Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2020

SEPUTAR QURBAN (16) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN 3

Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

16 Keenambelas: Ketika Menyembelih Hingga Putus Empat Urat

Ketika menyembelih hendaknya dipastikan empat hal yang harus putus:

Pertama: Al-Hulqum

Tenggorokan/leher bagian atas adalah tempat saluran pernafasan. 

๐Ÿ“Œ Kedua: Al-Mari’

Kerongkongan/leher bagian bawah adalah tempat lalu lintas makanan dan minuman.

๐Ÿ“Œ Ketiga dan Keempat: Al-Wadjani 

Dua urat leher adalah dua urat tebal tempat mengalirnya darah, terletak di leher mengiringi al-Hulqum dan al-Mari’.

eempat urat ini disebut dengan empat urat al-Audaj.

Para ulama sepakat jika empat urat dari binatang yang disembelih tersebut sudah terputus, maka hukumnya halal dimakan. 

๐Ÿท Tetapi para ulama berbeda pendapat jika salah satu dari empat urat tersebut tidak terputus. 

Adapun rinciannya sebagai berikut:

๐Ÿ Pendapat Pertama

Mengatakan kalau salah satu dari empat urat tersebut  tidak putus, maka tidak sah untuk dimakan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dari keduanya .

๐Ÿ’ก Mereka berdalil dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa  beliau berkata,

ู†َู‡َู‰ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุนَู†ْ ุดَุฑِูŠุทَุฉِ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ، ูˆَู‡ِู‰َ ุงู„َّุชِู‰ ุชُุฐْุจَุญُ ูَูŠُู‚ْุทَุนُ ุงู„ْุฌِู„ْุฏُ ูˆَู„ุงَ ุชُูْุฑَู‰ ุงู„ุฃَูˆْุฏَุงุฌُ ุซُู…َّ ุชُุชْุฑَูƒُ ุญَุชَّู‰ ุชَู…ُูˆุชَ.

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memakan hasil sayatan syetan, yaitu binatang yang disembelih dengan cara memotong kulit, tetapi tidak memotong urat-urat di tenggorakan, kemudian dibiarkan sampai mati." (HR Abu Daud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, al-Hakim, di dalam sanadnya ada Amru bin Abdullah bin al-Aswar al-Yamani, berkata al-Mundziri: “Para ulama banyak yang mempemasalahkannya.” Berkata Syuaib al-Arnauth: Isnadnya lemah. Imam al-Hakim menshahihkan isnadnya dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi)   

Syarithatu asy-Syaithan adalah sayatan syetan. Maksudnya bahwa unta dan sejenisnya sering disayat di tenggorakannya dengan pisau, sehingga meninggalkan bekas sedikit, sebagaimana dalam sayatan bekam. Tetapi hal itu belum sampai memotong dua urat saluran darah, bahkan tidak ada darah yang mengalir sama sekali.

Ini adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah pada zaman dahulu, mereka mengerjakan hal itu karena mengikuti bisikan syetan, makanya perbuatan ini disebut dengan sayatan syetan, karena berasal dari bisikan syetan. 

๐Ÿ Pendapat Kedua 

Mengatakan cukup yang putus sebagian dari empat urat tersebut. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Imam Abu Hanifah,  Imam asy-Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad dalam riwayat lain. 

๐Ÿ’ก Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ู…َุง ุฃَู†ْู‡َุฑَ ุงู„ุฏَّู…َ ูˆَุฐُูƒِุฑَ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูَูƒُู„ُูˆู‡ُ

"Apa-apa (dari sembelihan) jika darahnya mengalir dan disebut nama Allah, maka makanlah oleh kalian." (HR. al'Bukhari dan Muslim) 

๐Ÿท Ulama yang mengatakan cukup putus sebagian dari empat urat di atas, berbeda pendapat juga diantara mereka tentang mana dari urat-urat tersebut yang harus terputus dan mana yang boleh tidak terputus ?

๐Ÿ Pertama: Putusnya Tiga Urat

๐Ÿ’ก Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa yang harus terputus adalah salah satu dari tiga urat tanpa ditentukan, seperti dua al-wadjan dan salah satu dari al-hulqum atau al-mari’, bisa juga satu al-wadjan, al-hulqum dan al-mari’.

Pendapat inilah yang lebih kuat, karena dengan terputus salah satu dari tiga di atas, maka darah akan cepat mengalir dan nyawa akan cepat melayang.

๐Ÿ’ก Abu Yusuf, salah satu sahabat Abu Hanifah berpendapat bahwa  yang terputus harus tiga al-hulqum, al-mari’ dan salah satu al-wadju.

๐Ÿ’ก Imam Malik dalam riwayat yang masyhur berpendapat bahwa yang terputus harus tiga yaitu: dua al-wadjan dan al-hulqum.  

๐Ÿ Kedua: Putus Dua Urat

๐Ÿ’ก Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang terputus cukup dua yaitu: al-hulqum dan al-mari’.

17. Ketujuhbelas: Tidak Boleh Menyembelih Sampai Putus Lehernya dengan Sengaja Tanpa ada Keperluan

Mayoritas ulama, termasuk di dalamnya Ibnu al-Qasim dari Malikiyah, berpendapat bahwa hal tersebut hukumnya makruh, tetapi dagingnya tetap halal, walaupun pelakunya melakukannya dengan sengaja.

Makruh, karena perbuatan tersebut termasuk menyiksa binatang dan perbuatan yang  berlebih-lebihan dan melampaui batas. Halal dagingnya, karena sembelihan tersebut telah memenuhi syarat-syarat penyembelihan. 

๐Ÿ’ก Di dalam Tabyin al-Haqaiq (5/292) disebutkan:

ู‚َุงู„َ ุงู„ْูƒَุฑْุฎِูŠُّ ูِูŠ ู…ُุฎْุชَุตَุฑِู‡ِ ูˆَู‚َุงู„َ ุฃَุจُูˆ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ุฅู†ْ ุถَุฑَุจَ ุนُู†ُู‚َ ุฌَุฒُูˆุฑٍ ุจِุณَูŠْูٍ ูَุฃَุจَุงู†َู‡َุง ูˆَุณَู…َّู‰ ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุถَุฑْุจًุง ู…ِู†ْ ู‚ِุจَู„ِ ุงู„ْุญُู„ْู‚ُูˆู…ِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠُุคْูƒَู„ُ ูˆَู‚َุฏْ ุฃَุณَุงุกَ

“Berkata al-Karkhi di dalam Mukhtasornya: “Dan berkata Abu Hanifah: “Jika seseorang menyabet leher unta dengan pedang  sampai putus, tetapi dia sudah membaca basmalah, maka jika dia menyabetnya dari arah tenggorakan, maka dagingnya boleh dimakan, tetapi pelakunya telah berbuat dosa"."

๐Ÿ’ก Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/44):

ูˆَู„َูˆْ ุถَุฑَุจَ ุนُู†ُู‚َู‡َุง ุจِุงู„ุณَูŠْูِ ูَุฃَุทَุงุฑَ ุฑَุฃْุณَู‡َุง ุญَู„ّุชْ ุจِุฐู„ِูƒَ ู†َุตّ ุนَู„ูŠْู‡ ุฃَุญْู…َุฏُ

“Seandainya seseorang menyabet leher binatang dengan pedang sampai terbang kepalanya, maka halal dagingnya. Hukum ini telah dinyatakan oleh Imam Ahmad."

Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

๐Ÿ’ก Pertama 

Riwayat al-Bukhari yang menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

ุฅِุฐَุง ู‚ُุทِุนَ ุงู„ุฑَุฃْุณُ ูَู„َุง ุจِุฃْุณَ

“Jika kepalanya terputus, maka tidaklah mengapa (untuk dimakan)."

๐Ÿ’ก Kedua

Di dalam Mushannaf Abdur-Razaq disebutkan:

ุนู† ุฌุนูุฑ ุนู† ุนูˆู ู‚ุงู„ ุถุฑุจ ุฑุฌู„ ุนู†ู‚ ุจุนูŠุฑ ุจุงู„ุณูŠู ูุฃุจุงู†ู‡ ูุณุฃู„ ุนู†ู‡ ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ ูู‚ุงู„ ุฐَูƒَุงุฉ ูˆَุญِูŠّุฉ

“Dari Ja’far dari Auf, dia berkata: “Seorang laki-laki menyabet leher unta dengan pedang, sampai terputus, kemudian hal itu ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menjawab: “Itu adalah penyembelihan (yang sah) dan hiyyah (mempercepat kematiannya)."

