Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2020

TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)

 Firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)

 

“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah([1]) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).

]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت[(النحل: من الآية:36)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut([2]).” (QS. An Nahl, 36).

]وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا[

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra’, 23-24).

]قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).

          Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.([3])

       Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :

كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :" يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : " لا تبشرهم فيتكلوا ".

 

“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (HR. Bukhari, Muslim).

 

         Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta'ala.

  2. Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.

  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :

]ولا أنتم عابدون ما أعب[

        “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)

  1. Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].

  2. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.

  3. Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].

  4. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.

        Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :

]فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى[

“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).

  1. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.

  2. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.

  3. Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra' mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :

]لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا[

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).

               Dan diakhiri dengan firmanNya :

]ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا[

“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).

 

Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:

]ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة[

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).

  1. Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:

] واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا [

“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).

  1. Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.

  2. Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.

  3. Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.

  4. Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat([4]).

  5. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.

  6. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.

  7. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.

  8. Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

  9. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.

  10. Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.

  11. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.

  12. Keutamaan Muadz bin Jabal..

 

 

 


 

([1])   Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

         Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

([2])   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.

([3])   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.

([4])  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat. 

Selasa, 29 September 2020

TUJUAN PENCIPTAAN MAKHLUK

Oleh 

Ustad Abdussalam Busyro, Lc

==============================

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jinn dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."(QS Adz Dzāriyāt: 56)

Para ulamā tatkala menafsirkan: يَعۡبُدُونِ adalah yuwahhidun. 

Kita perhatikan ayat ini. 

"Dan tidaklah Aku ciptakan."

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Al Khaliq (Dzat yang Maha Pencipta), pencipta langit dan bumi. 

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Dzat yang memberikan kepada kita suatu pernyataan: 

"Sesungguhnya Dialah Allāh, Dzat yang Maha Pencipta (Al khaliq Al Bāri)."

Apakah yang Allāh ciptakan? 

Dialah Allāh Rabbul Ālamīn. 

Ketika kita berbicara Ālamīn, maka Ālamīn adalah jinn, manusia dan yang lainnya, itu adalah alam. 

Penyebutan jinn didahulukan baru setelah itu penyebutan manusia. 

Begitu kita lihat ayat ini: 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ 

Kenapa jinn didahulukan dan penyebutan manusia diakhirkan? Padahal ketika kita berbicara ilmu, tentunya manusia jauh lebih mulia jika dibandingkan dengan jinn. 

Tetapi kenapa jinn lebih dahulu disebutkan? 

Jawabannya adalah: 

Karena penciptaan jinn lebih awal dibandingkan penciptaan manusia. 

Di ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga menyebutkan: 

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ ۞ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

"Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia."

(QS  An Nās: 5-6)

Ayat di atas menyebutkan jinn dahulu baru manusia. 

Tadi telah kita sampaikan bahwasanya, penyebutan jinn lebih dahulu dari manusia karena penciptaan jinn lebih awal dibanding penciptaan manusia. 

Jinn adalah makhluk Allāh dan Allāh menyebutkan: 

إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."

(QS Al 'Arāf: 27)

Subhānallāh.

Nikmat tatkala kita tidak melihat jinn. Tatkala kita berada di masjid di sana ada majelis ilmu, ada kaum muslimin yang hadir begitu juga ada jinn yang hadir. 

Sebagaimana manusia ada yang muslim ada pula yang kafīr, demikian pula jinn ada yang muslim ada pula yang kafīr. 

Oleh karena itu kita dianjurkan banyak membaca do'a agar dijauhkan dari gangguan jinn. 

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ ۞ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Sebagian jinn beriman kepada Allāh.

Bagi yang ingin mendalami pengetahuan tentang masalah jinn (bagaimanakah jinn beriman kepada Allāh), bisa buka surat Al Jinn. 

Maka tidak benar bila ada sebagian orang yang memahami, bahwasanya jinn itu tidak ada. Jinn itu ada dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam ayat-Nya 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ

Di dalam Al Qurān terdapat surat Al Insān, manusia diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Manusia adalah makhluk Allāh yang terhormat, manusia adalah makhluk Allāh yang bermartabat, manusia adalah makhluk Allāh yang mulia. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ . 

