Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label HADITS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HADITS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2020

KARENA WANIITA HARUS DINASIHATI

 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Dan berilah nasihat dengan baik kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk (yang bengkok), dan tulang rusuk yang paling bengkok itu adalah bagian paling atasnya, jika engkau memaksa untuk meluruskannya engkau akan mematahkannya, namun jika engkau biarkan ia akan tetap bengkok, maka nasihatilah para wanita dengan baik.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

BEBERAPA PELAJARAN

1. Kewajiban menasihati wanita dengan metode yang lembut dan tidak membiarkannya dalam kebengkokan. Kesalahan wanita hendaklah diluruskan, namun dengan cara yang baik, tidak dengan cara yang kasar dan keras. 

2. Bersikap kasar dan keras kepada wanita akan mematahkannya, maknanya adalah akan terjadi perceraian.

3. Isyarat bolehnya menceraikan seorang istri apabila tidak dapat diluruskan.

4. Anjuran untuk menggunakan metode pendekatan hati dalam menasihati, agar hati orang yang dinasihati lebih mudah menerima kebenaran. Dan sebaik-baik cara menasihati agar menyentuh hati adalah menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

5. “Politik” dalam mengatur wanita adalah dengan memaafkan kesalahannya dan bersabar menghadapi kebengkokannya serta tetap memberi nasihat dengan cara yang baik.

[Disarikan dari Fathul Baari, (9/253-254) dan ‘Umdatul Qori, (29/403-405)]


Senin, 16 November 2020

MENGAPA WANITA BANYAK MASUK NERAKA

 Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء

"Aku menoleh ke surga maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan aku menoleh ke neraka maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita." [Al-Bukhari dari Imron bin Hushain dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhum]

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda,

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَط

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka kufur. Beliau ditanya: Apakah mereka kufur kepada Allah? Beliau menjawab: Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan suami, yaitu andaikan engkau berbuat baik kepada seorang istri sepanjang waktu, kemudian sekali saja ia melihat kesalahanmu, maka ia berkata: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ: وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير

“Wahai para wanita bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah), karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian para wanita yang terbanyak menghuni neraka. Maka berkatalah seorang wanita yang pandai: Mengapa kami para wanita yang terbanyak menghuni neraka? Beliau bersabda: Karena kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhum, dan ini lafaz Muslim]

Dalam hadits yang lain,

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Karena kalian banyak mengeluh dan kufur terhadap suami.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

BEBERAPA PELAJARAN

1. Durhaka kepada suami, tidak menaati perintahnya yang tidak menyelisihi syari’at dan tidak berterima kasih kepadanya, termasuk sebab terbanyak yang memasukkan wanita ke dalam neraka, karena mengingkari kebaikan suami termasuk dosa besar (lihat Syarhu Muslim lin Nawawi, 2/66).

2. Sebab yang lainnya adalah karena banyak melaknat, dan makna melaknat ada dua:

• Pertama: Mencaci atau mencela (lihat Syarhu Riyadhis Shaalihin libnil ‘Utsaimin, 3/67)

• Kedua: Mendoakan orang lain agar dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah (lihat Syarhu Muslim, 2/67)

3. Sebab yang lainnya adalah banyak mengeluh, dan bisa kemungkinan dua makna:

• Pertama: Mengeluhkan keadaan suami dan tidak menunaikan haknya, padahal sang suami telah banyak berbuat baik kepadanya.

• Kedua: Mengeluhkan rezeki yang Allah berikan, tidak bersyukur kepada-Nya dan tidak merasa tenang dengan ketetapan-Nya (lihat Ihkaamul Ahkaam, 1/346)

======================================================================

Oleh : Ustad Sofyan Chalid; Sumber: Telegram Taawundakwah.com

Sabtu, 14 November 2020

BAHAYA TIDAK IKHLAS DALAM MENUNTUT ILMU

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.” [HR. At-Tirmidzi dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu’anhu, Shahih At-Targhib: 106]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” [HR. Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahih Ath-Targhib: 105]

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata,

ما صَدَق الله عبد يحب الشهرة بعلم أو عمل أو كرم

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang cinta popularitas dengan ilmu, amal atau kedermawanan.” [Bayaanul ‘Ilmi, hal. 63]

Bisyr bin Al-Harits rahimahullah berkata,

لا يجد حلاوة الآخرة رجل يحب أن يعرفه الناس

“Tidak akan mendapatkan manisnya akhirat, orang yang suka dikenal oleh manusia.” [Al-Hilyah, 8/343, Bayaanul ‘Ilmi, hal. 64]

Rabu, 14 Oktober 2020

Menggapai manisnya Iman

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار.