๐Ÿ’ก Ketiga 

Berkata Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari (9/642):

ุฃู†َّ ุฌَุฒَّุงุฑَุง ู„ِุฃَู†َุณ ุฐَุจَุญَ ุฏَุฌَุงุฌَุฉً ูุงุถุทَุฑَุจَุชْ ูุฐุจุญู‡َุง ู…ِู†ْ ู‚َูَุงู‡َุง ูุฃุทَุงุฑَ ุฑَุฃุณู‡ุง ูุฃุฑุงุฏُูˆุง ุทุฑุญَู‡ุง ูุฃู…َุฑู‡ُู…ْ ุฃู†ุณ ุจุฃูƒู„ู‡ุง    

“Bahwa para jagal yang dimiliki Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu suatu ketika dia menyembelih seekor ayam, tetapi ayam tersebut meronta-ronta, maka dia menyembelih dari tengkuknya sampai terbang kepalanya. Mereka ingin membuang ayam tersebut, tetapi justru Anas bin Malik menyuruh untuk memakannya.” (lihat juga Ibnu Hazm dalam al Muhalla: 6/129)

๐Ÿท Kesimpulan

๐Ÿ“Œ Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa menyembelih binatang sampai terputus kepalanya adalah perbuatan yang melampaui batas yang dilarang oleh Islam, karena masuk dalam katagori menyiksa binatang.

๐Ÿ“Œ Kalau hal itu dilakukan dengan sengaja, maka sebagian ulama mengharamkan dagingnya. Tetapi menurut pendapat mayoritas ulama bahwa dagingnya halal untuk dimakan, walaupun hal itu dilakukan dengan sengaja, karena masuk dalam katagori penyembelihan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Perbuatan maksiat pelakunya tidak serta merta menyebabkan daging binatang itu menjadi haram.

๐Ÿ’ก Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/44):

ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุฃู†ู‡ุง ู…ุจุงุญุฉ ู„ุฃู†ู‡ ุงุฌุชู…ุน ู‚ุทุน ู…ุง ุชุจู‚ู‰ ุงู„ุญูŠุงุฉ ู…ุนู‡ ู…ุน ุงู„ุฐุจุญ ูุฃุจูŠุญ ูƒู…ุง ุฐูƒุฑู†ุง ู…ุน ู‚ูˆู„ ู…ู† ุฐูƒุฑู†ุง ู‚ูˆู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ู…ู† ุบูŠุฑ ู…ุฎุงู„ู

 “Pendapat yang benar, bahwa hal itu adalah mubah (dibolehkan), karena (memukul kepala binatang dari tengkuk sampai terlepas kepalanya) terkumpul di dalamnya memotong sesuatu dari binatang yang masih hidup dan  penyembelihan, maka dibolehkan, sebagaimana telah kita sebutkan juga perkataan beberapa sahabat tanpa ada yang menentangnya."

๐Ÿ’ก Berkata Ibnu al-Mundzir:

ูˆู„ุง ุญุฌุฉ ู„ู…ู† ู…ู†ุน ุฃูƒู„ู‡ุง ؛ ู„ุฃู† ุงู„ู‚ูŠุงุณ ุฃู†ู‡ุง ุญู„ุงู„ ุจุนุฏ ุงู„ุฐูƒุงุฉ

"Tidak ada hujjah bagi yang melarang untuk memakannya (binatang yang disembelih sampai putus kepalanya), karena analoginya bahwa hal itu halal setelah selesai menyembelihnya." (Ibnu al-Bathal di dalam Syarh Shahih al-Bukhari: 5/426) 

Wallahu A'lam



Jumat, 31 Juli 2020

APABILA BERTEMU HARI RAYA DAN HARI JUM'AT

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ู‚َุฏِ ุงุฌْุชَู…َุนَ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ِูƒُู…ْ ู‡َุฐَุง ุนِูŠุฏَุงู†ِ، ูَู…َู†ْ ุดَุงุกَ ุฃَุฌْุฒَุฃَู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ، ูˆَุฅِู†َّุง ู…ُุฌَู…ِّุนُูˆู†َ

“Sungguh telah berkumpul di hari kalian ini dua hari raya, barangsiapa yang mau (sholat ‘ied) itu mencukupinya dari sholat Jum’at, dan kami sendiri akan tetap sholat Jum'at.” [HR. Abu Daud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 984]

Tabi’in yang Mulia ‘Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syaami rahimahullah berkata,

ุดَู‡ِุฏْุชُ ู…ُุนَุงูˆِูŠَุฉَ ุจْู†َ ุฃَุจِูŠ ุณُูْูŠَุงู†َ، ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุณْุฃَู„ُ ุฒَูŠْุฏَ ุจْู†َ ุฃَุฑْู‚َู…َ، ู‚َุงู„َ: ุฃَุดَู‡ِุฏْุชَ ู…َุนَ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุนِูŠุฏَูŠْู†ِ ุงุฌْุชَู…َุนَุง ูِูŠ ูŠَูˆْู…ٍ؟ ู‚َุงู„َ: ู†َุนَู…ْ، ู‚َุงู„َ: ูَูƒَูŠْูَ ุตَู†َุนَ؟ ู‚َุงู„َ: ุตَู„َّู‰ ุงู„ْุนِูŠุฏَ، ุซُู…َّ ุฑَุฎَّุตَ ูِูŠ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ، ูَู‚َุงู„َ: «ู…َู†ْ ุดَุงุกَ ุฃَู†ْ ูŠُุตَู„ِّูŠَ، ูَู„ْูŠُุตَู„ِّ»

“Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqom radhiyallahu’anhuma: Apakah engkau hadir bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika dua hari raya bersamaan dalam satu hari? Zaid bin Arqom menjawab: Ya. Mu’awiyah bertanya lagi: Apa yang beliau lakukan? Zaid bin Arqom menjawab: Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sholat ‘ied, kemudian beliau memberi keringanan dalam sholat Jum’at, beliau bersabda: Barangsiapa yang mau sholat Jum’at silakan sholat.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 981]

Disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ู…ู† ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ ูŠูˆู… ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฑุฎุต ู„ู‡ ููŠ ุชุฑูƒ ุงู„ุญุถูˆุฑ ู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฐู„ูƒ ุงู„ูŠูˆู… ุฅู„ุง ุงู„ุฅู…ุงู…، ููŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ ุฅู‚ุงู…ุชู‡ุง ุจู…ู† ูŠุญุถุฑ ู„ุตู„ุงุชู‡ุง ู…ู…ู† ู‚ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ ูˆุจู…ู† ู„ู… ูŠูƒู† ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ، ูุฅู† ู„ู… ูŠุญุถุฑ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุญุฏ ุณู‚ุท ูˆุฌูˆุจู‡ุง ุนู†ู‡ ูˆุตู„ู‰ ุธู‡ุฑุง

“Barangsiapa sholat ‘ied di hari Jum’at, maka ia mendapat keringanan untuk tidak ikut sholat Jum’at di hari itu.

Kecuali imam, wajib atas imam untuk mengadakan sholat Jum’at bersama dengan jama’ah yang mau melakukan sholat Jum’at, baik yang telah ikut sholat ‘ied maupun yang tidak ikut sholat ‘ied.

Apabila seseorang tidak ikut sholat Jum’at (karena telah sholat hari raya) maka tidak wajib baginya sholat Jum'at dan ia tetap sholat Zhuhur.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/182 no. 2358]

Sumber: Buku "Fikih Sunnah Hari Raya" hal. 24. ( Penulis Ustad Sofyan Chalid, LC)

Rabu, 29 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (15) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 2

Seri Seputar Qurban (15)
Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

๐Ÿ“ ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 2

8⃣  Kedelapan:  Hewan Qurban yang Akan Disembelih Hendaknya Dihadapkan ke Kiblat

Yaitu tempat yang disembelih (lehernya).

๐Ÿ’ก Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/408):

ุงุณุชู‚ุจุงู„ ุงู„ุฐุงุจุญ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ูˆุชูˆุฌูŠู‡ ุงู„ุฐุจูŠุญุฉ ุฅู„ูŠู‡ุง ูˆู‡ุฐุง ู…ุณุชุญุจ ููŠ ูƒู„ ุฐุจูŠุญุฉ ู„ูƒู†ู‡ ููŠ ุงู„ู‡ุฏู‰ ูˆุงู„ุงุถุญูŠุฉ ุงุดุฏ ุงุณุชุญุจุงุจุง ู„ุงู† ุงู„ุงุณุชู‚ุจุงู„ ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุงุช ู…ุณุชุญุจ ูˆููŠ ุจุนุถู‡ุง ูˆุงุฌุจ ูˆููŠ ูƒูŠููŠุฉ ุชูˆุฌูŠู‡ู‡ุง ุซู„ุงุซุฉ ุฃูˆุฌู‡ ุญูƒุงู‡ุง ุงู„ุฑุงูุนูŠ (ุฃุตุญู‡ุง) ูŠูˆุฌู‡ ู…ุฐุจุญู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ ูˆู„ุง ูŠูˆุฌู‡ ูˆุฌู‡ู‡ุง ู„ูŠู…ูƒู†ู‡ ู‡ูˆ ุงูŠุถุง ุงู„ุงุณุชู‚ุจุงู„

“(Disunnahkan) orang yang menyembelih untuk menghadap kiblat, dan hendaknya dia juga mengarahkan hewan qurban agar menghadap kiblat. Hal ini disunnahkan untuk semua sembelihan, tetapi khusus untuk hewan hadyu dan qurban lebih ditekankan lagi, karena menghadap kiblat dalam ibadah adalah dianjurkan, bahkan sebagiannya diwajibkan. Adapun cara menghadapkan hewan qurban ke arah qiblat ada tiga pendapat, yang paling benar adalah menghadapkan tempat disembelihnya  hewan tersebut (yaitu lehernya ) ke arah kiblat dan tidak menghadapkan wajah hewan tersebut, supaya penyembelihnya juga bisa menghadap kiblat."