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Ādam.")(QS Al Isrā': 70)

Dalam ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍۢ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."(QS At Tīn: 4)

Dan manusia adalah sebaik-baik bentuk. Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan nikmat kepada manusia berupa panca indera. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan manusia dalam keadaan terhormat, tatkala manusia berdiri kepalanya di atas, tatkala manusia duduk kepalanya di atas, tatkala manusia tidur (mengambil bantal) dan kepalanya tetap berada di atas. 

Coba perhatikan ayam. 

Tatkala ayam berjalan, kepalanya di atas, tatkala ayam makan, maka ekor ayam tersebut lebih tinggi dibandingkan kepalanya. 

Kita perhatikan kambing. 

Kepala kambing sejajar dengan punggungnya, sejajar dengan badannya, begitu kambing makan, maka ekornya (pantatnya) lebih tinggi daripada kepalanya. 

Tetapi manusia adalah makhluk yang mulia maka kemuliaan yang ada pada manusia hendaknya dijadikan syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla :  إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ. 

Yang dimaksud dengan: يَعۡبُدُونِ , adalah yuwahhidun, meng-Esakan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam perkara ibadah. 

In syā Allāh pada pertemuan yang akan datang kita akan bahas lanjutan dari pembahasan Kitābu At Tauhīd yaitu apakah arti ibadah.

Sumber: Grup WA Materi BiAS. 

Sabtu, 19 September 2020

Kisah Yang Membuat Merinding

 Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah, beliau berkata:


Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

"Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?"


Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, "Kalau ini bukan tuhan yang patut disembah."


Dia pun berkata, "Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?" Kami menjawab, "Kami menyembah Allah."


Dia menjawab, "Apa itu Allah." Kami mengatakan, "Allah adalah Rabb yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, baik yang hidup ataupun yang mati."


"Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?" Tanya dia. Kami menjawab, "Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami."


"Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?" Tanyanya. Kami menjawab, "Beliau menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya."


"Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?" Tanyanya. "Ya." Jawab kami.

"Apa yang dia tinggalkan?" Tanyanya lagi. Kami menjawab, "Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kitab suci dari Rabb Yang Maha Memiliki."


"Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu." Pintanya.

"Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus." Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur'an. Dia berkata, "Aku tidak tahu apa ini."


Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur'an. Ketika kami sedang membacanya tiba-tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.


Dia berkata, "Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati."

Kemudian dia masuk Islam, lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur'an kepadanya.


Lalu kami pun membawanya ke kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, "Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku, apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?"


Kami menjawab, "Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri sendiri dan Maha Agung yang tidak pernah tidur."

Dia mengatakan, "Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur."

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.


Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, "Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita."

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata "Untuk apa ini?"

Kami berkata, "Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu."


Dia menjawab, "Laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)?"


Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat. [At-Tawwaabun, Ibnu Qudamah rahimahullah: 179]

=================================

Ust Manazil Billah


Rabu, 16 September 2020

BERIMAN KEPADA YANG GHOIB

Allah 'azza wa jalla berfirman,

الم، ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Alif Laam Miim. Kitab Al-Qur'an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu); mereka yang beriman kepada yang ghaib...” [Al-Baqoroh: 1-5]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Hakikat keimanan adalah:

1. Pembenaran secara menyeluruh terhadap apa yang dikabarkan oleh para Rasul.

2. Mencakup ketundukan anggota tubuh (amalan-amalan zhahir).

Dan bukanlah hakikat iman itu meyakini apa-apa yang dapat disaksikan dengan panca indera saja, karena itu tidak membedakan antara seorang muslim dengan kafir (karena sama-sama memiliki panca indera yang dapat menyaksikan)

Hanyalah hakikat iman itu adalah meyakini yang ghaib, yang tidak kita lihat dan saksikan, akan tetapi kita mengimaninya karena adanya berita dari Allah dan Rasul-Nya.

Inilah diantara keimanan yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir, karena mengimani yang ghaib adalah semata-mata pembenaran terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Maka seorang mukmin mengimani semua yang dikabarkan oleh Allah atau yang dikabarkan oleh Rasul-Nya, sama saja apakah ia menyaksikannya atau tidak menyaksikannya, apakah ia memahaminya dan mampu dicerna akalnya atau pun akal dan pemahamannya tidak sanggup menggapainya.