"Ada tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seorang hamba maka ia akan meraih manisnya keimanan:

(1) Hendaklah ia jadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain kedua-Nya.

(2) Dan hendaklah ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah.

(3) Dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci kalau dirinya dilempar ke dalam api." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

وفي رواية للبخاري: وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ.

Dalam riwayat Al-Bukhari: Dan sampai dilempar ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekafiran, setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَمَعْنَى حَلَاوَةِ الْإِيمَانِ اسْتِلْذَاذُ الطَّاعَاتِ وَتَحَمُّلُ الْمَشَاقِّ فِي الدِّينِ وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَعْرَاضِ الدُّنْيَا

“Makna manisnya iman adalah merasa lezat dalam melakukan ketaatan, menahan beban dalam mengamalkan agama dan lebih mendahulukan hal tersebut dari seluruh kenikmatan dunia.” [Fathul Baari, 1/61]

Al-Imam Ahmad bin Harb rahimahullah berkata,

عَبَدْتُ اللهَ خَمْسِيْنَ سَنَةً فَمَا وَجَدْتُ حَلاَوَةَ العِبَادَةِ حَتَّى تَرَكْتُ ثَلاَثَةَ أَشيَاءٍ تَرَكْتُ رِضَى النَّاسِ حَتَّى قَدِرْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِالحَقِّ، وَتَرَكْتُ صُحْبَةَ الفَاسِقِيْنَ حَتَّى وَجَدْتُ صُحْبَةَ الصَّالِحِيْنَ، وَتَرَكْتُ حَلاَوَةَ الدُّنْيَا حَتَّى وَجَدْتُ حَلاَوَةَ الآخِرَةِ.

“Aku beribadah kepada Allah selama 50 tahun, tapi aku tidak mendapatkan manisnya ibadah sampai aku meninggalkan tiga perkara:

(1) Aku tinggalkan mencari ridho manusia hingga aku mampu mengatakan yang benar.

(2) Aku tinggalkan pertemanan dengan para pendosa hingga aku berteman dengan orang-orang shalih.

(3) Aku tinggalkan manisnya dunia hingga aku mendapatkan manisnya akhirat.” [Siyar A’lamin Nubala, 9/99]


BEBERAPA PELAJARAN

1. Cinta kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam adalah ibadah yang sangat agung, dan itu dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah ta'ala dengan cara meneladani Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa sallam.

2. Cinta karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat, dan maknanya adalah kita mencintai seseorang hendaklah karena ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka semakin takwa seseorang hendaklah kita semakin cinta kepadanya.

3. Kewajiban membenci kekafiran dan orang-orang kafir, dan mencintai keimanan dan orang-orang yang beriman.

4. Kewajiban bersabar menghadapi berbagai rintangan dalam beriman dan bertakwa kepada Allah ta’ala.

5. Mengalami penderitaan di dunia sampai kehilangan nyawa dengan cara yang paling berat seperti dibakar, itu lebih baik daripada melakukan dosa kekafiran, lalu mendapatkan azab yang jauh lebih dahsyat di akhirat.

==============================

Ust. Sofyan 

Jumat, 18 September 2020

WANITA MASUK SURGA DARI PINTU MANA SAJA

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dari zina, dan taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” [HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]

Al-'Allamah Ash-Shon'ani rahimahullah berkata,

لأن هذه الخلال أمهات أفعال الخير وأسباب دخول الجنة فإذا وفيت بها وقيت شر ما عداها

"Karena empat perkara dalam hadits ini adalah induk amalan-amalan baik dan sebab-sebab masuk surga, apabila seorang wanita mengamalkannya dengan baik maka ia akan terpelihara dari kejelekan." [At-Tanwir, 2/121]


BEBERAPA PELAJARAN

1. Keutamaan sholat lima waktu dan puasa Ramadhan yang merupakan bagian dari rukun Islam, dan kaum wanita ditekankan secara khusus untuk memperhatikan sholat dan puasa karena banyak wanita yang meremehkan kedua ibadah tersebut.