Sehingga posisi yang tepat yaitu meletakkan kepala atau bagian atas hewan di arah selatan dan bagian belakang hewan di arah utara. Sedangkan kaki, perut, leher dan kepala menghadap ke arah kiblat (barat laut). Ini khusus untuk wilayah Indonesia dan sekitarnya.

9⃣ Kesembilan: Membaringkan Hewan di Atas Lambung Sebelah Kiri.

Dianjurkan ketika menyembelih hewan qurban untuk membaringkannya di atas lambung kiri hewan tersebut. Hal itu akan memudahkan di dalam proses penyembelihan.  

๐Ÿ’ก Berkata Syekh Zakariya al-Anshari di dalam Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhi ath-Thalib (1/541):

ุนู„ู‰ ุฌَู†ْุจِู‡َุง ุงู„ْุฃَูŠْุณَุฑِู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุฃَุณْู‡َู„ُ ุนู„ู‰ ุงู„ุฐَّุงุจِุญِ ููŠ ุฃَุฎْุฐِ ุงู„ุณِّูƒِّูŠู†ِ ุจِุงู„ْูŠَู…ِูŠู†ِ ูˆَุฅِู…ْุณَุงูƒِ ุฑَุฃْุณِู‡َุง ุจِุงู„ْูŠَุณَุงุฑِ

"Hendaknya hewan qurban dibaringkan di atas lambung kiri, karena hal itu lebih mudah bagi penyembelih untuk memegang pisau dengan tangan kanan, dan memegang  kepala hewan dengan tangan kiri."

1⃣0⃣ Kesepuluh: Sebagian Ulama Menganjurkan agar Membiarkan Kaki Kanan Bergerak

Sehingga hewan lebih leluasa dan nyaman. 

๐Ÿ’ก Berkata Imam an-Nawawi di dalam Raudhatu ath-Thalibin (3/207)

ูˆุชุชุฑูƒ ุฑุฌู„ู‡ุง ุงู„ูŠู…ู†ู‰ ูˆุชุดุฏ ู‚ูˆุงุฆู…ู‡ุง ุงู„ุซู„ุงุซ

“Hendaknya kaki kanannya dibiarkan, sedangkan tiga kaki yang lainnya diikat (dipegang)."

1⃣1⃣ Kesebelas: Menginjakkan Kaki di Bagian Samping Hewan

Dianjurkan untuk menginjakkan kaki di bagian  samping hewan.

๐Ÿ’ก Sebagaimana disebutkan dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

    ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di bagian samping kambing." (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966 )

1⃣2⃣ Keduabelas: Menyebut Nama Allah dan Membaca Takbir

๐Ÿ Menyebut nama Allah dengan mengucapkan: Bismillah ketika menyembelih hukumnya wajib menurut mayoritas ulama.

๐Ÿ’ก Ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala

          ูˆَ ู„ุงَ ุชَุฃْูƒُู„ُูˆุงْ ู…ِู…َّุง ู„َู…ْ ูŠُุฐْูƒَุฑِ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„ู‡ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู„َูِุณْู‚ٌ..

"Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (Qs. al-An’am: 121)

๐Ÿ’ก Ini dikuatkan dengan hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

    ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing.“ (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966)

๐Ÿ’ก Ini dikuatkan juga dengan hadist Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menyembelih hewan qurban beliau berdo’a,

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” (HR. Muslim, 1967)

๐Ÿ’ก Berkata Abdullah al-Bassam di dalam Taudhih al-Ahkam (4/367): “Yang disyariatkan ketika menyembelih adalah mencukupkan membaca “Bismillah“, karena menyebutkan sifat ar-Rahman (Maha Pengasih dan Penyayang) tidak tepat untuk saat penyembelihan yang membutuhkan kekuatan dan penumpahan darah."

๐Ÿ Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah ini berdasarkan firman Allah:

          ูƒَุฐَู„ِูƒَ ุณَุฎَّุฑَู‡َุง ู„َูƒُู…ْ ู„ِุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู‡َุฏَุงูƒُู…ْ ูˆَุจَุดِّุฑِ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ

_“Demikianlah Kami menundukkannya (binatang qurban) tersebut untuk kalian, agar kalian bertakbir (mengagungkan nama Allah) atas hidayah yang diberikan kepada kalian,dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Qs. al-Hajj: 37)

๐Ÿ’ก Ini dikuatkan oleh hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

           ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing." (HR. al-Bukhari, 5558 dan Muslim, 1966)

1⃣3⃣ Ketigabelas:  Setelah itu dianjurkan juga untuk membaca, “Allahumma hadza minka wa laka.”

(Ya Allah qurban ini Ini dari-Mu dan untuk-Mu) maksudnya: bahwa hewan ini adalah rezeki yang Engkau berikan kepadaku, maka sekarang saya qurbankan untuk mendekatkan diri kepada-Mu, ini saya lakukan hanya mencari ridha-Mu, bukan karena riya’ dan pamer.  

๐Ÿ’ก Ini sesuai dengan hadist Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:

          ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฐَุจَุญَ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุนِูŠุฏِ ูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ ุญِูŠู†َ ูˆَุฌَّู‡َู‡ُู…َุง ุฅِู†ِّูŠ ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ِู„َّุฐِูŠ ูَุทَุฑَ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠูًุง ู…ُุณْู„ِู…ًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†ْ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠู†َ ุฅِู†َّ ุตَู„َุงุชِูŠ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„َّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุง ุฃَูˆَّู„ُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู…ِู†ْูƒَ ูˆَู„َูƒَ ุนَู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุฃُู…َّุชِู‡ِ

“Bahwa Rasulullah  menyembelih dua domba pada hari ‘Ied Adha, kemudian berdoa setelah menghadapkannya ke kiblat, 'Saya hadapkan wajahku kepada Yang Menciptakan langit-langit dan bumi secara lurus dan pasrah, dan saya bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu dari Muhammad dan umat-nya' “ (HR. Ahmad, 15022 dan Ibnu Huzaimah 2899. Berkata Syekh Mushthofa al-A’dhami: sanadnya shahih)

1⃣4⃣ Keempatbelas: Menyebut Nama yang berQurban

Pada Saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang berqurban atau yang diwakilinya, seperti perkataan: "Hadza min Muhammadin wa min Ali Muhammad" (Qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad).

๐Ÿ’ก Ini sesuai dengan hadist Aisyah  radhiyallahu ‘anha  yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing untuk diri beliau, keluarga dan seluruh umatnya. Sebelum menyembelih beliau berdo’a,

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ »

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan  dari umat Muhammad.” (HR. Muslim 1967)

1⃣5⃣ Kelimabelas: Mempercepat dan Memperkuat Penyembelihan

Dianjurkan untuk menyembelih dengan cepat dan kuat, agar hewan qurban segera mati dan hal itu akan meringankan sakit hewan kurban.

(Bersambung...)

Wallahu A'lam


SEPUTAR QURBAN (14) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 1

Seri Seputar Qurban (14)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

๐Ÿ“ ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN - 1

Ada beberapa adab dan tata cara yang harus diperhatikan setiap yang ingin berqurban dan menyembelih hewan qurban supaya ibadah qurbannya sesuai dengan tuntunan Islam. 

Diantara adab-adab dan tata cara tersebut adalah sebagai berikut:

1⃣ Pertama: Berniat Qurban (Ketika Membeli Hewan Ternak)

Ketika membeli hewan hendaknya diniatkankan bahwa dia membelinya untuk berqurban. Hal itu karena berqurban adalah bagian dari ibadah dan ibadah tidak sah kecuali dengan niat.

2⃣ Kedua: Mengikat Hewan Sebelum Disembelih

Sebagian ulama menganjurkan agar hewan qurban diikat dulu di suatu tempat beberapa hari sebelum disembelih, karena itu menunjukkan persiapan dan kesungguhan bahwa dia benar-benar ingin menyembelih hewan qurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Hal ini termasuk dalam katagori mengagungkan syiar Islam, sebagaimana firman Allah,

ุฐَู„ِูƒَ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุนَุธِّู…ْ ุดَุนَุงุฆِุฑَ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุฅِู†َّู‡َุง ู…ِู†ْ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”  (Qs. al-Hajj: 32)

3⃣ Ketiga: Menggiring Hewan Qurban ke Tempat Penyembelihan dengan Baik

Disunnahkan sebelum menyembelih untuk menggiring hewan qurban ke tempat penyembelihan dengan baik dan pelan, dan tidak boleh dengan cara kasar dan menyakiti hewan.

