi Pangestutiyas, S.Pd.

Kuliah Umum IV - Yayasan PDHI - Khutbatu-L-'Arsy Ponpes Ibnul Qoyyim Putra

Kuliah Umum IV - Yayasan PDHI - Khutbatu-L-'Arsy Ponpes Ibnul Qoyyim Putra
Bersama Ustad Drs. H. Djuanda YHS
Sekretaris Yayasan PDHI


    Di hari ke empat, Kamis, 23 Juli 2020, kuliah umum diisi oleh pengurus Yayasan Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia, Ustadz. Drs. H. Juanda YHS. Beliau saat ini diberi amanah sebagai Sekretaris Yayasan PDHI. Pada kesempatan kali ini, Ustadz Juanda berbicara tentang hubungan erat Yayasan PDHI dengan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra. Yayasan PDHI adalah yayasan yang sejak awal menaungi Pondok Ibnul Qoyyim, pendiri nya adalah pendiri Pondok Ibnul Qoyyim itu sendiri. Sebagai gambaran, setiap ada kebijakan besar di Pondok Ibnul Qoyyim, pasti dilakukan berdasarkan persetujuan dari Yayasan PDHI. Beliau juga berbicara banyak tentang berbagai lembaga yang telah didirikan oleh PDHI, mulai dari lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, masjid, panti asuhan, dll. Ustadz Juanda juga mengingatkan kita bahwa PDHI telah banyak berkontribusi untuk ummat di Yogyakarta.

(Ustadz Drs. H. Juanda YHS)

Oleh: Muhammad Jundi Rabbani

Kuliah Umum III - Kepengasuhan Santri - Khutbatu-L-'Arsy Ponpes Ibnul Qoyyim Putra

Kuliah Umum III - Kepengasuhan Santri - Khutbatu-L-'Arsy Ponpes Ibnul Qoyyim Putra
Bersama Ustad M. Fajar Nur Rahmat, Lc

    Pada hari ketiga, Rabu 22 Juli 2020, kuliah umum diisi oleh Ustadz Muhamad Fajar Nur Rachmat Lc, beliau adalah alumni PPIQ tahun 2013, yang saat ini mengemban amanah sebagai kepala Pengasuhan Pondok Putra. Pada kesempatan ini Ustadz Fajar berbicara seputar kepengasuhan santri. Sebagai gambaran, di Pondok santri akan diberi bimbingan oleh para pengurus selama 24 jam. Separuh waktu mereka berada dalam bimbingan para Ustadz dan Ustadzah di Madrasah, dan separuh waktunya santri akan dibimbing dan dibina oleh para ustadz yang mengabdi di dalam pesantren.

Dalam pengasuhan di pondok, santri diajarkan  untuk hidup mandiri, mandiri dalam segala hal, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dengan tetap dalam pengawasan para asatid. Santri juga akan dibina kemandirian nya dalam beribadah, sholat lima waktu wajib dilakukan di Masjid, dan berangkat ke masjid tepat waktu.

Pada kuliah umum ini, Ustadz Fajar banyak bercerita tentang pengalaman di Pondok, baik pengalaman pribadi juga pengalaman para alumni yang sukses menjalankan pendidikan di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra.

(Ustadz Muhammad Fajar Nur Rachmat Lc)

Oleh: Muhammad Jundi Rabbani

Hikmah larangan memotong rambut dan kuku

Oleh: Ustad H. Saefuddin, Lc
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

 قال صلى الله عليه وسلم: ( إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضّحي، فليمسك عن شعره وأظفاره ) وفي رواية ( فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي ).
رواه مسلم

“Jika kalian melihat hilal Dzul Hijjah, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaklah menahan diri (tidak memotong) rambut dan kuku-kukunya”. Dalam redaksi yang lain: “Jika sepuluh hari awal Dzul Hijjah sudah masuk, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaknya tidak menyentuh (memotong) rambut dan bulu tubuhnya sedikitpun” (HR. Muslim)

Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah dari tidak mencukur rambut dan memotong kuku adalah agar seluruh bagian tubuh itu tetap mendapatkan kekebalan dari api neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudnya biar ada kemiripan dengan jamaah haji yang sedang berihram. 

 { { إن تقرضوا الله قرضاً حسناً يضاعفه لكم ويغفر لكم والله شكور حليم } } [التغابن: 17] 

Kurban adalah sedekahnya seorang muslim. Dalam beberapa ayat, ia dibahasakan sebagai investasi akherat kita, sebagaimana ayat di atas. Jika ditunaikan sesuai syarat dan ketentuan syariat, maka Allah akan memberi keuntungan berlipat serta dijanjikan ampunan-Nya.

Dalam sebuah riwayat, setiap organ tubuh hewan kurban akan membebaskan anggota tubuh mudhohhinya. Sampai-sampai rambut dan kukunya pun tidak luput.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita tidak memotongnya, baik dari tubuh kita maupun hewan yang akan dikurbankan.

Larangan ini berlaku sejak awal bulan DzulhijjahsDzulhijjah hewan kurban disembelih. Berharap, semakin banyak anggota tubuh kita yang selamat dari neraka.

Wallohu ta'ala a'lam..

Rabu, 22 Juli 2020

Merasakan Keajaiban InsyaAllaah




Oleh: Ustad Majid Tholabiddin, S.Pd.I
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

Ucapan Insya Allah adalah ucapan yang telah menjadi kebiasaan diantara kaum muslimin. Tapi tahukah kita, kalimat Insya Allah bukanlah kalimat biasa. Ucapan ini adalah perintah Allah didalam Al-Qur’an.

Sebagai seorang yang beriman, kita dilarang untuk mengucapkan “Aku akan melakukan ini besok !” tapi Allah Mengajarkan kita untuk menyisipkan kata Insya Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً – إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS.Al-Kahfi:23-24)

Seakan kita akan berkata “Aku ingin melakukannya, tapi aku tak mampu melakukan sesuatu tanpa Kehendak-Nya.”

Selain itu, kata Insya Allah juga menjadi pegangan para nabi dalam kehidupan mereka, seperti :

Ketika Nabi Ismail as hendak disembelih oleh ayahnya atas perintah Allah, ia pun berkata

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS.Ash-Shaffat:102)

Ketika Nabi Yusuf as memerintahkan saudara serta ayahnya untuk masuk ke Mesir,

وَقَالَ ادْخُلُواْ مِصْرَ إِن شَاء اللّهُ آمِنِينَ

(Yusuf) berkata “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS.Yusuf:99)

Ketika Nabi Syuaib as ingin menikahkan putrinya dengan Nabi Musa as, beliau berkata kepada Musa,

سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (QS.Al-Qashas:27)

Ketika Nabi Musa as akan berguru kepada Nabi Khidir as,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً

Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS.Al-Kahfi:69)

Dan pada hakikatnya, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas Kehendak-Nya. Bahkan Allah Menyebutkan hal ini sebanyak dua kali dalam Al-Qur’an,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS.Al-Insaan:30)

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila Dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS.At-Takwir:29)

Oleh karena itu, mari kita biasakan untuk menyebut Insya Allah dalam setiap rencana yang akan kita lakukan. Karena, InsyaAllaah akan ada keajaiban-keajaiban dari apa yang akan kita lakukan dan dapatkan.. aamiin ya Rabbal Aalamiin..

Semoga Bermanfaat !