2. Keutamaan wanita yang menjaga kesucian diri dari perbuatan zina.


3. Kewajiban menjauhi perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepada zina, diantaranya membuka komunikasi yang tidak penting antara lawan jenis, baik di dunia nyata maupun dunia maya; berpacaran yang terselubung maupun yang terang-terangan.


4. Kewajiban atas seorang istri untuk selalu menaati suami dalam perkara apa pun, selama bukan maksiat kepada Allah ta’ala, dan bahwa itu adalah kemuliaan bagi seorang wanita, bukan kelemahan.


5. Luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala bagi seorang wanita shalihah.

Senin, 07 September 2020

*🤲🏼DOA AGAR DIPERMUDAH RIZKI *

 قال الإمام الطبراني رحمه الله في معجمه الكبير

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بن أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن زِيَادٍ الْبُرْجُمِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بن مُوسَى، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود، قَالَ: 

ضَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ إِلَى أَزْوَاجِهِ يَبْتَغِي عِنْدَهُنَّ طَعَامًا، فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ، فَقَالَ:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ، فَأُهْدِيَتْ إِلَيْهِ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَقَالَ:هَذِهِ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ، وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ الرَّحْمَةَ.

قلت : إسناده لا بأس به ،

وقال الإمام الهيثمي رحمه الله في مجمع الزوائد ومنبع الفوائد :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرَ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْبُرْجُمِيِّ، وَهُوَ ثِقَةٌ


Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'uud radliyallaahu 'anhu, ia berkata:


Nabi ﷺ kedatangan tamu. Lalu beliau ﷺ mengutus seseorang ke istri beliau barangkali ada yang memiliki makanan. Ternyata tidak seorang pun dari istri beliau yang memiliki makanan.


Beliau ﷺ berdoa : *"ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA MIN FADHLIKA WA RAHMATIKA, FA INNAHU LAA YAMLIKUHAA ILLAA ANTA* (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian karunia dan rahmat-Mu, Sesungguhnya tidak ada yang memilikinya melainkan Engkau)". (Maka tidak lama kemudian), ada orang yang menghadiahi beliau daging kambing bakar. Beliau ﷺ bersabda : "Ini adalah sebagian dari karunia Allah, sementara kami menunggu rahmat-Nya"


[Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu'jam Al-Kabiir, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu'aim dalam Hilyatul-Auliyaa', dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah].


Asy-Syaikh Al-Albaaniy menyatakan keshahihan hadits ini dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1543.


Begitu juga doa Musa 'alaihis-salaam, sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:


وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ


"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). 

Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: *"RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR* (Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku)" [QS. Al-Qashshash : 23-24].


Ibnu 'Abbaas radliyallaahu 'anhu mengatakan bahwa doa tersebut diucapkan Musa 'alaihis-salama ketika ia ditimpa rasa lapar membutuhkan makanan , sampai-sampai perut dan punggungnya terasa berdekatan (karena sangat laparnya).

Akhirnya, Musa diundang ke rumah orang tua dua orang wanita yang ditolongnya.


Itulah akhlak para Nabi. Mereka hanya bergantung kepada Allah ta'ala atas kesempitan yang mereka alami, dan Allah satu-satunya tuhan yang semua makhluk-Nya bersandar kepada-Nya.

 Wallohu A'lam..

Kamis, 27 Agustus 2020

PUASA 10 MUHARRAM (ASYURA)


 BOLEHKAH PUASA 10 MUHARRAM (ASYURA) TANPA PUASA TANGGAL 9?

🍀 Kita sudah mengetahui keutamaan Puasa Asyura. 

Namun ada keutamaan jika mengikutkan dengan puasa Tasu’ah yaitu puasa pada tanggal 9 Muharram di antara tujuannya adalah untuk Menyelisihi Yahudi. 

● Bagaimana jika puasanya hanya sehari, tanggal 10 Muharram saja?

🌴 Puasa Tanggal 9 (Tasu’ah) dan 10 Muharram (Asyura)

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” 

(HR. Muslim no. 1162).

🍀  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”

(HR. Muslim no. 1134).