ูู‚ุฏ ุฑูˆู‰ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุฒุงู‚ ุจุณู†ุฏู‡ ุนู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณูŠุฑูŠู† ู‚ุงู„ ุฑุฃู‰ ุนู…ุฑ ุจู† ุงู„ุฎุทุงุจ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ุฑุฌู„ุงً ูŠุณุญุจ ุดุงุฉ ุจุฑุฌู„ู‡ุง ู„ูŠุฐุจุญู‡ุง ูู‚ุงู„ ู„ู‡ : ูˆูŠู„ูƒ ! ู‚ุฏู‡ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุช ู‚ูˆุฏุงً ุฌู…ูŠู„ุงً

๐Ÿ’ก Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Ibnu Sirin yang berkata Umar radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang menyeret kambing dengan menarik kakinya dengan tujuan untuk disembelih, maka Umar berkata kepadanya: “Celaka kamu,  giring hewan ini menuju kematian dengan cara yang baik." (AR. Abdurrazaq di dalam al-Mushannaf 4/493, al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra 9/281) 

4⃣ Kempat: Hendaknya Menyembelih dengan Tangannya Sendiri

 Disunnahkan yang ingin berqurban hendaknya menyembelihnya dengan tangannya sendiri jika dia mampu. 

๐Ÿ’ก Sebagaimana di dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata,

 ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas kening kambing.“ (HR. al-Bukhari 5558 dan Muslim 1966)

๐Ÿ’ก Diriwayatkan juga dari hadits Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih 63 unta dengan tangannya sendiri, kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib untuk disembelihnya.

๐Ÿ’ก Disebutkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya bahwa Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu memerintahkan anak-anak perempuannya untuk menyembelih hewan qurban dengan tangan mereka sendiri. (Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari (12/114-115) mengatakan bahwa al-Hakim di dalam al- Mustadrak meriwayatkan yang serupa dengan sanad yang bersambung) 

 5⃣ Kelima: Jika Dia Tidak Mampu Menyembelih Sendiri

Maka dianjurkan untuk datang ikut menyaksikan ritual penyembelihan hewan qurban tersebut.

๐Ÿ’ก Ini berdasarkan hadist Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah,

ู‚ูˆู…ูŠ ุฅู„ู‰ ุฃุถุญูŠุชูƒ ูุงุดู‡ุฏูŠู‡ุง ูุงู†ู‡ ุจุฃูˆู„ ู‚ุทุฑุฉ ู…ู† ุฏู…ู‡ุง ูŠุบูุฑ ู„ูƒ ู…ุง ุณู„ู ู…ู† ุฐู†ุจูƒ

“Wahai Aisyah berdirilah dan saksikan hewan qurbanmu, sesungguhnya dengan darah pertama yang jatuh dari hewan qurban tadi, maka akan diampuni dosamu yang telah berlalu.“ (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak (4/247, no. 7525) beliau berkata: "Hadist ini sanadnya shahih." Dan diriwayatkan juga oleh Abi Hatim di dalam al-‘Ilal  (2/38, no. 1596) beliau berkata: "Saya mendengar bapak-ku mengatakan bahwa hadist ini adalah hadits mungkar." Dan diriwayatkan oleh al-Haitsami di dalam al-Majma’ (4/17), beliau berkata: “Hadist ini diriwayatkan oleh al-Bazzar 1202 di dalamnya terdapat ‘Athiyah bin Qais banyak diperbincangkan dan sudah ditsiqahkan)

Sebagaimana dalam keterangan di atas bahwa hadist ini diperselisihkan oleh ulama hadist tentang keshahihannya, tetapi walaupun demikian, sebagian ulama menyebutkan hadist ini di dalam buku mereka sebagai penguat tentang dianjurkannya orang yang berqurban untuk menyaksikan qurbannya saat disembelih, diantaranya Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/117), Syekh Sayyid Sabiq di dalam Fiqh as-Sunnah (3/324) dan Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam di dalam Taudhih al-Ahkam min Bulughu al-Maram (4/367).

6⃣ Keenam: Dianjurkan Ketika Menyembelih untuk Menggunakan Pisau Tajam

Karena itu bisa mempercepat kematian hewan qurban. Ini termasuk berbuat baik kepada hewan qurban. 

๐Ÿ’ก Sebagaimana di dalam hadist Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

          ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุชَุจَ ุงู„ุฅِุญْุณَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَู‰ْุกٍ ูَุฅِุฐَุง ู‚َุชَู„ْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ْู‚ِุชْู„َุฉَ ูˆَุฅِุฐَุง ุฐَุจَุญْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ุฐَّุจْุญ ูˆَ ู„ูŠُุญِุฏَّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุดَูْุฑَุชَู‡ُ ูَู„ْูŠُุฑِุญْ ุฐَุจِูŠุญَุชَู‡ُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan baik, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan baik.  Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

๐Ÿ’ก Ini dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa,

      ุฃَู…َุฑَ ุจِูƒَุจْุดٍ ุฃَู‚ْุฑَู†َ, ูŠَุทَุฃُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ, ูˆَูŠَุจْุฑُูƒُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ, ูˆَูŠَู†ْุธُุฑُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ ู„ِูŠُุถَุญِّูŠَ ุจِู‡ِ, ูَู‚َุงู„َ: ุงِุดْุญَุฐِูŠ ุงَู„ْู…ُุฏْูŠَุฉَ , ุซُู…َّ ุฃَุฎَุฐَู‡َุง, ูَุฃَุถْุฌَุนَู‡ُ, ุซُู…َّ ุฐَุจَุญَู‡ُ, ูˆَู‚َุงู„َ: ุจِุณْู…ِ ุงَู„ู„َّู‡ِ, ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ, ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…ّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ

"Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang (berwarna putih) tapi kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada Aisyah, "Wahai Aisyah, ambillah pisau, dan asahlah dengan batu". Setelah itu beliau mengambil pisau dan membaringkan kambing, dan menyembelihnya seraya berdo’a "Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." (HR. Muslim, 1967)

7⃣ Ketujuhi: Hendaknya Tidak Mengasah Pisau di Hadapan Hewan Qurban.

Karena hal itu akan menyebabkan hewan tersebut ketakutan dan stress sebelum disembelih.

๐Ÿ’ก Hal ini sesuai dengan hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau berkata:

          ุฃَู…َุฑَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِุญَุฏِّ ุงู„ุดِّูَุงุฑِ ، ูˆَุฃَู†ْ ุชُูˆَุงุฑَู‰ ุนَู†ِ ุงู„ْุจَู‡َุงุฆِู…ِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, dan untuk tidak memperlihatkan pisau tersebut kepada hewan.” (HR. Ahmad 5830, Ibnu Majah 3172)

(Bersambung...)

Wallahu A'lam


SEPUTAR QURBAN (13) WAKTU & TEMPAT PENYEMBELIHAN

Seri Seputar Fiqh Qurban (13)

๐Ÿ“ WAKTU & TEMPAT PENYEMBELIHAN

๐Ÿท WAKTU PENYEMBELIHAN

Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar pada hari ‘Iedul Adha. 

๐Ÿ’กDalilnya adalah hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูَุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฐْุจَุญُ ู„ِู†َูْุณِู‡ِ، ูˆَู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ุจَุนْุฏَ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูَู‚َุฏْ ุชَู…َّ ู†ُุณُูƒُู‡ُ ูˆَุฃَุตَุงุจَ ุณُู†َّุฉَ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri.  Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari (5546) dan Muslim (1962))

Setelah kesepakatan tersebut, para ulama berbeda pendapat tentang awal dan akhir waktu menyembelih.

๐Ÿ“Œ Pendapat Pertama

Waktu penyembelihan dimulai setelah terbit matahari dan berlalu waktu sholat dan dua khutbah ‘Ied. Ini adalah pendapat Madzhab asy-Syafi’i. (An-Nawawi, al-Maj’mu’ (8/387), Abu Bakar al-Husani, Kifayatu al-Akhyar, hlm: 700)

๐Ÿ’กDisebutkan di dalam matan Abi Syuja’ (hlm.104): 

ูˆูˆู‚ุช ุงู„ุฐุจุญ ู…ู† ูˆู‚ุช ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ุฅู„ู‰ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ ู…ู† ุขุฎุฑ ุขูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚

“Adapun waktu penyembelihan (qurban) dimulai semenjak waktu shalat ‘Idul Adha hingga tenggelamnya matahari dari akhir hari Tasyriq .“

Adapun dalil akhir waktu penyembelihan adalah hadist Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ูƒู„ ุงูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ ุฐุจุญ

“Setiap hari Tasyriq adalah waktu penyembelihan." (Berkata an-Nawawi dalam al-Majmu’ (8/387): Hadist Jubair bin Muth’im diriwayatkan al-Baihaqi dari beberapa jalur, dan dia berkata: hadist ini mursal) 

Diantara dua waktu tersebut dibolehkan menyembelih waktu siang, adapun untuk malam dimakruhkan untuk menyembelih di dalamnya.

Jika terlewat waktu akhir penyembelihan sedang dia belum menyembelih, jika qurbannya sunnah maka tidak perlu menggantikan atau mengqadha’ karena setelah itu bukanlah waktu untuk menyembelih hewan qurban. 

Tetapi jika qurbannya wajib (karena bernadzar), maka dia harus menyembelih qurban sebagai pengganti nadzarnya.

๐Ÿ“Œ Pendapat Kedua

Bagi orang desa waktu penyembelihannya dimulai setelah terbit fajar hari Iedul Adha, adapun untuk orang-orang kota waktunya dimulai setelah Imam melaksanakan sholat dan berkhutbah. Ini pendapat Abu Hanifah

๐Ÿ“Œ Pendapat Ketiga

Tidak sah menyembelih hewan qurban sebelum Imam melaksanakan shalat dan berkhutbah. Ini pendapat Malik dan Ahmad.