Berbeda dengan orang-orang sesat dan mendustakan perkara-perkara ghaib, mereka tidak beriman hanya karena akal-akal mereka pendek, terbatas dan tidak sanggup menggapainya, mereka pun mendustakan sesuatu yang tidak dapat dililiputi secara menyeluruh ilmunya oleh akal manusia, maka rusaklah akal-akal mereka dan hilanglah kecerdasan mereka, sedang akal-akal kaum mukminin tetap bersih karena membenarkan perkara ghaib dan menempuh jalan hidayah Allah.

Dan termasuk keimanan terhadap yang ghaib adalah:

1. Mengimani seluruh yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-rasul-Nya tentang perkara-perkara ghaib yang telah lalu dan yang akan datang.

2. Mengimani keadaan-keadaan di akhirat (yang disebutkan dalam dalil shahih).

3. Mengimani hakikat dan bentuk sifat-sifat Allah, maka mereka mengimani dan meyakini keberadaan sifat-sifat Allah (yang maha tinggi lagi maha mulia) meski mereka tidak memahami hakikat bentuknya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 40-41]

=============================

Ust. Sofyan 

Senin, 17 Agustus 2020

KEMERDEKAAN YANG HAKIKI

Merdeka yang hakiki adalah mengamalkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta'ala, dan membebaskan diri dari semua bentuk penghambaan kepada selain-Nya.

Karena ibadah kepada Allah adalah sifat dasar manusia, yang merupakan tujuan hamba diciptakan, sedangkan hawa nafsu dan setan ingin memalingkan hamba agar beribadah kepada selain Allah 'azza wa jalla.

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

هربوا من الرق الذي خلقوا له

وبلوا برق النفس والشيطان

"Mereka berpaling dari peribadahan kepada Allah yang merupakan tujuan mereka diciptakan, maka mereka menjadi budak nafsu dan setan." [Al-Kaafiyah Asy-Syaafiyah melalui Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

أن وصف الإنسان بالعبودية لله يعد كمالاً، لأن العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابداً لغيره

"Bahwa sifat manusia beribadah kepada Allah adalah kesempurnaan baginya, karena penghambaan kepada Allah adalah HAKIKAT KEMERDEKAAN, barangsiapa yang tidak menghamba kepada Allah maka dia adalah hamba selain-Nya." [Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnul 'Utsaimin rahimahullah juga berkata,

إذا قال ذلك رجل حر وأراد أنه حر من رق الخلق، فنعم هو حر من رق الخلق، وأما إن أراد أنه حر من رق العبودية لله - عز وجل - فقد أساء في فهم العبودية، ولم يعرف معنى الحرية، لأن العبودية لغير الله هي الرق أما عبودية المرء لربه - عز وجل - فهي الحرية

"Jika seorang berkata 'saya merdeka' dan yang ia maksudkan adalah merdeka dari penjajahan makhluk maka maknanya benar, ia memang harus merdeka dari penjajahan makhluk. Adapun jika yang ia maksudkan adalah merdeka dari penghambaan kepada Allah 'azza wa jalla maka ia telah salah besar dalam memahami penghambaan, dan ia tidak memahami arti kemerdekaan, karena penghambaan kepada selain Allah itulah penjajahan. Adapun penghambaan seseorang kepada Rabbnya 'azza wa jalla, maka itulah kemerdekaan." [Majmu' Al-Fatawa, 3/81]

Dan ibadah yang diterima oleh Allah hanyalah apabila dilakukan dengan ikhlas dan meneladani Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam, maka:

- Merdeka yang hakiki apabila semua ibadah kita hanya diniatkan ikhlas karena Allah dan melepaskan diri penghambaan kepada pujian manusia dan keuntungan dunia semata.

- Merdeka yang hakiki adalah meneladani sunnah; yaitu mencontoh Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam dalam setiap amalan, dan melepaskan diri dari belenggu taklid dan fanatisme golongan (hizbiyyah).

Sumber: https://www.instagram.com/p/CD-xLu0hLIh/

Sabtu, 11 Juli 2020

PENGERITIAN AQIDAH

Aqidah adalah ketetapan yang didalamnya tidak terdapat keraguan pada seseorang yang mengambil keputusan.