Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Selasa, 29 September 2020

TUJUAN PENCIPTAAN MAKHLUK

Oleh 

Ustad Abdussalam Busyro, Lc

==============================

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman: 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jinn dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."(QS Adz Dzāriyāt: 56)

Para ulamā tatkala menafsirkan: يَعۡبُدُونِ adalah yuwahhidun. 

Kita perhatikan ayat ini. 

"Dan tidaklah Aku ciptakan."

Maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah Al Khaliq (Dzat yang Maha Pencipta), pencipta langit dan bumi. 

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, Dzat yang memberikan kepada kita suatu pernyataan: 

"Sesungguhnya Dialah Allāh, Dzat yang Maha Pencipta (Al khaliq Al Bāri)."

Apakah yang Allāh ciptakan? 

Dialah Allāh Rabbul Ālamīn. 

Ketika kita berbicara Ālamīn, maka Ālamīn adalah jinn, manusia dan yang lainnya, itu adalah alam. 

Penyebutan jinn didahulukan baru setelah itu penyebutan manusia. 

Begitu kita lihat ayat ini: 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ 

Kenapa jinn didahulukan dan penyebutan manusia diakhirkan? Padahal ketika kita berbicara ilmu, tentunya manusia jauh lebih mulia jika dibandingkan dengan jinn. 

Tetapi kenapa jinn lebih dahulu disebutkan? 

Jawabannya adalah: 

Karena penciptaan jinn lebih awal dibandingkan penciptaan manusia. 

Di ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga menyebutkan: 

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ ۞ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

"Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia."

(QS  An Nās: 5-6)

Ayat di atas menyebutkan jinn dahulu baru manusia. 

Tadi telah kita sampaikan bahwasanya, penyebutan jinn lebih dahulu dari manusia karena penciptaan jinn lebih awal dibanding penciptaan manusia. 

Jinn adalah makhluk Allāh dan Allāh menyebutkan: 

إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka."

(QS Al 'Arāf: 27)

Subhānallāh.

Nikmat tatkala kita tidak melihat jinn. Tatkala kita berada di masjid di sana ada majelis ilmu, ada kaum muslimin yang hadir begitu juga ada jinn yang hadir. 

Sebagaimana manusia ada yang muslim ada pula yang kafīr, demikian pula jinn ada yang muslim ada pula yang kafīr. 

Oleh karena itu kita dianjurkan banyak membaca do'a agar dijauhkan dari gangguan jinn. 

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ ۞ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Sebagian jinn beriman kepada Allāh.

Bagi yang ingin mendalami pengetahuan tentang masalah jinn (bagaimanakah jinn beriman kepada Allāh), bisa buka surat Al Jinn. 

Maka tidak benar bila ada sebagian orang yang memahami, bahwasanya jinn itu tidak ada. Jinn itu ada dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan di dalam ayat-Nya 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ

Di dalam Al Qurān terdapat surat Al Insān, manusia diciptakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Manusia adalah makhluk Allāh yang terhormat, manusia adalah makhluk Allāh yang bermartabat, manusia adalah makhluk Allāh yang mulia. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ . 

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Ādam.")(QS Al Isrā': 70)

Dalam ayat lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan: 

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍۢ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."(QS At Tīn: 4)

Dan manusia adalah sebaik-baik bentuk. Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan nikmat kepada manusia berupa panca indera. 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla ciptakan manusia dalam keadaan terhormat, tatkala manusia berdiri kepalanya di atas, tatkala manusia duduk kepalanya di atas, tatkala manusia tidur (mengambil bantal) dan kepalanya tetap berada di atas. 

Coba perhatikan ayam. 

Tatkala ayam berjalan, kepalanya di atas, tatkala ayam makan, maka ekor ayam tersebut lebih tinggi dibandingkan kepalanya. 

Kita perhatikan kambing. 

Kepala kambing sejajar dengan punggungnya, sejajar dengan badannya, begitu kambing makan, maka ekornya (pantatnya) lebih tinggi daripada kepalanya. 

Tetapi manusia adalah makhluk yang mulia maka kemuliaan yang ada pada manusia hendaknya dijadikan syukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. 

Karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla :  إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ. 

Yang dimaksud dengan: يَعۡبُدُونِ , adalah yuwahhidun, meng-Esakan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam perkara ibadah. 

In syā Allāh pada pertemuan yang akan datang kita akan bahas lanjutan dari pembahasan Kitābu At Tauhīd yaitu apakah arti ibadah.

Sumber: Grup WA Materi BiAS. 

Minggu, 27 September 2020

KELUAR RUMAH SAAT PANDEMI?

