Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label TAZKIYATUN NAFS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAZKIYATUN NAFS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2020

Merasakan Keajaiban InsyaAllaah




Oleh: Ustad Majid Tholabiddin, S.Pd.I
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

Ucapan Insya Allah adalah ucapan yang telah menjadi kebiasaan diantara kaum muslimin. Tapi tahukah kita, kalimat Insya Allah bukanlah kalimat biasa. Ucapan ini adalah perintah Allah didalam Al-Qur’an.

Sebagai seorang yang beriman, kita dilarang untuk mengucapkan “Aku akan melakukan ini besok !” tapi Allah Mengajarkan kita untuk menyisipkan kata Insya Allah.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً – إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” (QS.Al-Kahfi:23-24)

Seakan kita akan berkata “Aku ingin melakukannya, tapi aku tak mampu melakukan sesuatu tanpa Kehendak-Nya.”

Selain itu, kata Insya Allah juga menjadi pegangan para nabi dalam kehidupan mereka, seperti :

Ketika Nabi Ismail as hendak disembelih oleh ayahnya atas perintah Allah, ia pun berkata

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS.Ash-Shaffat:102)

Ketika Nabi Yusuf as memerintahkan saudara serta ayahnya untuk masuk ke Mesir,

وَقَالَ ادْخُلُواْ مِصْرَ إِن شَاء اللّهُ آمِنِينَ

(Yusuf) berkata “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” (QS.Yusuf:99)

Ketika Nabi Syuaib as ingin menikahkan putrinya dengan Nabi Musa as, beliau berkata kepada Musa,

سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (QS.Al-Qashas:27)

Ketika Nabi Musa as akan berguru kepada Nabi Khidir as,

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً

Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.” (QS.Al-Kahfi:69)

Dan pada hakikatnya, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas Kehendak-Nya. Bahkan Allah Menyebutkan hal ini sebanyak dua kali dalam Al-Qur’an,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila Dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” (QS.Al-Insaan:30)

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila Dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS.At-Takwir:29)

Oleh karena itu, mari kita biasakan untuk menyebut Insya Allah dalam setiap rencana yang akan kita lakukan. Karena, InsyaAllaah akan ada keajaiban-keajaiban dari apa yang akan kita lakukan dan dapatkan.. aamiin ya Rabbal Aalamiin..

Semoga Bermanfaat !

Selasa, 21 Juli 2020

Meraih Kebahagiaan Dengan Ilmu


Manusia adalah sosok makhluk ciptaan Allah yang unik. Dia memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan makhluk lainnya. Ambil contohlah hewan, dimana dari sisi kebutuhan hanyalah segala sesuatu yang bersifat fisik, baik dr segi makanan, minuman hingga obat-obatan. Dan manusia terdapat pada level yang bukan hanya membutuhkan itu saja, meskipun hal itu paling dikenali sebab terlihat dari sisi yang terluar. Maka, sekiranya manusia beranggapan bahwa, kebutuhannya hanya sebatas apa yg terlihat, lalu apa yg menjadi pembeda antara dirinya dengan hewan..?

Oleh karena itu, kita sebagai manusia menghajatkan ilmu, sebagai makanan bagi ruh, penuntun jalan kehidupan, pelindung dari kebinasaan, menentramkan jiwa, menghilangkan kegundahan, menjauhkan dari kebodohan, hingga menggapai kebahagiaan. Sedang ketiadaannya jelas akan memberikan kesengsaraan, kemiskinan, kegersangan pada jiwa, mendatangkan kesedihan, hingga kehinaan yang berkepanjangan. Dan kesemuanya  itu akan dirasakan bukan hanya sebatas di kehidupan sekarang, tapi juga akan ditemui hingga di setelah kematian.

Tapi ternyata tidak semua ilmu itu mampu menghadirkan kebahagiaan hidup, bahkan tidak sedikit menimbulkan kehampaan hidup. Ilmu itu laksana penunjuk jalan, dimana semuanya kembali kepada niat, cara, tujuan, hingga apa yg dia pelajari. Sebab cita-cita yang rendah dan hina, dosa kemaksiatan, kedzoliman, aniaya, kesombongan, kelalaian, kurangnya perenungan hingga kamalasan yang terkadang hadir menjadi jalan menukik, untuk mendapatkan inti kebahagiaan yang diharapkan.

Ilmu syar’i secara mutlak menjadi pedoman untuk menggapai kemuliaan dan kebahagiaan, dari pada selainnya. Bukan hanya menunjukkan makrifat kepada Allah selaku Robbul Izzati, menjelaskan eksistensi kebaikan, kemaslahatan, kebenaran, keharmonisan antara jasmani dan rohani, namun karena ia adalah warisan para nabi, yang tentunya kesemuanya terlegimitasi oleh Sang Pencipta.

Penempuh ilmu syar’i membuka berbagai jalan ke surga dan pahala. Pencapaiannya memuliakan dan meninggikan derajarnya. Memahaminya menjadi bagian dari tanda-tanda kebaikan. Ia juga sarana mendekat kepada Sang Pengasih dan Penyayang, karena diantara ciri diatara mereka orang-orang yang memiliki ilmu adalah mereka yang memiliki rasa khosyah, takut kepada-Nya. Dan inilah yang akan melindunginya dari berbagai dosa kemaksiaan yang menjadi sebab kehancurannya.

Terakhir, mejadi sebuah keutamaan, kemuliaan, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan tiada tara bagi kita, sekiranya Allah memudahkan kita dalam memahami ilmu syar’i ini, yaitu Ilmu tentang makrifat kepada siapa itu Allah dan Ilmu tentang apa yang Allah perintahkan kepada kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menunjukkan kita kepada jalan yang menyelamatkan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah … kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan amal yang diterima.”

 [Mazdien_Azhary]