๐Ÿท TEMPAT PENYEMBELIHAN

Tidak ada tempat khusus untuk menyembelih hewan qurban, maka di manapun seseorang menyembelih hewan qurbannya, maka dinyatakan sah.

Hanya saja disunnahkan di tempat lapang, terutama tempat di mana masyarakat melakukan shalat Idul Adha. 

Khusus pemimpin, tokoh masyarakat maupun imam shalat sebaiknya menyembelih qurban di tempat umum, agar masyarakat mengetahui kapan mulainya waktu penyembelihan hewan qurban, jenis-jenis hewan qurban, dan bagaimana cara menyembelihnya. 

๐Ÿ’ก Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhu:

ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูƒَุงู†َ ูŠَุฐْุจَุญُ ูˆَูŠَู†ْุญَุฑُ ุจِุงู„ْู…ُุตَู„َّู‰

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan unta untuk qurban di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari, 5552)


Wallahu A'lam.

✒ DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

SEPUTAR QURBAN (12) HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 2

Seri Seputar Fiqh Qurban (12)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

๐Ÿ“ HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 2

๐Ÿท Ketiga: Adapun dari sisi warna, maka yang paling utama adalah warna putih, kemudian putih yang bercampur, kemudian hitam.

๐Ÿ’กDalilnya adalah hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata:

ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas leher kambing." (HR. al-Bukhari (5558) dan Muslim (1966))

๐Ÿ“Œ Al-Amlah artinya yang warna putihnya lebih banyak dari warna hitam.

๐Ÿ“Œ Shi-haf: arah depan dan samping dari segala sesuatu. Yang dimaksud di sini adalah sisi samping hewan qurban. 

๐Ÿ’กIni dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa:

ุฃَู…َุฑَ ุจِูƒَุจْุดٍ ุฃَู‚ْุฑَู†َ, ูŠَุทَุฃُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ, ูˆَูŠَุจْุฑُูƒُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ, ูˆَูŠَู†ْุธُุฑُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ ู„ِูŠُุถَุญِّูŠَ ุจِู‡ِ, ูَู‚َุงู„َ: ุงِุดْุญَุฐِูŠ ุงَู„ْู…ُุฏْูŠَุฉَ , ุซُู…َّ ุฃَุฎَุฐَู‡َุง, ูَุฃَุถْุฌَุนَู‡ُ, ุซُู…َّ ุฐَุจَุญَู‡ُ, ูˆَู‚َุงู„َ: ุจِุณْู…ِ ุงَู„ู„َّู‡ِ, ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ, ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…ّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ )

"Bahwa Rasulullah menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang (berwarna putih) tapi kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewan itu kepada beliau. 
Beliau bersabda kepada Aisyah, "Wahai Aisyah, ambillah pisau, dan asahlah dengan batu." 
Setelah itu beliau mengambil pisau dan membaringkan kambing, dan menyembelihnya seraya berdo’a, "Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." (HR. Muslim (1967))

๐Ÿ’กBerkata Ibnu Abbas: "Memperbesar dan membaguskan hewan qurban adalah sunnah, adapun warna putih itu lebih baik."

๐Ÿ’กBerkata Abu Hurairah: "Darah hewan qurban yang berwarna putih lebih utama dari darah hewan qurban yang berwarna hitam." (Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/ 396): "Adapun Atsar Abu Hurairah  di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi secara mauquf.")  

๐Ÿท Keempat: Hewan Qurban jantan lebih baik dari yang betina, karena dagingnya lebih banyak dan lebih baik. Begitu juga hewan jantan biasanya lebih mahal harganya.

๐Ÿ’กDisebutkan di dalam Hasyiah al-Bujairmi ‘ala al-Khatib (13/216):

ุงู„ุชَّุถْุญِูŠَุฉُ ุจِุงู„ุฐَّูƒَุฑِ ุฃَูْุถَู„ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃَุตَุญِّ ุงู„ْู…َู†ْุตُูˆุตِ ู„ِุฃَู†َّ ู„َุญْู…َู‡ُ ุฃَุทْูŠَุจُ
"Berqurban dengan hewan jantan lebih utama menurut pendapat yang benar yang tertulis (di dalam madzhab) karena dagingnya lebih baik."

๐Ÿท Kelima: Qurban dengan satu kambing lebih baik dari qurban dengan iuran satu sapi. 

๐Ÿ’กBerkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/ 396):

ุงู„ุชุถุญูŠุฉ ุจุดุงุฉ ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ู…ุดุงุฑูƒุฉ ุจุณุจุน ุจุฏู†ุฉ ุฃูˆ ุจุณุจุน ุจู‚ุฑุฉ ุจุงู„ุงุชูุงู‚

"Berqurban dengan satu kambing lebih utama dari berqurban dengan bersyarikat tujuh orang dengan satu unta atau satu sapi. Ini menurut kesepakatan (dalam madzhab Syafi’i)."

Alasannya:
▪ bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua kambing utuh. 
▪ Selain itu bahwa ibadah penyembelihan (dengan satu kambing) terulang sampai tujuh kali. 
▪ Berbeda dengan tujuh orang yang bersyarikat  dengan satu sapi, penyembelihannya hanya dilakukan sekali saja.

Wallahu A'lam.


Selasa, 28 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (11) HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 1

Seri Seputar Fiqh Qurban (11)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

๐Ÿ“ HEWAN YANG DIUTAMAKAN DALAM BERQURBAN - 1

Di dalam berqurban, hendaknya seorang muslim memilih hewan-hewan yang paling utama, karena pahalanya lebih besar. Diantara hewan-hewan yang diutamakan adalah sebagai berikut:

๐Ÿท Pertama: yang Gemuk dan Besar

Dianjurkan hewan yang gemuk dan besar, karena tujuan dari berqurban itu adalah untuk dimakan dagingnya. Yang gemuk dan besar tentu dagingnya lebih banyak. 

๐Ÿ’กDalil keutamaannya adalah firman Allah,

ุฐَู„ِูƒَ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุนَุธِّู…ْ ุดَุนَุงุฆِุฑَ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุฅِู†َّู‡َุง ู…ِู†ْ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”  (Qs. al-Hajj: 32)

๐Ÿ’กIni dikuatkan dengan riwayat dari Abu Umamah bin Sahal, bahwa beliau berkata:

ูƒُู†َّุง ู†ُุณَู…ِّู†ُ ุงู„ْุฃُุถْุญِูŠَّุฉَ ุจِุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ ูŠُุณَู…ِّู†ُูˆู†َ

“Dulu kami menggemukkan hewan qurban ketika di Madinah, masyarakat muslim juga pada menggemukan binatang qurban.”  (disebutkan oleh al-Bukhari (5552) secara mu’allaq)

Menurut sebagian ulama bahwa hewan qurban yang  gemuk dan besar walaupun hanya satu ekor lebih utama dari hewan qurban yang kurus dan kecil walaupun jumlahnya lebih banyak. 

๐Ÿ’กBerkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/396): 

ูŠุณุชุญุจ ุงู„ุชุถุญูŠุฉ ุจุงู„ุงุณู…ู† ุงู„ุงูƒู…ู„ ู‚ุงู„ ุงู„ุจุบูˆูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ ุญุชู‰ ุฃู† ุงู„ุชุถุญูŠุฉ ุจุดุงุฉ ุณู…ูŠู†ุฉ ุฃูุถู„ ู…ู† ุดุงุชูŠู† ุฏูˆู†ู‡ุง ู‚ุงู„ูˆุง ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุงุณุชูƒุซุงุฑ ุงู„ู‚ูŠู…ุฉ ููŠ ุงู„ุงุถุญูŠุฉ ุฃูุถู„ ู…ู† ุงุณุชูƒุซุงุฑ ุงู„ุนุฏุฏ

"Dianjurkan berqurban dengan hewan yang lebih gemuk dan sempurna. Berkata al-Baghawi dan yang lainnya: sampai-sampai berqurban dengan satu kambing yang gemuk lebih utama daripada berqurban dengan dua kambing yang lebih kurus darinya. Mereka berkata bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: memperhatikan kualitas hewan qurban lebih utama daripada memperbanyak jumlah hewan qurban."

๐Ÿท Kedua: Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan qurban yang paling utama adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing.