🌴 Hukum Puasa Tanggal 10 (Asyura) Sehari Saja

∆     Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa makruh hukumnya jika berpuasa pada tanggal 10 saja dan tidak diikutsertakan dengan tanggal 9 Muharram atau tidak diikutkan dengan puasa tanggal 11-nya. 

∆     Sedangakan ulama Hambali tidak menganggap makruh jika berpuasa tanggal 10 saja. Sebagaimana pendapat ini menjadi pendapat dalam madzhab Imam Malik. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 90.

📍 Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah bahwa Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

● Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? 

An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. 

Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. 

Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). 

📍  Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 15.

Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat sunnahnya berpuasa pada tanggal 11 bagi yang tidak sempat berpuasa tanggal sembilannya. 

Bahkan disebutkan oleh Asy Syarbini Al Khotib, Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Imla’ mengatakan bahwa disunnahkan berpuasa tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharram.

🍒 KESIMPULANNYA, tidaklah makruh melaksanakan puasa Asyura saja yaitu tanggal 10 tanpa diiringi tanggal 9. Namun lebih baiknya dua hari tersebut digabungkan untuk menyelisihi orang Yahudi. 

Jika tidak sempat tanggal 9 dan 10, maka bisa memilih tanggal 10 dan 11 untuk berpuasa. Karena tujuannya sama, agar puasa Asyura tersebut tidak menyerupai puasa orang Yahudi. 

Wallahu a’lam.


Sumber: Rumaysho.com

Jumat, 14 Agustus 2020

Ancaman memutus silaturrohim

 *"Ancaman Memutuskan Tali Kekeluargaan"*


عَنْ أَبِى مُحَمَّدُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ. قَالَ سفيان في روايته: يَعْنِي: قَاطِع رَحِم. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)


Artinya :

_Dari Abu Muhammad, yaitu Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk syurga seseorang yang memutuskan." Sufyan  berkata dalam riwayatnya bahwa yang dimaksudkan ialah memutuskan ikatan kekeluargaan."_ (Muttafaq 'alaih)


*Pelajaran yang terdapat pada hadits di atas :*


1. Ancaman yang sangat berat bagi siapa yang memutuskan tali Silaturahim.

2. Dosa yang sangat besar bagi siapa yang memutuskan hubungan Silaturahim.

3. Ancaman bagi orang yang memutuskan tali silaturahim, diantaranya:

1) Pemutus silaturrahim tidak akan masuk surga.

2) Pemutus silaturrahim dipercepat siksaan terhadap dosanya.

3) Amal pemutus silaturrahim tidak diterima oleh Allah SWT.

4) Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala.


*Tema hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :*


1. Ancaman bagi siapa yang memutuskan hubungan Silaturahim;


فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۞ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ ۞


_"Apakah barangkali, andai kalian semua berkuasa, maka kalian akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan ikatan kekeluargaanmu semua. Orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Allah memekakkan pendengaran mereka dan membutakan penglihatan mereka."_ (QS. Muhammad: 22-23)


2. Keharaman memutuskan ikatan kekeluargaan;


وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ ۞


_"Dan orang-orang yang merusak janji Allah sesudah diteguhkannya dan juga memutuskan apa-apa yang diperintah oleh Allah untuk dihubungkannya serta membuat kerusakan di bumi, maka mereka itulah yang mendapatkan laknat dan akan memperoleh tempat kediaman yang terburuk."_ (QS. Ar-Ra'ad: 25)


3. Saling memaafkan itulah ciri muslim sejati;


وَلْيَـعْفُوْا وَلْيَـصْفَحُوْا ۗ اَ لَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۞


_"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."_ (QS. An-Nur 24: 22)

Kamis, 30 Juli 2020

ADAB TERHADAP HEWAN QURBAN

Oleh : Ustad Sofyan Chalid, Lc

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

"Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat yang terbaik dalam segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan cara yang terbaik, apabila kamu menyembelih, sembelihlah dengan cara yang terbaik, hendaklah setiap kalian menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya." [HR. Muslim dari Syaddad bin Aus radhiyallahu'anhu]

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ، وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ، وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصرِها، قَالَ:أَفَلا قَبْلَ هَذَا، أَوَ تُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتَينِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melewati seseorang yang meletakkan kakinya di atas badan samping seekor kambing sambil menajamkan pisaunya, sedang kambing itu melihat ke arah pisau, maka beliau bersabda: Mengapakah engkau tidak menajamkan pisau sebelum melakukan ini, apakah engkau ingin mematikannya dua kali?!” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath, Ash-Shahihah: 24, Shahihut Targhib: 1090]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

