Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Sabtu, 19 September 2020

Kisah Yang Membuat Merinding

 Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah, beliau berkata:


Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

"Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?"


Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, "Kalau ini bukan tuhan yang patut disembah."


Dia pun berkata, "Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?" Kami menjawab, "Kami menyembah Allah."


Dia menjawab, "Apa itu Allah." Kami mengatakan, "Allah adalah Rabb yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, baik yang hidup ataupun yang mati."


"Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?" Tanya dia. Kami menjawab, "Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami."


"Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?" Tanyanya. Kami menjawab, "Beliau menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya."


"Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?" Tanyanya. "Ya." Jawab kami.

"Apa yang dia tinggalkan?" Tanyanya lagi. Kami menjawab, "Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kitab suci dari Rabb Yang Maha Memiliki."


"Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu." Pintanya.

"Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus." Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur'an. Dia berkata, "Aku tidak tahu apa ini."


Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur'an. Ketika kami sedang membacanya tiba-tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.


Dia berkata, "Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati."

Kemudian dia masuk Islam, lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur'an kepadanya.


Lalu kami pun membawanya ke kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, "Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku, apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?"


Kami menjawab, "Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri sendiri dan Maha Agung yang tidak pernah tidur."

Dia mengatakan, "Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur."

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.


Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, "Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita."

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata "Untuk apa ini?"

Kami berkata, "Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu."


Dia menjawab, "Laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)?"


Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat. [At-Tawwaabun, Ibnu Qudamah rahimahullah: 179]

=================================

Ust Manazil Billah


Jumat, 18 September 2020

BENCANA DAN DOSA

Sungguh sangat disayangkan, masih ada pihak yang mengingkari korelasi antara dosa dan bencana. Bahkan, mereka mempropagandakan bahwa bencana adalah murni peristiwa alam dan tidak ada sangkut pautnya dengan dosa. Gempa, misalnya. Mereka menganggap bahwa gempa hanyalah peristiwa bergesernya lempengan bumi, seraya mengatakan, “Jangan kaitkan gempa dengan dosa.” Subhanallah.

Mari kita perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala, Cermati kembali tafsirnya. Dengan jelas Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu).” (asy-Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkan ayat di atas, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa musibah apa pun yang menerpa seorang hamba, baik menimpa badan, harta, anak-anaknya, atau menimpa segala yang dia cintai dan berharga; semua itu disebabkan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Bahkan, dosa-dosa yang Allah subhanahu wa ta’ala ampuni lebih banyak (daripada yang dibalas/dihukum). Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan hlm. 759)

Setelh membaca ayat dan tafsir di atas, pantaskah seseorang menyatakan, “Jangan kaitkan musibah dengan dosa”?

Mari kita baca kembali sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dengan jelas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa merebaknya wabah penyakit adalah akibat dari fahisyah yang menyebar dan dilakukan secara terang-terangan.

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 3262)

Setelah memahami kembali hadits di atas, patutkah seseorang menyatakan, “Jangan kaitkan wabah penyakit dengan dosa”?

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bertutur,

وَاللهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتَّى يُعَذِّبَكُمُ اللهُ، أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللهِ، وَتُحَدِّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

Demi Allah! Aku tidak melihat kalian akan berhenti, hingga Allah subhanahu wa ta’ala mengazab kalian. Yang demikian disebabkan ketika aku mengatakan “Rasulullah bersabda demikian”, kalian justru mengatakan kepada kami, “Abu Bakar dan Umar berkata demikian.” (Lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih no. 2377)

Adalah tidak pantas bagi seorang mukmin, apabila sampai kepadanya ayat Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Rasul-Nya, kemudian dia malah memiliki pendapat sendiri yang bertentangan dengan ayat dan hadits. Apakah demikian sikap seorang mukmin?

Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Di dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan bahwa bencana adalah akibat dari dosa. Oleh karena itu, bertobat dan kembali kepada Allah, serta tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, adalah solusi supaya Allah subhanahu wata’ala berkenan mengangkat bencana tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Ketika datang bencana yang Kami timpakan kepada mereka, mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri? Hati mereka justru telah menjadi keras, dan setan pun menghias-hiasi kepada mereka seolah apa yang mereka kerjakan adalah baik.” (al-An’am: 43)

Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan bahwa apabila Dia menimpakan suatu hukuman, kemudian mereka mau tunduk merendahkan diri dan beriman kepada-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat bencana tersebut. (Lihat Tafsir al-Baghawi atau yang dikenal dengan Ma’alim at-Tanzil 3/143)

Wallahu a’lam bish-shawab.

===============================

Sumber : Telegram Fiqih Learning Center

WANITA MASUK SURGA DARI PINTU MANA SAJA

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dari zina, dan taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” [HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]

Al-'Allamah Ash-Shon'ani rahimahullah berkata,

لأن هذه الخلال أمهات أفعال الخير وأسباب دخول الجنة فإذا وفيت بها وقيت شر ما عداها

"Karena empat perkara dalam hadits ini adalah induk amalan-amalan baik dan sebab-sebab masuk surga, apabila seorang wanita mengamalkannya dengan baik maka ia akan terpelihara dari kejelekan." [At-Tanwir, 2/121]


BEBERAPA PELAJARAN

1. Keutamaan sholat lima waktu dan puasa Ramadhan yang merupakan bagian dari rukun Islam, dan kaum wanita ditekankan secara khusus untuk memperhatikan sholat dan puasa karena banyak wanita yang meremehkan kedua ibadah tersebut.


2. Keutamaan wanita yang menjaga kesucian diri dari perbuatan zina.


3. Kewajiban menjauhi perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepada zina, diantaranya membuka komunikasi yang tidak penting antara lawan jenis, baik di dunia nyata maupun dunia maya; berpacaran yang terselubung maupun yang terang-terangan.


4. Kewajiban atas seorang istri untuk selalu menaati suami dalam perkara apa pun, selama bukan maksiat kepada Allah ta’ala, dan bahwa itu adalah kemuliaan bagi seorang wanita, bukan kelemahan.


5. Luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala bagi seorang wanita shalihah.

Kamis, 17 September 2020

KEWAJIBAN DAN KEUTAMAAN TAUBAT DAN ISTIGHFAR

Allah ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Nuh 'alaihissalaam,


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً


“Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan melimpah, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]


Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang ucapan Nabi Hud 'alaihissalaam,


وَيَٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡاْ مُجۡرِمِينَ 


"Dan (Hud berkata): Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat melimpah atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." [Hud: 52]


BEBERAPA PELAJARAN


1. Kewajiban taubat dan istighfar, memohon ampun kepada Allah ta’ala dari semua dosa.


Allah 'azza wa jalla juga berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ


“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” [At-Tahrim: 8]


Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ


“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari 100 kali.” [HR. Muslim dari Al-Agarr bin Yasar Al-Muzani radhiyallahu’anhu]


2. Taubat yang benar haruslah memenuhi enam syarat:

Pertama: Ikhlas karena Allah ta’ala.

Kedua: Segera meninggalkan dosa tersebut.

Ketiga: Menyesalinya.

Keempat: Bertekad tidak akan mengulanginya.

Kelima: Segera sebelum tertutup pintu taubat, yaitu sebelum ajal menjemput atau terbitnya matahari dari arah Barat.

Keenam: Jika dosa itu adalah kezaliman kepada orang lain seperti ghibah dan merampas harta maka wajib meminta maaf, atau meminta penghalalan dan atau mengembalikan haknya. Kecuali ghibah yang tidak diketahui oleh orang yang dighibahi maka cukup dengan mendoakannya.


3. Keutamaan taubat dan istighfar di dunia dan akhirat:

- Di dunia membuka pintu rezeki dan keturunan.

- Di akhirat mendapatkan ampunan dan rahmat.

- Bahkan taubat dan istighfar adalah solusi semua problema.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan sebuah atsar dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bahwa seseorang mengadukan kemarau panjang kepada Al-Hasan Al-Bashri, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kemiskinan, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kekeringan kebunnya, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kemandulan (tidak punya anak), maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Kemudian beliau membacakan kepada mereka ayat ini (Surat Nuh ayat 10-12).” [Fathul Baari, 11/98]

===============================

Ust. Sofyan