๐Ÿ’กDalilnya adalah hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ِ ุงุบْุชَุณَู„َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ุบُุณْู„َ ุงู„ْุฌَู†َุงุจَุฉِ ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَุฏَู†َุฉً ، ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِู‰ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَู‚َุฑَุฉً ، ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِู‰ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู„ِุซَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ูƒَุจْุดًุง ุฃَู‚ْุฑَู†َ ، ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِู‰ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุฑَّุงุจِุนَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุฏَุฌَุงุฌَุฉً ، ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِู‰ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ْุฎَุงู…ِุณَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَูŠْุถَุฉً ، ูَุฅِุฐَุง ุฎَุฑَุฌَ ุงู„ุฅِู…َุงู…ُ ุญَุถَุฑَุชِ ุงู„ْู…َู„ุงَุฆِูƒَุฉُ ูŠَุณْุชَู…ِุนُูˆู†َ ุงู„ุฐِّูƒْุฑَ »

“Barangsiapa mandi pada hari Jum'at seperti ia mandi junub, kemudian berangkat ke masjid di awal waktu, maka ia seperti orang yang berqurban seekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kedua, maka ia seperti orang yang berqurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu ketiga, maka ia seperti orang yang berqurban seekor kambing yang memiliki tanduk. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu keempat, maka ia seperti orang yang berqurban seekor ayam. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kelima, maka ia seperti orang yang berqurban sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah Jum’ at)." (HR. al-Bukhari (881) dan Muslim (850))

๐Ÿ’กIni dikuatkan dengan hadist Abu Dzar radhiallahu ‘anhu bahwasanya beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ ، ุฃَูŠُّ ุงู„ุฑِّู‚َุงุจِ ุฃَูْุถَู„ُ ؟ ู‚َุงู„َ : ุฃَุบْู„ุงَู‡َุง ุซَู…َู†ًุง ูˆَุฃَู†ْูَุณُู‡َุง ุนِู†ْุฏَ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง

“Wahai Rasulullah mana budak yang lebih utama untuk dimerdekakan? Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya." (HR. Bukhari (2518) dan Muslim (84))

๐Ÿ’กAdapun Malikiyah berpendapat bahwa hewan qurban yang paling utama adalah kambing, kemudian sapi, kemudian unta. Ini kalau dilihat dari sisi kualitas dagingnya. Mereka berdalil bahwa Nabi Muhammad berqurban dengan dua kambing putih. 

Mereka juga berdalil dengan firman Allah,

ูˆَูَุฏَูŠْู†َุงู‡ُ ุจِุฐِุจْุญٍ ุนَุธِูŠู…ٍ

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (Qs. ash-Shaffat: 107)

(bersambung...)

Wallahu A'lam.


SEPUTAR QURBAN (10) CACAT PADA HEWAN QURBAN

Seri Seputar Qurban (10)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

๐Ÿ“ CACAT PADA HEWAN QURBAN

Terkadang kita dapatkan hewan qurban mempunyai cacat, seperti buta, pincang, sakit, kurus, tanduknya patah dan lain-lainnya.

Apakah cacat-cacat tersebut mempengaruhi keabsahan berqurban?

Para ulama menjelaskan bahwa cacat yang terjadi pada hewan qurban dibagi menjadi 3 kelompok:

1⃣ Kelompok Pertama 
Cacat yang menyebabkan qurban tidak sah.

Tujuan berqurban, selain mendekatkan diri kepada Allah, adalah untuk dimakan dagingnya, jika sebagian dagingnya berkurang karena cacat, maka menyebabkan qurbannya tidak sah.

Kelompok pertama ini ada empat ciri, sebagaimana disebutkan di dalam hadist al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฃَุฑْุจَุนٌ ู„َุง ุชَุฌُูˆุฒُ ูِูŠ ุงู„ุถَّุญَุงูŠَุง ุงู„ْุนَูˆْุฑَุงุกُ ุงู„ْุจَูŠِّู†ُ ุนَูˆَุฑُู‡َุง ูˆَุงู„ْู…َุฑِูŠุถَุฉُ ุงู„ْุจَูŠِّู†ُ ู…َุฑَุถُู‡َุง ูˆَุงู„ْุนَุฑْุฌَุงุกُ ุงู„ْุจَูŠِّู†ُ ุนَุฑَุฌُู‡َุง ูˆَุงู„ْูƒَุณِูŠุฑُ ุงู„َّุชِูŠ ู„َุง ุชُู†ْู‚ِูŠ

"Empat hal yang tidak boleh dijadikan hewan qurban, buta yang jelas kebutaannya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, kurus yang tidak punya daging." (Hadist Shahih, riwayat an-Nasai (4382), Ibnu Majah (3144), Ahmad (18667))      

๐Ÿ”น Ciri Pertama: al-‘Aura’ (Buta Sebelah) dan jelas sekali kebutaannya. Jika buta semuanya  atau buta sama sekali (al-‘Umya’), maka jelas tidak sah untuk berqurban.

Tetapi jika butanya belum jelas, orang yang melihatnya menilai belum buta, meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.

๐Ÿ”น Ciri Kedua: al-Maridhah (Sakit) dan tampak sekali sakitnya.

Jika hanya sakit ringan, maka boleh untuk dijadikan hewan qurban. Sakit keras mempunyai tanda-tanda yang jelas, seperti sangat kurus, atau dagingnya menjadi tidak enak, maka tidak sah untuk dijadikan qurban.

๐Ÿ”น Ciri Ketiga: al-‘Arja’ (Pincang) dan tampak jelas pincangnya.

Pincang di sini maksudnya pincang yang menyebabkan hewan tersebut tidak bisa berjalan normal, sehingga selalu tertinggal ketika mencari rerumputan dan makanan, itu semua menyebabkan dia kurang makan sehingga  kurus dan  dagingnya berkurang.  Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik, maka boleh dijadikan hewan qurban.

Jika hewan tersebut kakinya putus atau patah, tentunya tidak sah untuk dijadikan hewan qurban.

๐Ÿ”น Ciri Keempat: al-Hazilah (Sangat Kurus) sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Di dalam hadist di atas disebutkan (la tunqa) yaitu yang tidak punya naqyun (sumsum tulang), ada yang mengatakan tidak punya lemak.

2⃣ Kelompok Kedua 
Cacat yang dimakruhkan untuk dijadikan hewan qurban, tetapi tetap sah.

๐Ÿ”ธ Ciri Pertama: Telinganya terputus, atau sebagiannya terputus.

Menurut madzhab Syafi’I hewan kurban yang terputus telinganya tidaklah sah untuk dijadikan qurban, sebagaimana disebutkan di dalam Kifayat al-Akhyar (hlm. 698):

ู„ุง ุชุฌุฒุฆ ู…ู‚ุทูˆุนุฉ ุงู„ุฃุฐู† ูˆูƒุฐุง ุงู„ู…ู‚ุทูˆุน ุฃูƒุซุฑ ุฃุฐู†ู‡ุง ุจู„ุง ุฎู„ุงู ูุฅู† ูƒุงู† ูŠุณูŠุฑุง ูููŠู‡ ุฎู„ุงู ุงู„ุฃุตุญ ุนุฏู… ุงู„ุฅุฌุฒุงุก ู„ููˆุงุช ุฌุฒุก ู…ุฃูƒูˆู„

"Tidak sah ( hewan Qurban ) yang terputus telinganya, atau terputus sebagian besar telinganya. Ini tidak terjadi perbedaan pendapat (di kalangan mazhab). Tetapi jika (yang terputus) hanya sedikit, maka terjadi perbedaan pendapat, yang lebih shahih bahwa hal itu tidak sah, karena sebagian dagingnya hilang."

๐Ÿ”ธ Ciri Kedua: Tanduknya pecah atau patah.

Disebutkan di dalam matan Abi Syuja’ (hlm. 104):

ูˆูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุฎุตุฆ ูˆุงู„ู…ูƒุณูˆุฑ ุงู„ู‚ุฑู† ูˆู„ุง ุชุฌุฒุฆ ุงู„ู…ู‚ุทูˆุนุฉ ุงู„ุฃุฐู† ูˆุงู„ุฐู†ุจ

“Sah qurban dengan hewan yang dikebiri dan patah tanduknya dan tidak sah yang terputus telinga dan ekornya. “

3⃣ Kelompok Ketiga 
Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban. Dan boleh dijadikan untuk qurban, namun kurang sempurna.

Diantara cacat dalam katagori ketiga ini adalah: 
▪ al- Hatma’ (yang tidak bergigi alias ompong) 
▪ al-Batra’ (ekornya terputus atau tidak punya ekor)
▪ al-Jad’a (tidak punya hidung)
▪ al-Khishhi (dikebiri/mandul) dan lain-lainnya. 

Wallahu A'lam.


SEPUTARS QURBAN (9) UMUR HEWAN QURBAN

Seri Seputar Fiqh Qurban (9)
Oleh :  DR. Ahmad Zain An-Najah,MA

๐Ÿ“ UMUR HEWAN QURBAN

Hewan yang dijadikan qurban harus memenuhi batas umur tertentu, sebagai syarat sahnya berqurban. 

Hal ini berdasarkan hadist Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงَ ุชَุฐْุจَุญُูˆุง ุฅِู„ุงَّ ู…ُุณِู†َّุฉً ุฅِู„ุงَّ ุฃَู†ْ ูŠَุนْุณُุฑَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูَุชَุฐْุจَุญُูˆุง ุงู„ْุฌَุฐَุนَุฉَ ู…ِู†َ ุงู„ุถَّุฃْู†ِ

“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (HR. Muslim, 1963)

๐Ÿ’ก Al-Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian sebagai berikut: 
▪ Unta (5 tahun masuk 6 tahun)
▪ Sapi (2 tahun masuk 3 tahun)
▪ Kambing (1 tahun)

๐Ÿ’ก Adapun  yang dimaksud Jadza’ dari domba para ulama masih berbeda pendapat di dalam mengartikannnya. Menurut pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i – sebagaimana yang dinukil an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (13/118) adalah domba yang berumur satu tahun, dan ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa Arab.

๐Ÿ’ก Sebagian ulama berpendapat, sebagaimana di dalam Tamamu al-Minnah (2/416) bahwa  Jadza’ dari domba adalah hewan domba yang berumur 6 bulan. Sebagian lagi ada yang mengatakan Jadza' dari domba adalah hewan domba yang berumur 8 bulan.

๐Ÿ’ก Berkata an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (13/117) mengomentari hadist di atas :

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฌุฐุน ู…ู† ุงู„ุถุฃู† ูู…ุฐู‡ุจู†ุง ูˆู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒุงูุฉ ูŠุฌุฒู‰ ุณูˆุงุก ูˆุฌุฏ ุบูŠุฑู‡ ุฃู… ู„ุง …ู‚ุงู„ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชุญุจุงุจ ูˆุงู„ุฃูุถู„ ูˆุชู‚ุฏูŠุฑู‡ ูŠุณุชุญุจ ู„ูƒู… ุฃู† ู„ุงุชุฐุจุญูˆุง ุฅู„ุง ู…ุณู†ุฉ ูุงู† ุนุฌุฒุชู… ูุฌุฐุนุฉ ุถุฃู† ูˆู„ูŠุณ ููŠู‡ ุชุตุฑูŠุญ ุจู…ู†ุน ุฌุฐุนุฉ ุงู„ุถุฃู† ูˆุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุฌุฒู‰ ุจุญุงู„ ูˆู‚ุฏ ุฃุฌู…ุนุช ุงู„ุฃู…ุฉ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ุธุงู‡ุฑู‡

“Adapun berqurban dengan domba  jadza  menurut madzhab kami (Syafi’iyah) dan madzhab seluruh ulama hukumnya sah, baik dia mendapatkan selainnya, atau tidak. ...Berkata mayoritas ulama bahwa hadist ini maksudnya adalah sesuatu yang dianjurkan dan yang lebih baik, jika diartikan sebagai berikut: “Dianjurkan bagi kalian untuk tidak berqurban kecuali dengan hewan ternak al-musinnah, jika kalian tidak mendapatkannya, maka bisa berqurban dengan domba  jadza.” Di dalam hadist ini tidak ada ketegasan tentang pelarangan berqurban dengan domba jadza, dan bahwa itu tidak sah. Dan para ulama sepakat hadist tersebut tidak diartikan secara zhahirnya saja.“

Sebagian ulama berpendapat bahwa Jadza' dari domba tidak boleh dijadikan qurban, kecuali bila tidak mendapatkan yang lainnya berdasarkan zhahir hadist di atas.

Wallahu A'lam.

Senin, 20 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (8) JENIS HEWAN QURBAN - 4

Seri Seputar Fiqh Qurban (8)

Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.
(Anggota Majlis Fatwa DDII Pusat)

๐Ÿ“ JENIS HEWAN QURBAN - 4

๐Ÿท Kambing

Seseorang boleh berqurban satu kambing  untuk dirinya dan orang-orang yang di bawah tanggungannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Dalilnya adalah:

1⃣ Hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu’anhu bahwasanya dia berkata,

ูƒุงู† ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุถุญูŠ ุจุงู„ุดุงุฉ ุนู†ู‡ ูˆุนู† ุฃู‡ู„ ุจูŠุชู‡ ููŠุฃูƒู„ูˆู† ูˆูŠُุทุนู…ูˆู† ุญุชู‰ ุชุจุงู‡ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ูุตุงุฑุช ูƒู…ุง ุชุฑู‰

“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang  menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya, maka mereka makan darinya dan memberikan makan darinya, sehingga manusia saling berbangga dengan hal itu, seperti yang anda lihat sekarang.” (HR. at-Tirmidzi (1505), Ibnu Majah (3147), al-Baihaqi (9/268 . Imam at-Tirmidzi berkata: "Ini adalah Hadist Hasan Shahih". Berkata Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (8/384): "Ini adalah Hadist Shahih.")

2⃣ Ini dikuatkan dengan hadist Aisyah radhiyallahu 'anha yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan (dua) kambing untuk seluruh dirinya dan seluruh umatnya. Sebelum menyembelih beliau berdo’a,

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ »

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah qurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.” (HR. Muslim (1967))

Wallahu A'lam.

Sabtu, 18 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (7) JENIS HEWAN QURBAN -3

Seri Seputar Fiqh Qurban (7)
Oleh:  DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.
(Anggota Majlis Fatwa DDII Pusat)

๐Ÿ“ JENIS HEWAN QURBAN -3

๐Ÿ“Œ Pertanyaan: Bolehkan berqurban dengan kerbau?

Para Ulama Fiqh dan ahli Bahasa Arab menganggap kerbau satu jenis dengan sapi. Berikut ini pernyataan mereka:

๐Ÿ’ก Berkata al-Bujairmi di dalam Hasyiyah al-Bujairmi ‘ala al-Khatib (13/217):

ู‚َูˆْู„ُู‡ُ : ( ู…ِู†ْ ุงู„ْุจَู‚َุฑِ ุงู„ْุฅِู†ْุณِูŠِّ ) ูˆَู…ِู†ْู‡ُ ุงู„ْุฌَุงู…ُูˆุณُ ูˆَุฅِู†َّู…َุง ู‚َูŠَّุฏَ ุจِุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ุงู„ْุจَู‚َุฑِ ุฏُูˆู†َ ุบَูŠْุฑِู‡ِ ู„ِุฃَู†َّ ุบَูŠْุฑَู‡ُ ู„َู…ْ ูŠُูˆุฌَุฏْ ู…ِู†ْู‡ُ ูˆَุญْุดِูŠٌّ

"Perkataan (dari sapi jinak) termasuk di dalamnya kerbau. Disebutkan demikian untuk sapi saja, karena selain sapi (dari hewan qurban) tidak ada jenis yang liar."

๐Ÿ’ก Di dalam Hasyiatu asy-Syarwani (7/44) disebutkan:

ูˆูŠุชู†ุงูˆู„ ุงู„ุจู‚ุฑุฉ ุฌุงู…ูˆุณุง

"Sapi itu mencakup juga kerbau."

๐Ÿ’ก Di dalam buku Masail Imam Ahmad (8/4027) disebutkan:

ู‚ู„ุช: ุงู„ุฌูˆุงู…ูŠุณ ุชุฌุฒุฆ ุนู† ุณุจุนุฉ؟
ู‚ุงู„: ู„ุง ุฃุนุฑู ุฎู„ุงู ู‡ุฐุง.

“2865. Saya bertanya: "Apakah kerbau bisa untuk tujuh orang?" Beliau menjawab:  “Saya tidak tahu selain itu (bahwa kerbau bisa untuk tujuh orang)"."

๐Ÿ’ก Di dalam buku al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (8/158) disebutkan:

ูˆَู‚َุฏْ ุณَูˆَّู‰ ุงู„ْูُู‚َู‡َุงุกُ ุงู„ْุฌَุงู…ُูˆุณَ ุจِุงู„ْุจَู‚َุฑِ ูِูŠ ุงู„ุฃْุญْูƒَุงู…ِ ، ูˆَุนَุงู…َู„ُูˆู‡ُู…َุง ูƒَุฌِู†ْุณٍ ูˆَุงุญِุฏٍ

“Para ahli fiqh telah menyamakan antara sapi dengan kerbau di dalam masalah hukum dan mereka menganggapnya satu jenis.“

๐Ÿ’ก Al-Fayumi di dalam kamus al-Mishbah al-Munir (1/108) mengatakan:

ุงู„ุฌَุงู…ُูˆุณُ ู†ูˆุน ู…ู† ุงู„ุจู‚ุฑ

“Kerbau termasuk jenis sapi."

Wallahu A'lam.

Kamis, 16 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (5) JENIS HEWAN QURBAN -1

Seri Seputar Fiqh Qurban (5)
Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.
(Anggota Majlis Fatwa DDII Pusat)

๐Ÿ“ JENIS HEWAN QURBAN -1

Hewan yang boleh untuk dijadikan qurban adalah binatang ternak yaitu unta, sapi, domba serta  kambing. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala,

ูˆَู„ِูƒُู„ِّ ุฃُู…َّุฉٍ ุฌَุนَู„ْู†َุง ู…َู†ْุณَูƒุงً ู„ِูŠَุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุฑَุฒَู‚َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَู‡ِูŠู…َุฉِ ุงู„ุฃَู†ْุนَุงู…ِ

“Dan bagi setiap umat, Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezeki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak.” (Qs. al-Hajj: 34)

Ibnu al-Mundzir meriwayatkan dari al-Hasan bin Shaleh bahwa dibolehkan berqurban dengan banteng (al-baqar al-wahsyi). Ini juga pendapat Ibnu Hazm, bahkan beliau (Ibnu Hazm) membolehkan berqurban dengan binatang apa saja yang halal selama dia mempunyai kaki empat, begitu juga boleh berqurban dengan ayam. Beliau berdalil dengan perkataan Bilal radhiyallahu ‘anhu,

ู…ุง ูƒู†ุช ุฃุจุงู„ูŠ ู„ูˆ ุถุญูŠุช ุจุฏูŠูƒ  

"Saya tidak peduli, walaupun anda berqurban dengan ayam jantan."(Atsar ini diriwayatkan oleh Abdur Rozaq [8156] dan Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla [7/358] dengan sanad yang shahih)

Tetapi yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa qurban tidak sah kecuali dengan empat jenis binatang ternak, yaitu unta, sapi, domba dan kambing.

(Bersambung...)

Wallahu A'lam

Selasa, 14 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (4) HUKUM BERQURBAN - 2

Seri Seputar Fiqh Qurban (4)
Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA
(Ketua Majlis Fatwa dan Kajian, DDII Pusat)

๐Ÿ“ HUKUM BERQURBAN - 2

2⃣ Pendapat Kedua 
Mengatakan bahwa berqurban hukumnya sunnah mu’akkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, seperti Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, Daud dan Ibnu Hazm. (Imam an-Nawawi, al-Majmu’ : 3/383)

๐Ÿ’กBerkata Abu Bakar al-Hashni di dalam Kifayat al-Akhyar(695):

ูˆู‡ูŠ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆุดุนุงุฑ ุธุงู‡ุฑ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู…ู† ู‚ุฏุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ูŠุญุงูุธ ุนู„ูŠู‡ุง

"Berqurban merupakan sunnah yang sangat ditekankan, dan syiar yang nampak, maka hendaknya bagi yang mampu untuk selalu menjaga sunnah tersebut."

Dalil-dalil mereka sebagai berikut:

๐Ÿท Dalil Pertama 
Hadist Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุชู… ู‡ู„ุงَู„َ ุฐูŠ ุงู„ุญุฌุฉ ، ูˆุฃุฑุงุฏَ ุฃุญَุฏُูƒู… ุฃَู†ْ ูŠَุถَุญِّูŠَ : ูَู„ْูŠُู…ْุณูƒْ ุนู† ุดَุนُุฑِู‡ ูˆุฃุธْูَุงุฑ

"Jika kalian melihat bulan Dzulhijjah, dan salah satu diantara kalian ingin berqurban, maka hendaknya dia menahan untuk tidak mencukur rambut dan memotong kukunya." (HR. Muslim, 1977)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْุนَุดْุฑُ ูˆَุฃَุฑَุงุฏَ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุฃَู†ْ ูŠُุถَุญِّู‰َ ูَู„ุงَ ูŠَู…َุณَّ ู…ِู†ْ ุดَุนَุฑِู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุจَุดَุฑِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง

"Jika sudah memasuki sepuluh pertama (Bulan Dzulhijjah), dan salah satu diantara kalian ingin berqurban, maka hendaknya dia jangan mencukur rambut dan memotong kukunya." (HR Muslim, 1977. Berkata Abu Malik dalam Shahih Fiqh as-Sunnah(2/368): "Para ulama berbeda pendapat apakah hadist ini marfu’ atau mauquf, tetapi yang nampak adalah marfu.")

Hadist di atas menunjukkan bahwa berqurban tidak wajib, karena kewajiban tidaklah diserahkan kepada keinginan setiap orang.

๐ŸทDalil Kedua
Hadist Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata,

ุฃู†ูŠ ู„ุฃุฏุน ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ، ูˆุฃู†ุง ู…ู† ุฃูŠุณุฑูƒู…، ูƒุฑุงู‡ุฉ ุฃู† ูŠุนุชู‚ุฏ ุงู„ู†ุงุณ ุฃู†ู‡ุง ุญุชู… ูˆุงุฌุจ

"Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku." (HR. Abdur Razzaq, 8149 dan al-Baihaqi, 9/265 dengan sanad shahih)

๐Ÿท Dalil Ketiga 
Atsar Abu Sarihah, bahwa beliau berkata,

ุฑุฃูŠุช ุฃุจุง ุจูƒุฑ ูˆ ุนู…ุฑ ، ูˆู…ุง ูŠุถุญูŠุงู†  

“Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaq, 8139 dan al-Baihaqi, 9/269; dengan sanad yang shahih)

Berkata Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla (8/9):

ูˆ ู„ุง ูŠุตุญ ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃู† ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ูˆุงุฌุจุฉ

“Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa berqurban adalah wajib.”

๐Ÿ“KESIMPULAN

Dari dua pendapat ulama di atas tentang hukum berqurban, maka pendapat yang lebih mendekati kebenaran dan lebih kuat dalilnya adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa berqurban hukumnya sunnah mu’akkadah dan bukan sesuatu yang wajib.

Wallahu A'lam.

Senin, 13 Juli 2020

SEPUTAR QURBAN (3) HUKUM BERQURBAN - 1

Seri Seputar Fiqh Qurban (3)
Oleh : DR. Ahmad Zain An-Najah, MA

๐Ÿ“ HUKUM BERQURBAN - 1

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban, apakah wajib atau sunnah, perbedaan tersebut sebagai berikut:

1⃣ Pendapat Pertama 
Mengatakan bahwa berqurban hukumnya wajib bagi orang yang berkelapangan. 

Ini adalah pendapat Rabi’ah, al-Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Diantara dalilnya adalah:

๐Ÿท Dalil Pertama 
Firman Allah subhanahu wa ta'ala,

ูَุตَู„ِّ ู„ِุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงู†ْุญَุฑْ

"Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan." (QS. al-Kautsar: 2)

Pada ayat di atas, Allah memerintahkan untuk berqurban, dan pada dasarnya perintah tersebut mengandung kewajiban.

๐Ÿท Dalil Kedua
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุณَุนَุฉٌ ูˆَู„َู…ْ ูŠُุถَุญِّ, ูَู„َุง ูŠَู‚ْุฑَุจَู†َّ ู…ُุตَู„َّุงู†َุง

“Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”(HR. Ibnu Majah, 3123; Ahmad, 2/321; al-Hakim (4/349); ad-Daruquthni (4/285); al-Baihaqi (9/260). Hadist ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani. Berkata Ibnu Hajar di dalam Bulughul Maram, 405: "Hadist Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim, tetapi para ulama hadist lebih membenarkan bahwa hadist ini mauquf.")

Hadist di atas menunjukkan bahwa berqurban hukumnya wajib, karena beliau melarang orang yang tidak berqurban padahal mampu untuk mendekati tempat shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau hukumnya sunnah tentu tidak ada larangan seperti ini.

๐Ÿท Dalil Ketiga 
Hadist dari Jundub bin Sufyan radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ุฐَุจَุญَ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ูَู„ْูŠُุนِุฏْ ู…َูƒَุงู†َ ุฐَุจِูŠุญَุชِู‡ِ ุฃُุฎْุฑَู‰ ، ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ุฐَุจَุญَ ูَู„ْูŠَุฐْุจَุญْ ุจِุงุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ

“Barang siapa diantara kalian yang telah menyembelih sebelum shalat (Idul Adha), maka hendaknya dia menggantinya dengan sembelihan lain. Dan barang siapa yang belum menyembelih, hendaknya dia menyembelih dengan nama Allah." (HR. al-Bukhari, 5562 dan Muslim, 1960)

Perintah untuk mengganti, menunjukkan kewajiban,karena sesuatu yang sunnah jika ditinggalkan, tidak perlu diganti.  

๐Ÿ’กBerkata Ibnu Taimiyah  di dalam Majmu’ al-Fatawa (32/162-164):

 ูˆุงู„ุฃุธู‡ุฑ ูˆุฌูˆุจู‡ุง ( ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ) ูุฅู†ู‡ุง ู…ู† ุฃุนุธู… ุดุนุงุฆุฑ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ، ูˆู‡ูŠ ุงู„ู†ุณูƒ ุงู„ุนุงู… ููŠ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุฃู…ุตุงุฑ ، ูˆุงู„ู†ุณูƒ ู…ู‚ุฑูˆู† ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ، ูˆู‡ูŠ ู…ู† ู…ู„ุฉ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ุฐูŠ ุฃู…ุฑู†ุง ุจุงุชุจุงุน ู…ู„ุชู‡ ، ูˆู‚ุฏ ุฌุงุกุช ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุจุงู„ุฃู…ุฑ ุจู‡ุง

" Pendapat yang lebih tepat bahwa berqurban hukumnya wajib, karena qurban merupakan salah satu syiar Islam yang paling agung. Qurban adalah ibadah tahunan yang berlaku di semua daerah, ibadah ini selalu disertai dengan shalat, dan merupakan ajaran nabi Ibrahim yang kita diperintahkan untuk mengikutinya, dan banyak hadist-hadist yang memerintahkan untuk mengamalkannya."

๐Ÿ’กBerkata Syekh al-Utsaimin di dalam asy-Syarh al-Mumti’ (7/519):
“Pendapat yang mengatakan bahwa ber-qurban hukum wajib bagi yang mampu adalah pendapat yang kuat, karena banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan perhatian syariat terhadap ibadah qurban tersebut “

(Bersambung...)

Wallahu a'lam.