ويستحب أن لا يحد السكين بحضرة الذبيحة وأن لا يذبح واحدة بحضرة أخرى ولا يجرها إلى مذبحها

“Dan dianjurkan untuk tidak menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan, tidak boleh pula menyembelih seekor hewan di depan yang lainnya, dan tidak boleh menyeretnya ke tempat pemyembelihannya di depan yang lainnya.” [Syarhu Muslim 13/113]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1. Kewajiban berbuat baik kepada hewan sembelihan dan membuatnya nyaman sebelum disembelih.

2. Tidak boleh menajamkan pisau di hadapan hewan sembelihan.

3. Tidak boleh menyembelih atau menyeret seekor hewan ke tempat penyembelihan dan disaksikan oleh hewan yang lain.

4. Sifat kasih sayang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang sangat besar, demikianlah yang harus diteladani oleh umat beliau.

5. Keistimewaan dan kesempurnaan ajaran Islam serta ketinggian dan keluhuran akhlak yang dianjurkan dalam Islam.

Simak #Video_Pendek On YouTube: https://youtu.be/FyMChM37VC0

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.


Senin, 27 Juli 2020

Menimbang antara Qurban atau Sodaqoh


حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وبقي في بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها . 5249


Imam Bukhori berkata: Abu 'Ashim meriwayatkan hadits kepada kami dari Yazid bin Abi Ubaid dari Salamah bin al-Akwa’ berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.


Para ulama, di antaranya adalah Imam Ahmad menyatakan bahwa menyembelih kurban lebih utama daripada mensedekahkan harganya.

Ibnul Qayyim berkata, “Menyembelih pada waktunya lebih utama daripada sedekah dengan harganya, sekalipun dengan jumlah sedekah yang lebih banyak daripada harga nominal Qurban. Mengingat bahwa penyembelihan dan mengalirkan darah adalah target dari peribadatan itu sendiri. Berkurban merupakan ibadah yang disandingkan dengan shalat.

Allah ta’ala berfirman,artinya, “Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dan Allah ta’ala berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Di setiap agama ada shalat dan penyembelihan yang tidak tergantikan dengan yang lain.

Di antara alasannya adalah :

1- Qurban adalah ibadah khusus yang diperintahkan di waktu yang khusus pula, sementara sedekah adalah ibadah umum yang tidak berpatok dengan waktu, bila sebuah ibadah sudah ditentukan di waktu tertentu, maka ia merupakan ibadah paling utama di waktunya, bukan ibadah umum.

2- Bahwa Qurban adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan amal kaum muslimin, seandainya sedekah harga lebih utama, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesekali akan meninggalkan qurban dan menggantinya dengan sedekah, tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan amalan yang kalah utama dengan amalan lain semenjak beliau tiba di Madinah sampai wafat.

3- Suatu kali kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertimpa paceklik, saat itu waktu qurban tiba, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah dengan harga qurban, sebaliknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kaum muslimin untuk menyembelih dan membagikan dagingnya kepada kaum muslimin.

Dalam ash-Shahihain dari Salamah bin al-Akwa’ berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.”

Dalam Shahih al-Bukhari Aisyah ditanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan daging kurban lebih dari tiga hari?” Dia menjawab, “Beliau tidak melakukannya kecuali di tahun di mana masyarakat sedang paceklik, beliau ingin orang kaya memberi makan orang miskin.”