Untukmu yang harus keluar rumah, untuk mencari nafkah, jangan sampai lupa:


1. Membaca zikir keluar rumah

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله

BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAAH

Artinya:

“Dengan nama Allah (aku keluar), aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa membaca zikir ini saat keluar rumah, maka dia akan diberikan petunjuk, dicukupi kebutuhannya, dan akan dilindungi (dari bahaya apapun).” (HR. Abu Dawud)


2. Membaca doa singgah di suatu tempat

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقْ

A-’UUDZU BIKALIMAATILLAAHIT TAAM-MAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ

Artinya:

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan mahluk.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, dan dia baca zikir ini, maka tidak ada sesuatu pun yang bisa membahayakannya, sampai dia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim)


3. Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas setiap pagi dan petang sebanyak 3 kali

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: “Bacalah Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq & An-Nas), saat pagi dan sore, sebanyak 3 kali, itu akan melindungimu dari segala sesuatu.” (HR. Abu Dawud)


4. Membaca zikir saat melihat orang terkena musibah

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا

ALHAMDULILLAAHIL-LADZII ‘AAFAANII MIMMAB TALAAKِِِِِِA BIHI WA FADH-DHOLANII ‘ALAA KATSIIRIN MIMMAN KHOLAQO TAFDHIILAA

“Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari musibah yang menimpamu, serta memberikan kelebihan kepadaku atas sekian banyak ciptaan-Nya.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa melihat orang yang terkena musibah, kemudian membaca zikir ini, maka dia akan diselamatkan dari musibah itu.” (HR. At-Tirmidzi)


5. Bersedekah semampunya walaupun hanya sedikit

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bahwa sedekah bisa menolak kematian yang buruk.” (HR. At-Tirmidzi)

Jangan khawatir hartamu berkurang, justru dengan sedekah itu Allah akan menjadikan rezeki dan hartamu semakin lapang.


6. Melakukan upaya kauni yang bisa menyelamatkan diri dari musibah

Melakukan usaha lahir (sebab kauni) yang bisa menjaga dan menyelamatkan diri dari bala’ dan musibah. Sebagaimana arahan ahli kesehatan ketika wabah Corona Covid-19 ini, yaitu memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak fisik 1 – 2 meter, makan yang bergizi, istirahat yang cukup, berjemur di bawah sinar matahari pagi, dan lain-lain.


7. Bertawakkal kepada Allah

Bertawakkal kepada Allah setelah melakukan semua usaha di atas. Serahkan semuanya kepada Allah. Allah lah sebaik-baik penjaga dan penyelamat kita. Allah lah yang paling menyayangi para hamba-Nya yang patuh dan taat kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Bertawakkallah kalian hanya kepada Allah, jika kalian benar beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Semoga Allah menjaga dan menyelamatkan kita semua, dari bala’ dan musibah yang ada. Aamiin..

===============================

Penulis: Ustadz Dr. Musyaffa Addariny

TAK AKAN PERNAH KEMBALI

Waktu kehidupan yang telah berlalu takkan pernah kembali. Manfaatkan hari-harimu untuk beramal shalih, sebelum datang hari perpisahan yang memutuskan segala kelezatan dunia. Di hari itu, penyesalan tiada lagi berarti.

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ، وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Dan sedekahkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang beramal shalih." [Al-Munafiqun: 9-10]

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ الَّلذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat kematian; pemutus segala kenikmatan dunia." [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasaai dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Shahih An-Nasaai: 1823]

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah hari-hari. Setiap hari yang berlalu, maka berlalu pula sebagian dirimu." [Al-Hilyah, 2/148]

Sabtu, 19 September 2020

Kisah Yang Membuat Merinding

 Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah, beliau berkata:


Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

"Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?"


Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, "Kalau ini bukan tuhan yang patut disembah."


Dia pun berkata, "Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?" Kami menjawab, "Kami menyembah Allah."


Dia menjawab, "Apa itu Allah." Kami mengatakan, "Allah adalah Rabb yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, baik yang hidup ataupun yang mati."


"Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?" Tanya dia. Kami menjawab, "Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami."


"Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?" Tanyanya. Kami menjawab, "Beliau menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya."


"Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?" Tanyanya. "Ya." Jawab kami.

"Apa yang dia tinggalkan?" Tanyanya lagi. Kami menjawab, "Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kitab suci dari Rabb Yang Maha Memiliki."


"Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu." Pintanya.

"Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus." Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur'an. Dia berkata, "Aku tidak tahu apa ini."


Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur'an. Ketika kami sedang membacanya tiba-tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.


Dia berkata, "Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati."

Kemudian dia masuk Islam, lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur'an kepadanya.


Lalu kami pun membawanya ke kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, "Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku, apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?"


Kami menjawab, "Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri sendiri dan Maha Agung yang tidak pernah tidur."

Dia mengatakan, "Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur."

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.


Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, "Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita."

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata "Untuk apa ini?"

Kami berkata, "Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu."


Dia menjawab, "Laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)?"


Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat. [At-Tawwaabun, Ibnu Qudamah rahimahullah: 179]

=================================

Ust Manazil Billah


Jumat, 18 September 2020

BENCANA DAN DOSA

Sungguh sangat disayangkan, masih ada pihak yang mengingkari korelasi antara dosa dan bencana. Bahkan, mereka mempropagandakan bahwa bencana adalah murni peristiwa alam dan tidak ada sangkut pautnya dengan dosa. Gempa, misalnya. Mereka menganggap bahwa gempa hanyalah peristiwa bergesernya lempengan bumi, seraya mengatakan, “Jangan kaitkan gempa dengan dosa.” Subhanallah.

Mari kita perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala, Cermati kembali tafsirnya. Dengan jelas Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari dosa-dosamu).” (asy-Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkan ayat di atas, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa musibah apa pun yang menerpa seorang hamba, baik menimpa badan, harta, anak-anaknya, atau menimpa segala yang dia cintai dan berharga; semua itu disebabkan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Bahkan, dosa-dosa yang Allah subhanahu wa ta’ala ampuni lebih banyak (daripada yang dibalas/dihukum). Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan hlm. 759)

Setelh membaca ayat dan tafsir di atas, pantaskah seseorang menyatakan, “Jangan kaitkan musibah dengan dosa”?

Mari kita baca kembali sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dengan jelas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa merebaknya wabah penyakit adalah akibat dari fahisyah yang menyebar dan dilakukan secara terang-terangan.

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 3262)

Setelah memahami kembali hadits di atas, patutkah seseorang menyatakan, “Jangan kaitkan wabah penyakit dengan dosa”?

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma bertutur,

وَاللهِ مَا أَرَاكُمْ مُنْتَهِينَ حَتَّى يُعَذِّبَكُمُ اللهُ، أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللهِ، وَتُحَدِّثُونَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

Demi Allah! Aku tidak melihat kalian akan berhenti, hingga Allah subhanahu wa ta’ala mengazab kalian. Yang demikian disebabkan ketika aku mengatakan “Rasulullah bersabda demikian”, kalian justru mengatakan kepada kami, “Abu Bakar dan Umar berkata demikian.” (Lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih no. 2377)

Adalah tidak pantas bagi seorang mukmin, apabila sampai kepadanya ayat Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Rasul-Nya, kemudian dia malah memiliki pendapat sendiri yang bertentangan dengan ayat dan hadits. Apakah demikian sikap seorang mukmin?

Allah subhanahu wa ta’ala befirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, kemudian mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Di dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan bahwa bencana adalah akibat dari dosa. Oleh karena itu, bertobat dan kembali kepada Allah, serta tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, adalah solusi supaya Allah subhanahu wata’ala berkenan mengangkat bencana tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Ketika datang bencana yang Kami timpakan kepada mereka, mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri? Hati mereka justru telah menjadi keras, dan setan pun menghias-hiasi kepada mereka seolah apa yang mereka kerjakan adalah baik.” (al-An’am: 43)

Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan bahwa apabila Dia menimpakan suatu hukuman, kemudian mereka mau tunduk merendahkan diri dan beriman kepada-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat bencana tersebut. (Lihat Tafsir al-Baghawi atau yang dikenal dengan Ma’alim at-Tanzil 3/143)

Wallahu a’lam bish-shawab.

===============================

Sumber : Telegram Fiqih Learning Center

WANITA MASUK SURGA DARI PINTU MANA SAJA

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita sholat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dari zina, dan taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” [HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]

Al-'Allamah Ash-Shon'ani rahimahullah berkata,

لأن هذه الخلال أمهات أفعال الخير وأسباب دخول الجنة فإذا وفيت بها وقيت شر ما عداها

"Karena empat perkara dalam hadits ini adalah induk amalan-amalan baik dan sebab-sebab masuk surga, apabila seorang wanita mengamalkannya dengan baik maka ia akan terpelihara dari kejelekan." [At-Tanwir, 2/121]


BEBERAPA PELAJARAN

1. Keutamaan sholat lima waktu dan puasa Ramadhan yang merupakan bagian dari rukun Islam, dan kaum wanita ditekankan secara khusus untuk memperhatikan sholat dan puasa karena banyak wanita yang meremehkan kedua ibadah tersebut.


2. Keutamaan wanita yang menjaga kesucian diri dari perbuatan zina.


3. Kewajiban menjauhi perbuatan-perbuatan yang mengantarkan kepada zina, diantaranya membuka komunikasi yang tidak penting antara lawan jenis, baik di dunia nyata maupun dunia maya; berpacaran yang terselubung maupun yang terang-terangan.


4. Kewajiban atas seorang istri untuk selalu menaati suami dalam perkara apa pun, selama bukan maksiat kepada Allah ta’ala, dan bahwa itu adalah kemuliaan bagi seorang wanita, bukan kelemahan.


5. Luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala bagi seorang wanita shalihah.

Kamis, 17 September 2020

KEWAJIBAN DAN KEUTAMAAN TAUBAT DAN ISTIGHFAR

Allah ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Nuh 'alaihissalaam,


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً


“Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan melimpah, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]


Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang ucapan Nabi Hud 'alaihissalaam,


وَيَٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡاْ مُجۡرِمِينَ 


"Dan (Hud berkata): Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat melimpah atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." [Hud: 52]


BEBERAPA PELAJARAN


1. Kewajiban taubat dan istighfar, memohon ampun kepada Allah ta’ala dari semua dosa.


Allah 'azza wa jalla juga berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ


“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” [At-Tahrim: 8]


Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ


“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari 100 kali.” [HR. Muslim dari Al-Agarr bin Yasar Al-Muzani radhiyallahu’anhu]


2. Taubat yang benar haruslah memenuhi enam syarat:

Pertama: Ikhlas karena Allah ta’ala.

Kedua: Segera meninggalkan dosa tersebut.

Ketiga: Menyesalinya.

Keempat: Bertekad tidak akan mengulanginya.

Kelima: Segera sebelum tertutup pintu taubat, yaitu sebelum ajal menjemput atau terbitnya matahari dari arah Barat.

Keenam: Jika dosa itu adalah kezaliman kepada orang lain seperti ghibah dan merampas harta maka wajib meminta maaf, atau meminta penghalalan dan atau mengembalikan haknya. Kecuali ghibah yang tidak diketahui oleh orang yang dighibahi maka cukup dengan mendoakannya.


3. Keutamaan taubat dan istighfar di dunia dan akhirat:

- Di dunia membuka pintu rezeki dan keturunan.

- Di akhirat mendapatkan ampunan dan rahmat.

- Bahkan taubat dan istighfar adalah solusi semua problema.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan sebuah atsar dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Bahwa seseorang mengadukan kemarau panjang kepada Al-Hasan Al-Bashri, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kemiskinan, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kekeringan kebunnya, maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Orang yang lain mengadukan kemandulan (tidak punya anak), maka beliau berkata: Mohon ampunlah kepada Allah! Kemudian beliau membacakan kepada mereka ayat ini (Surat Nuh ayat 10-12).” [Fathul Baari, 11/98]

===============================

Ust. Sofyan

Rabu, 16 September 2020

BERIMAN KEPADA YANG GHOIB

Allah 'azza wa jalla berfirman,

الم، ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Alif Laam Miim. Kitab Al-Qur'an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu); mereka yang beriman kepada yang ghaib...” [Al-Baqoroh: 1-5]

Asy-Syaikh Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Hakikat keimanan adalah:

1. Pembenaran secara menyeluruh terhadap apa yang dikabarkan oleh para Rasul.

2. Mencakup ketundukan anggota tubuh (amalan-amalan zhahir).

Dan bukanlah hakikat iman itu meyakini apa-apa yang dapat disaksikan dengan panca indera saja, karena itu tidak membedakan antara seorang muslim dengan kafir (karena sama-sama memiliki panca indera yang dapat menyaksikan)

Hanyalah hakikat iman itu adalah meyakini yang ghaib, yang tidak kita lihat dan saksikan, akan tetapi kita mengimaninya karena adanya berita dari Allah dan Rasul-Nya.

Inilah diantara keimanan yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir, karena mengimani yang ghaib adalah semata-mata pembenaran terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Maka seorang mukmin mengimani semua yang dikabarkan oleh Allah atau yang dikabarkan oleh Rasul-Nya, sama saja apakah ia menyaksikannya atau tidak menyaksikannya, apakah ia memahaminya dan mampu dicerna akalnya atau pun akal dan pemahamannya tidak sanggup menggapainya.

Berbeda dengan orang-orang sesat dan mendustakan perkara-perkara ghaib, mereka tidak beriman hanya karena akal-akal mereka pendek, terbatas dan tidak sanggup menggapainya, mereka pun mendustakan sesuatu yang tidak dapat dililiputi secara menyeluruh ilmunya oleh akal manusia, maka rusaklah akal-akal mereka dan hilanglah kecerdasan mereka, sedang akal-akal kaum mukminin tetap bersih karena membenarkan perkara ghaib dan menempuh jalan hidayah Allah.

Dan termasuk keimanan terhadap yang ghaib adalah:

1. Mengimani seluruh yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-rasul-Nya tentang perkara-perkara ghaib yang telah lalu dan yang akan datang.

2. Mengimani keadaan-keadaan di akhirat (yang disebutkan dalam dalil shahih).

3. Mengimani hakikat dan bentuk sifat-sifat Allah, maka mereka mengimani dan meyakini keberadaan sifat-sifat Allah (yang maha tinggi lagi maha mulia) meski mereka tidak memahami hakikat bentuknya.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 40-41]

=============================

Ust. Sofyan 

SAAT MEMBERI NASEHAT, BERUSAHALAH SEDIKIT DEMI SEDIKIT MEMPERBAIKI DIRI

Sebagian ulama mengatakan: 

"Ada tiga ayat dalam Alqur'an yang hendaknya selalu ada di depan mata seorang penuntut ilmu.

Ayat pertama (yang artinya):

"Aku tidaklah ingin melanggar larangan yabg telah kusampaikan kepada kalian".[QS. Hud: 88]

Ayat kedua (yang artinya) :

"Mengapa kalian katakan; apa yang tidak kalian lakukan".[QS. Ash-Shoff:2]

Ayat ketiga (yang artinya) :

"Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan, namun kalian lupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Alkitab?! Tidakkah kalian berpikir?!"[QS. Al-baqarah: 44]


🍀 Janganlah Anda gunakan pesan ini sebagai penghalang menasehati orang lain. Tapi manfaatkanlah sebagai penyemangat dalam mengubah diri ke arah yang lebih baik.


Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita semua, baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan, maupun menyebarkannya, aamiin.

Kamis, 10 September 2020

AMALAN YANG PALING BAIK

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Mulk, ayat dua,

الذي خلق الموت و الحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا

“Sesungguhnya Dialah Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya.”(QS. Al Mulk:2)

Siapa di antara kalian yang paling bagus perangainya, paling bagus akhlaknya, paling lurus akidahnya paling sesuai dengan sunnah nabinya. Kata al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah,

makna ahsanu amalan “Yang paling ikhlasnya dan yang paling cocok dengan sunnah.” ahsanuha adalah akhlasuha wa ashwabuha

ahsanu amala, yang paling baik amalannya adalah yang paling ikhlasnya dan yang paling sesuai dengan ajaran sunnah Rasulullah

Walaupun ikhlas seikhlas-ikhlasnya,

kalau dia tidak mencocoki ajaran sunnah Rasulullah, tertolak, enggak diterima Dan itu dengan hadis-hadis sahih, dalam kitab-kitab sahih

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

Siapa yang beramal dengan amalan yang bukan perintahku dan tidak ada perintahku maka dia tertolak atau

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ

Siapa yang mengada-adakan suatu ajaran baru dalam agamanya,

bukan dari nabinya, dia tertolak Maka bekal yang kita bawa dalam pertemuan nanti dengan Allah, bekal menuju kematian, bekal menuju akhirat, bekal menuju negeri yang abadi adalah ahsanu amalan

Sebaik-baik amalan, yaitu yang paling ikhlasnya, paling murni untuk Allah, dan yang paling ashwabuha yang paling tepat, cocok dengan ajaran sunnah Rasulullah

Wallahu a’lam bish-shawab

Selasa, 08 September 2020

GENERASI PENGGANTI YANG JELEK

(Generasi yang Menyia-nyiakan Shalat dan Memperturutkan Hawa Nafsu)

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” [Maryam: 59-60]

BEBERAPA PELAJARAN 

1. Ancaman yang keras terhadap orang-orang yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsu; bahwa mereka:

Pertama: Tersesat di dunia.

Kedua: Diazab di hari kiamat dalam lembah yang sangat dalam, baunya sangat busuk dan mengalir padanya nanah dan darah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat (lihat Tafsir Al-Baghawi, 5/241 dan Tafsir Ibnu Katsir, 5/245).


2. Makna menyia-nyiakan sholat:

Pertama: Meninggalkan sholat sama sekali.

Kedua: Menunda-nunda waktu sholat (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/243).


3. Dua sifat generasi pengganti yang jelek adalah menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsu.

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata tentang mereka,

هم في هذه الأمة، يتراكبون تراكب الأنعام والحمر في الطرق، لا يخافون الله في السماء، ولا يستحيون الناس في الأرض

“Mereka hidup dalam umat ini seperti binatang-binatang ternak dan keledai-keledai di jalan-jalan; tidak takut kepada Allah ta’ala yang di langit dan tidak malu kepada manusia di bumi.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/244]


4. Orang yang menyia-nyiakan sholat maka ia juga akan menyia-nyiakan perkara lain dan mempertututkan hawa nafsu.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

وإذا أضاعوها فهم لما سواها من الواجبات أضيع؛ لأنها عماد الدين وقوامه، وخير أعمال العباد

“Apabila mereka telah menyia-nyiakan sholat maka kewajiban-kewajiban lain mereka akan lebih menyia-nyiakan, karena sholat adalah tiang dan penopang agama, serta sebaik-baiknya amalan para hamba.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/243]


5. Keutamaan orang yang bertaubat dari syirik, bid’ah dan maksiat, kemudian beriman dan beramal shalih.

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata dalam Tafsir beliau,

"Kemudian Allah ta’ala memberikan pengecualiaan, Allah ta’ala berfirman:

'Kecuali orang yang bertaubat' yaitu bertaubat dari syirik, bid’ah dan maksiat, maka ia segera meninggalkan dosa-dosa tersebut, menyesalinya dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.

'Dan beriman' yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir.

'Dan beramal shalih', yaitu amalan yang disyari’atkan oleh Allah melalui lisan-lisan para rasul-Nya, apabila ia meniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas karena Allah).

'Mereka itu' yaitu orang-orang yang mengumpulkan antara taubat, iman dan amal shalih.

'Akan masuk surga' yang di dalamnya ada kenikmatan yang kekal, kehidupan yang selamat dan berada di sisi Rabb yang Maha Pemurah.

'Dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun' yaitu balasan terhadap amalan-amalan mereka tidak dirugikan, bahkan mereka akan mendapatkannya secara sempurna, berlimpah pahalanya dan dilipatgandakan jumlahnya." [Tafsir As-Sa’di, hal. 496]


Wallohu'alam.

==============================================

Ust. Sofyan Ruray

'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu 'anhu (Ibnu 'Umar)

 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu 'anhu (wafat 72 H)

Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah adalah Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan 2.630 hadits.


Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab saudarah kandung Sayiyidah Hafshah Ummul Mukminin. Ia salah seorang diantara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.


Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang. Dan tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.


Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain. Imam Malik dan az-Zuhri berkata:” Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar”. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.


Ia wafat pada tahun 73 H. ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang kerumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula mula diracun kemudian di tombak dan di rejam. Pendapat lain mengatakan bahwa ibnu Umar meninggal secara wajar.
Sanad paling shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut Silsilah adz- Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar. Sedang yang paling Dlaif : Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.

Senin, 07 September 2020

*🤲🏼DOA AGAR DIPERMUDAH RIZKI *

 قال الإمام الطبراني رحمه الله في معجمه الكبير

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بن أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن زِيَادٍ الْبُرْجُمِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بن مُوسَى، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود، قَالَ: 

ضَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ إِلَى أَزْوَاجِهِ يَبْتَغِي عِنْدَهُنَّ طَعَامًا، فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ، فَقَالَ:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لا يَمْلِكُهَا إِلا أَنْتَ، فَأُهْدِيَتْ إِلَيْهِ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَقَالَ:هَذِهِ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ، وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ الرَّحْمَةَ.

قلت : إسناده لا بأس به ،

وقال الإمام الهيثمي رحمه الله في مجمع الزوائد ومنبع الفوائد :

رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ غَيْرَ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْبُرْجُمِيِّ، وَهُوَ ثِقَةٌ


Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'uud radliyallaahu 'anhu, ia berkata:


Nabi ﷺ kedatangan tamu. Lalu beliau ﷺ mengutus seseorang ke istri beliau barangkali ada yang memiliki makanan. Ternyata tidak seorang pun dari istri beliau yang memiliki makanan.


Beliau ﷺ berdoa : *"ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA MIN FADHLIKA WA RAHMATIKA, FA INNAHU LAA YAMLIKUHAA ILLAA ANTA* (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian karunia dan rahmat-Mu, Sesungguhnya tidak ada yang memilikinya melainkan Engkau)". (Maka tidak lama kemudian), ada orang yang menghadiahi beliau daging kambing bakar. Beliau ﷺ bersabda : "Ini adalah sebagian dari karunia Allah, sementara kami menunggu rahmat-Nya"


[Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu'jam Al-Kabiir, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu'aim dalam Hilyatul-Auliyaa', dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah].


Asy-Syaikh Al-Albaaniy menyatakan keshahihan hadits ini dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1543.


Begitu juga doa Musa 'alaihis-salaam, sebagaimana dalam firman Allah ta'ala:


وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ


"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). 

Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: *"RABBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHAIRIN FAQIIR* (Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku)" [QS. Al-Qashshash : 23-24].


Ibnu 'Abbaas radliyallaahu 'anhu mengatakan bahwa doa tersebut diucapkan Musa 'alaihis-salama ketika ia ditimpa rasa lapar membutuhkan makanan , sampai-sampai perut dan punggungnya terasa berdekatan (karena sangat laparnya).

Akhirnya, Musa diundang ke rumah orang tua dua orang wanita yang ditolongnya.


Itulah akhlak para Nabi. Mereka hanya bergantung kepada Allah ta'ala atas kesempitan yang mereka alami, dan Allah satu-satunya tuhan yang semua makhluk-Nya bersandar kepada-Nya.

 Wallohu A'lam..

Jumat, 04 September 2020

Tim Puskesmas Piyungan Kunjungi Ponpes Ibnul Qoyyim Putra Tinjau Kesiapan Kedatangan Santri (Tahap 1)

 


Pada hari Kamis, 15 Muharam 1442 H / 3 September 2020, Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim dikunjungi oleh tim peninjau dari Puskesmas Piyungan, Bantul, DIY. Hal ini merupakan tindak lanjut dari permohonan izin pihak pesantren kepada pemerintah setempat untuk kembali mengadakan pendidikan secara tatap muka, dengan tetap mengikuti peraturan kebiasaan baru. Setelah menjalani prosedur perizinan, dan juga menerima undangan untuk presentasi persiapan dari Kecamatan Piyungan pada hari Selasa, satuan tugas Covid-19 Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra menyambut kedatangan tim peninjau dari Puskesmas. 

Kunjungan yang dilakukan oleh tim dari Puskesmas Piyungan pada hari ini merupakan peninjauan persiapan tahap pertama. Pada kesempatan tersebut tim peninjau dari Puskesmas Piyungan berjumlah 4 orang. Kegiatan peninjauan ini dimulai dari pukul 11.00 s./d pukul 13.00, dibersamai oleh 4 orang satgas covid PPIQ, Ustadz. H. Bayu Arif Kurnia S.Pd, Ustadz. Muhammad Fajar Nur Rachmat Lc, Ustadz Alwi, dan Ustadz Alvatera Bima.

Kegiatan utama yang dilaksanakan pada peninjauan tahap pertama ini adalah pengecekan protokol kesehatan dan fasilitas. Bersama satgas covid PPIQ, tim peninjau Puskesmas Piyungan mengunjungi setiap gedung pondok, mulai dari asrama, masjid, UKS, ruang-ruang kelas, kantor, dapur, ruang makan, serta kamar mandi. Ketua tim peninjau. Setelah meninjau seluruh protokol dan fasilitas kesehatan kebiasaan baru, Ibu Lia selaku ketua tim peninjau memberi tanggapan, "persiapan yang dilakukan sudah cukup bagus dan sesuai standar, namun ada beberapa hal yang perlu ditambahi."



Ustadz Alwi selaku penanggung jawab lapangan satgas covid PPIQ, memberi keterangan bahwa ada banyak hal yang perlu ditambah untuk melengkapi protokol kesehatan dalam menyambut kedatangan santri, di antarnya adalah; penambahan poster tata cara cuci tangan dan 4M, sterilisasi masjid menggunakan disinfektan, pengatur keluar masuk masjid, petugas pos jaga menggunakan APD, dan lain sebagainya.

Tim peninjau Puskesmas Piyungan berharap pihak pondok segera membenahi dan menambah protokol dan fasilitas sesuai catatan yang telah disampaikan selama peninjauan pertama ini. In shaa Allah akan segera dilakukan lagi peninjauan tahap kedua, setelah kesepakatan antara pihak pondok dan tim Puskesmas. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan untuk persiapan ini, agar santri bisa segera kembali ke Pondok, dan bisa menjalani pendidikan tatap muka seperti tahun-tahun sebelumnya.


Reporter: Muhammad Jundi Rabbani

Rabu, 02 September 2020

Evaluasi Bulanan Bersama Unit Putra dan Putri

 


Selasa, 13 Muharram 1442 H / 1 September 2020. 


Setelah beberapa bulan tidak melaksanakan evaluasi Bulanan bersama sebab pandemi, jajaran Pimpinan, Guru, dan Karyawan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta unit Putra dan Putri kini kembali berkumpul bersama untuk melaksanakan evaluasi Bulanan.
Pada kesempatan ini, evalusi bersama bertempat di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim unit Putra.

Acara dimulai dari pukul 13.00 dan yang menjadi pembawa acara adalah Ustadz. H. Burhanadi Nurdin.

Pada kesempatan siang itu, acara diawali dengan melantunkan Asmaul Husna dan bacaan Al Quran, yang dipimpin oleh Direktur KMI PPIQ Putra, Ustadz. H. Purwadi  Pangestutyas M.Pd.I. Lantunan Asmaul Husna dan Al Quran siang itu membuat suasana kumpul terasa tenang.


Setelah itu, Pimpinan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, KH. Rohadi Agus Salim, M.Pd.I dihaturkan waktu oleh pembawa acara untuk memberikan arahan kepada seluruh jajaran Guru dan Karyawan. Beliau menyampaikan, semoga kebiasaan baik membaca Al Quran di setiap agenda evaluasi bulanan, akan menurunkan sakinah dan semangat baru, dan beliau berharap semoga pondok kita terus dilimpahi kebaikan oleh Allah ta'aala.
Setelah arahan dari Pak Kiyai, MC membacakan susunan acara yang berikutnya, yaitu Tausiyah.

Pada kesempatan kali ini, yang memberikan Tausiyah adalah salah satu Guru Senior di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, yang kini menjadi Penasehat, beliau adalah Ustadz. H. Anas Masduki.


Banyak nasihat yang di sampaikan oleh Ustadz Anas pada kesempatan siang ini, secara umum beliau memberikan materi tentang "Mengambil pelajaran dari tahun baru Hijriah, serta perjuangan para kaum muhajirin dan Asnhor."
Beliau berharap agar semua guru dan karyawan pondok bisa mengambil hikmah dari kehidupan kaum Muhajirin dan Anshor, yang mana sejarah dua  kaum tersebut sarat dengan sikap tolong menolong untuk kemajuan Islam.

Ada satu hal yang menarik yang beliau sampaikan di akhir pembicaraannya, yaitu tentang semboyan dari Bapak Pendidikan Indonesia, yaitu Ki. Hajar Dewantara.

"Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"  artinya, "yang di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"

Beliau berharap agar semua yang terlibat di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim bisa menghimpun 3 sikap di atas. Ada saat nya kita memberi contoh, ada saatnya kita memberi semangat, dan ada saat di mana kita harus memberi dorongan.

Semoga dengan ini semua jajaran pengurus serta para guru dan karyawan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim bisa terus mengembangkan pondok tercinta.


 Reporter: Muhammad Jundi Rabbani

Selasa, 01 September 2020

Ukhuwah Islamiyah

 إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 


Arti: Orang-orang beriman itu sesungguhnya b Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. — Quran Surat Al-Hujurat Ayat 10 Tafsir Quran Surat al-Hujurat Ayat 10-12 Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara dalam agama, karena itu, bila mereka bertikai, maka damaikanlah di antara saudara-saudara kalian itu. Takutlah kepada Allah dalam segala urusan kalian agar kalian dirahmati olehNya. (Tafsir al-Muyassar) Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, dan persaudaraan dalam Islam itu berkonsekuensi atas kalian -wahai orang-orang yang beriman- untuk mendamaikan antara dua saudara kalian yang sedang bertikai. Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan harapan kalian akan dirahmati. (Tafsir al-Mukhtashar)


 Sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara dalam agama dan akidah. Berdamailah dengan saudara kalian saat terjadi perselisihan dan pertentangan. Bertakwalah kepada Allah saat terjadi perselisihan tentang hukum-hukumNya dan berlakulah sebagai penengah, supaya kalian dirahmati dan ditolongNya dalam menciptakan perdamaian, sebagai hasil dari ketakwaan kalian (Tafsir al-Wajiz)


 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ 

(Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara) Yakni mereka semua kembali kepada satu asal, yaitu kemanan, oleh sebab itu mereka adalah bersaudara karena berada dalam agama yang sama.

. فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ

( Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu) Yakni antara dua orang Islam yang saling berselisih. Begitu pula kelompok yang membelot terhadap pemimpin, mereka adalah kelompok yang zalim jika mereka membelot tanpa alasan yang benar, namun mereka tetaplah bersaudara dengan orang-orang beriman. (Zubdatut Tafsir)