4- Seandainya kaum muslimin menggantinya dengan sedekah, niscaya melenyapkan sebuah syiar agung dalam Islam yaitu qurban, syiar yang ditetapkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits, dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin dan beliau menamakannya sunnah kaum muslimin.
Berkurban pada saat idul Adha merupakan syiar agung umat islam di seluruh negeri, sehingga layak untuk diperlihatkan syiar ibadah ini di setiap tempat. Syiar agama yg berujud dzikir, penyembelihan kurban dan menyelisihi tata cara kaum musyrik dalam berkurban, dimana syiar ini tidak terlihat kalau dilaksanakan dengan cara sedekah atau ibadah lain.

https://www.alukah.net/spotlight/0/92227/

Kamis, 23 Juli 2020

Hikmah larangan memotong rambut dan kuku

Oleh: Ustad H. Saefuddin, Lc
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

 قال صلى الله عليه وسلم: ( إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضّحي، فليمسك عن شعره وأظفاره ) وفي رواية ( فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي ).
رواه مسلم

“Jika kalian melihat hilal Dzul Hijjah, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaklah menahan diri (tidak memotong) rambut dan kuku-kukunya”. Dalam redaksi yang lain: “Jika sepuluh hari awal Dzul Hijjah sudah masuk, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaknya tidak menyentuh (memotong) rambut dan bulu tubuhnya sedikitpun” (HR. Muslim)

Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah dari tidak mencukur rambut dan memotong kuku adalah agar seluruh bagian tubuh itu tetap mendapatkan kekebalan dari api neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudnya biar ada kemiripan dengan jamaah haji yang sedang berihram. 

 { { إن تقرضوا الله قرضاً حسناً يضاعفه لكم ويغفر لكم والله شكور حليم } } [التغابن: 17] 

Kurban adalah sedekahnya seorang muslim. Dalam beberapa ayat, ia dibahasakan sebagai investasi akherat kita, sebagaimana ayat di atas. Jika ditunaikan sesuai syarat dan ketentuan syariat, maka Allah akan memberi keuntungan berlipat serta dijanjikan ampunan-Nya.

Dalam sebuah riwayat, setiap organ tubuh hewan kurban akan membebaskan anggota tubuh mudhohhinya. Sampai-sampai rambut dan kukunya pun tidak luput.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita tidak memotongnya, baik dari tubuh kita maupun hewan yang akan dikurbankan.

Larangan ini berlaku sejak awal bulan DzulhijjahsDzulhijjah hewan kurban disembelih. Berharap, semakin banyak anggota tubuh kita yang selamat dari neraka.

Wallohu ta'ala a'lam..

Senin, 20 Juli 2020

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

Oleh : Ustad H. Saefuddin, Lc. (Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)


عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام -يعني الأيام العشر- قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء .}روى البخاري في صحيحه{"

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’ Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari ini .(maksud beliau adalah hari-hari yang sepuluh). Sahabat bertanya:’Wahai Rasulullah, walaupun jihad fi sabililah?’Beliau menjawab:’Ya, walaupun jihad fi sabililah, kecuali seseorang yang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu dari jihad itu dia tidak pulang lagi dengan membawa suatu apapun.”(HR.Al-Bukhari)

Pengesahan hadits:
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (Fathul Bari II/457)

Di antara keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah:

1.Allah Ta’ala bersumpah dengannya (sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah), dan bersumpah menggunakan sesuatu menunjukan arti penting dan besarnya manfaat hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman:


(والفجر وليال عشر)

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh (QS.Al-Fajr:1-2)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Zubair, Mujahid rahimahullah dan banyak dari kalangan salaf maupun khalaf berkata: Sesungguhnya itu adalah sepuluh hari dzulhijjah. Ibnu katsir berkata :ini adalah pendapat yang benar (tafsir Ibnu katsir)
2.Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan bahwa hari-hari tersebut adalah hari-hari terbaik sebagaimana hadits di atas.

3. Hadits ini mengandung motivasi untuk beramal shalih di dalamnya, karena kemuliaan waktu tersebut.

4.Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk memperbanyak tasbih, tahmid, dan takbir pada hari-hari tersebut, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad.


عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد". أخرجه أحمد 7/224 وصحّح إسناده أحمد شاكر

“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau berkata:’Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah di dalamnya tahlil (laa ilaha illallahu),takbir, dan tahmid.
(HR.Ahmad dan sanadnya dishahihkan oleh syaikh Ahmad Syakir)

5.Di dalamnya ada hari Arafah dan itu adalah hari yang disaksikan, di mana Allah menyempurnakan agama Islam pada hari itu. Berpuasa pada hari Arofah dapat menghapus dosa dua tahun.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ. 
اخرجه مسلم في صحيحه ( 20/482 برقم 2063

Jumat, 17 Juli 2020

Shalat paling afdhol

Oleh: Ustad H. Saefuddin,Lc 
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

عابن عمر قال : 
قال الرسول صلى الله عليه وسلم : 
( أفضل الصلوات عند الله صلاة الصبح يوم الجمعة في جماعة ) .
رواه البيهقي في ((شعب الإيمان)) (3045)
صححه الألباني في صحيح الجامع (1119)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Rasulullah saw bersabda: "Shalat yg paling afdhol di sisi Allah adalah shalat berjamaah subuh pada hari jum'at."
Diriwayatkan oleh Al Baihaqy di dalam kitab Sy'abul Iman,
Dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahihul Jami' no. 1119

Selasa, 14 Juli 2020

Pentingnya Menjaga Silaturrahmi

oleh: Ustad H. Saefuddin, Lc
(Pengajar Pondok  Ibnul Qoyyim Putra)

 
الرَّحِمُ معلَّقةٌ بالعرشِ تقولُ : مَن وَصَلني وصلَه اللهُ ومَن قطعني قطعه اللهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan
dengannya.”

الراوي : عائشة أم المؤمنين
  المحدث : الألباني  
المصدر : غاية المرام
الصفحة أو الرقم: 406 
حكم المحدث : صحيح

التخريج : أخرجه مسلم (2555)

Sabtu, 11 Juli 2020

KUNCI SEGALA KEBAIKAN

MEMAHAMI ILMU AGAMA ADALAH KUNCI SEGALA KEBAIKAN
========================
Ustad Sofyan Chalid

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah akan memahamkannya dengan agama, dan aku hanyalah membagi sedang Allah Dia-lah yang memberi, dan akan senantiasa (segolongan) umat ini tegak (istiqomah) di atas agama Allah, orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka, sampai datang ketetapan Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَهَذَا الْحَدِيثُ مُشْتَمل على ثَلَاثَة أَحْكَام أَحدهَا فضل التفقه فِي الدِّينِ وَثَانِيهَا أَنَّ الْمُعْطِيَ فِي الْحَقِيقَةِ هُوَ اللَّهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ بَعْضَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَبْقَى عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا

"Hadits ini mencakup tiga permasalahan:

Pertama: Keutamaan mendalami ilmu agama.

Kedua: Bahwa yang memberi secara hakiki adalah Allah ta’ala.

Ketiga: Bahwa sebagian umat ini akan selalu istiqomah di atas kebenaran." [Fathul Bari, 1/164]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

وَقد تتَعَلَّق الْأَحَادِيث الثَّلَاثَةِ بِأَبْوَابِ الْعِلْمِ بَلْ بِتَرْجَمَةِ هَذَا الْبَابِ خَاصَّةً مِنْ جِهَةِ إِثْبَاتِ الْخَيْرِ لِمَنْ تَفَقَّهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يَكُونُ بِالِاكْتِسَابِ فَقَطْ بَلْ لِمَنْ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهِ وَأَنَّ مَنْ يَفْتَحِ اللَّهُ عَلَيْهِ بِذَلِكَ لَا يَزَالُ جِنْسُهُ مَوْجُودًا حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

"Dan tiga perkara dalam hadits ini berkaitan dengan bab-bab ilmu, bahkan dengan bab ini secara khusus, yaitu:

(1) Dari sisi penetapan kebaikan untuk orang yang mendalami ilmu agama.

(2) Bahwa pemahaman itu tidak dapat diraih hanya dengan usaha, namun dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya untuk memahami agama.

(3) Bahwa orang yang telah Allah berikan pertolongan untuk memahami agama, maka golongan ini akan senantiasa berada di atas kebenaran sampai datang ketetapan Allah." [Fathul Bari, 1/164]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadits ini bahwa siapa yang tidak mendalami agama, yaitu tidak mempelajari kaidah-kaidah dasar Islam dan cabang-cabang yang terkait dengannya maka ia tidak akan meraih kebaikan.” [Fathul Bari, 1/165]

Al-Kirmani rahimahullah berkata,

أَنَّ مِنْ جُمْلَةِ الِاسْتِقَامَةِ أَنْ يَكُونَ التَّفَقُّهَ لِأَنَّهُ الْأَصْلُ

“Bahwa termasuk makna istiqomah hendaklah mendalami ilmu agama, karena ia adalah pokoknya.” [Fathul Bari, 13/293]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم