Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Senin, 31 Agustus 2020

MENYIAPKAN FASILITAS KESEHATAN SESUAI PROTOKOL GUGUS COVID 19, PP IBNUL QOYYIM PUTRA BERSEGERA DATANGKAN SANTRI

 

Dalam rangka mendatangkan santri, Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta menggelar rapat yang dihadiri oleh seluruh asatid dan karyawan.  Pada rapat yang dipimpin oleh direktur Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta Ust Purwadi Pangestutyas,S.Pd membahas tentang persiapan kedatangan santri dengan menyiapkan fasilitas sesuai protokol kesehatan.





Persiapan protokol kesehatan ini untuk mencegah terjangkitnya seluruh warga pondok pesantren terutama para santri dari visur covid 19. Beberapa fasilitas kesehatan yang telah disediakan mencakup; tempat cuci tangan disetiap blog asrama, posko covid 19, ruang kelas yang di isi untuk 20 santri, membaharui fasilitas POSKESTREN (Posko Kesehatan Perantren) termasuk menambah tenaga perawat baru, serta melakukan pengecekan kesehatan dengan rappid test untuk seluruh asatid, santri dan karyawan pondok. 



Ust Muhammad Fajar Nur Rachmat, Lc selaku koordinator pengasuhan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra menyebutkan, nantinya kedatangan santri akan dilaksanakan secara bertahap sesuai petunjuk teknis dari Kementrian Agama Bantul, dikarenakan jumlah santri yang mencapai 300an dan tersebar diseluruh provinsi di Indonesia. Dengan kedatangan diawali oleh kelas yang paling tinggi yaitu kelas 6 KMI kemudian disusul selanjutanya oleh santri –santri baru, setelahnya akan didatangkan santri kelas 2 – 5 KMI juga secara bertahap.

Ust Fajar yang juga selaku tim lapangan persiapan kedatangan santri menambahkan, himbauan dan arahan kepada seluruh santri nantinya saat kedatangan dipondok harus menggunakan masker dan membawa minimal 2 lembar masker tambahan, membawa face shield dan hand sanitizer serta akan dilakukannya masa karantina selama 14 hari untuk seluruh santri diawal kedatangannya.



Persiapan fasilitas kesehatan yang sudah dilakukan sejak bulan Juli lalu  harapannya bisa terselesaikan dipertengahan bulan September supaya dapat segera mendatangkan santri secepatnya. Semua elemen pondok, santri dan wali santri dihimbau untuk mendukung dan berperan aktiv dalam menjaga dan mencegah diri dari covid 19 dengan selalu disiplin dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan di Pondok Pesantren Ibnul Qooyim Putra.

Kamis, 27 Agustus 2020

PUASA 10 MUHARRAM (ASYURA)


 BOLEHKAH PUASA 10 MUHARRAM (ASYURA) TANPA PUASA TANGGAL 9?

🍀 Kita sudah mengetahui keutamaan Puasa Asyura. 

Namun ada keutamaan jika mengikutkan dengan puasa Tasu’ah yaitu puasa pada tanggal 9 Muharram di antara tujuannya adalah untuk Menyelisihi Yahudi. 

● Bagaimana jika puasanya hanya sehari, tanggal 10 Muharram saja?

🌴 Puasa Tanggal 9 (Tasu’ah) dan 10 Muharram (Asyura)

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” 

(HR. Muslim no. 1162).

🍀  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”

(HR. Muslim no. 1134).

🌴 Hukum Puasa Tanggal 10 (Asyura) Sehari Saja

∆     Ulama Hanafiyah menegaskan bahwa makruh hukumnya jika berpuasa pada tanggal 10 saja dan tidak diikutsertakan dengan tanggal 9 Muharram atau tidak diikutkan dengan puasa tanggal 11-nya. 

∆     Sedangakan ulama Hambali tidak menganggap makruh jika berpuasa tanggal 10 saja. Sebagaimana pendapat ini menjadi pendapat dalam madzhab Imam Malik. Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 28: 90.

📍 Disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah bahwa Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

● Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? 

An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. 

Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. 

Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). 

📍  Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 15.

Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat sunnahnya berpuasa pada tanggal 11 bagi yang tidak sempat berpuasa tanggal sembilannya. 

Bahkan disebutkan oleh Asy Syarbini Al Khotib, Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Imla’ mengatakan bahwa disunnahkan berpuasa tiga hari sekaligus, yaitu 9, 10 dan 11 Muharram.

🍒 KESIMPULANNYA, tidaklah makruh melaksanakan puasa Asyura saja yaitu tanggal 10 tanpa diiringi tanggal 9. Namun lebih baiknya dua hari tersebut digabungkan untuk menyelisihi orang Yahudi. 

Jika tidak sempat tanggal 9 dan 10, maka bisa memilih tanggal 10 dan 11 untuk berpuasa. Karena tujuannya sama, agar puasa Asyura tersebut tidak menyerupai puasa orang Yahudi. 

Wallahu a’lam.


Sumber: Rumaysho.com

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu

 


Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu

Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.


Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis.


Sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan tidur di tempat tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah barang titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy. 

Setelah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab.

Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan: 
Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Usman. Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Abdullah dan Abu Bakar. Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad. As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan dua nak, Umar dan Ruqayyah; Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad. Khanlah binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah). Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.


Ali dikenal sangat sederhana dan zahid dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tampak perbedaan dalam kehidupan rumah tangganya antara sebelum dan sesudah diangkat sebagai khalifah. Kehidupan sederhana itu bukan hanya diterapkan kepada dirinya, melainkanj uga kepada putra-putrinya.


Ali terkenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam) bernama “Zul Faqar”. Ia turut-serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan.


Ia juga dikenal cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana tergambar dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, “Aku kota ilmu pengetahuan sedang Ali pintu gerbangnya.” Karena itu, nasihat dan fatwanya selalu didengar para khalifah sebelumnya. Ia selalu ditempatkan pada jabatan kadi atau mufti. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam wafat, Ali menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya, sementara sahabat-sahabat lainnya sibuk memikirkan soal pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dalam mengurus negara dan umat Islam, Ali tidak segera membaiatnya. Ia baru membaiatnya beberapa bulan kemudian.


Pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk salah seorang yang ditunjuk menjadi anggota Majlis asy-Syura, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.


Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, Ali banyak mengkritik kebijaksanaannya yang dinilai terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun, semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir dengan terbunuhnya Utsman.


Kritik Ali terhadap Utsman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Hurmuzan. Utsman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Utsman memberi hukuman kepada Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali. 
Utsman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk membela Utsman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Utsman tidak dapat diselamatkan. 

Segera setelah terbunuhnya Utsman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi khalifah setelah Utsman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan urusan kalian. Ini adalah perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.” 

Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di Masjid Madinah seperti pembaiatan para khalifah pendahulunya.

Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu: Memecat para pejabat yang diangkat Utsman, termasuk di dalamnya beberapa gubernur, dan menunjuk penggantinya. Mengambil tanah yang telah dibagikan Utsman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661.


Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang. Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu berunding dengan lawan. Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah. Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan.

Di Harurah mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka. 

Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas. Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir. 

Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.

Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi ditugaskan pembunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.

Senin, 24 Agustus 2020

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu

 

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu (wafat 35 H)

Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.


Keutamaannya


Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata,” Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, maka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakaianmu (dipakai untuk menutupinya). Maka Rasulullah menjawab,” Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”.


Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah” bahwa Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab,” Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzunnuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya.


Perjalanan hidupnya


Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat islam adalah beliau membukukan Al-Qura’an dalam satu versi bacaan dan membuat beberapa salinannya yang dikirim kebeberapa negeri negeri Islam. Serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut. Atas Izin allah Subhanahu wa ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat memelihara ke autentikan Al-Qur’an samapai sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.


Diriwayatkan dari oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari yunus bahwa ketika al Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid ?. maka ia menjawab,”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata,” Ini amirul mukminin, Ini amirul mukminin..”


Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitabnya “Hulyah al Auliyah” dari Ibnu Sirin bahwa ketika Utsman terbunuh, maka isteri beliau berkata,” Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Al-Quran”.


Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah”. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs Az-Zumar:9) yang dimaksud adalah Utsman bin Affan.

Wafatnya

Ia wafat pada tahun 35 H pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).

Sumber: 
Diringkas dari Biografi Utsman bin affan dalam kitab Al ‘ilmu wa al Ulama Karya Abu Bakar al Jazairy. Penerbit Daar al Kutub as Salafiyyah. Cairo. ditulis tanggal 5 Rab’ul Awal di Madinah al Nabawiyah.

Minggu, 23 Agustus 2020

Balasan Kejahatan yang Setimpal

 

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal, dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[QS Yunus (10): 27]

Tafsir Ibnu Katsir, Yunus (10) ayat 27:

Setelah Allah menceritakan perihal orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang dilipatgandakan amal-amal baiknya dan diberi tambahan selain dari itu, maka Allah mengiringinya dengan kisah tentang orang-orang yang celaka.

Melalui ayat ini Allah menyebutkan perihal keadilan-Nya terhadap mereka. Yaitu, Dia berikan balasan kejahatan mereka dengan pembalasan yang setimpal, tanpa dilebihkan dan tanpa dilipatgandakan.

وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ

dan mereka ditutupi oleh kehinaan.

Yakni kehinaan menyelimuti diri mereka disebabkan karena perbuatan maksiat yg mereka lakukan, juga karena ketakutan mereka terhadap perbuatan maksiatnya sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ}

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina. (Asy-Syura: 45) 


{وَلا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأبْصَارُ * مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ * وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَاب}

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya. (Ibrahim: 42-43). hingga akhir ayat.

Adapun makna firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ}

Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah.

Artinya, tiada pelindung dan tiada pembela yang dalat menyelamatkan mereka dari azab Allah. Ayat ini semakna dengan yang disebutkan oleh firman-Nya:

  {يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ * كَلا لَا وَزَرَ * إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ}

Pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. (Al-Qiyamah: 10-12)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا}

Seakan-akan muka mereka ditutupi kepingan malam yg gelap gulita.(Yunus: 27)

Ayat ini menggambarkan tentang hitamnya wajah mereka kelak di hari kemudian, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ayat lainnya, yaitu:

{يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ * وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan ”Mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu.” Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga), mereka kekal di dalamnya. (Ali Imran: 106-107)

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ}

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa, dan gembira ria; dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu. ('Abasa: 38)


Wallohu'alam

Rabu, 19 Agustus 2020

'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu

'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu (wafat 23 H)


Nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Terkadang dipanggil dengan Abu Hafash dan digelari dengan al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin al-Muqhirah al-Makhzumiyah.


Awal Keislamanya.


Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan. 
Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a,” Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.


Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khaththab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut:


Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya:” Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”. Lalu orang tadi berkata,” Tidak kau tahu bahwa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah agama”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khaththab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.
Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut yaitu surat Thaha sampai ayat,” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhanselain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Shalat untuk mengingatku.” (Qs.Thaha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”. Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap do’a yang dipanjatkan Nabi pada malam kamis menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdo’a “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, yaitu Umar bin al-Khaththab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”. Lalu Umar berangkat menuju tempat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata,” jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khaththab, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar.”. Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Suyuthi dalam “Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin”.


Rasulullah memberikan gelar al-Faruq kepadanya, sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, seraya dia berkata,” Aku telah bertanya kepada Aisyah, “ Siapakah yang memanggil Umar dengan nama al-Faruq?”, maka Aisyah menjawab “Rasulullah”.
Hadist Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:” Sungguh telah ada dari umat-umat sebelum kamu para pembaharu, dan jika ada pembaharu dari umatku niscaya ‘Umarlah orangnya”. Hadist ini dishahihkan oleh Imam Hakim. Demikian juga Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa Nabi bersabda,” Seandainya ada seorang Nabi setelahku, tentulah Umar bin al-Khaththab orangnya.”.


Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Umar dia berkata,” Nabi telah bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengalirkan kebenaran melalui lidah dan hati Umar”. Anaknya Umar (Abdullah) berkata,” Apa yang pernah dikatakan oleh ayahku (Umar) tentang sesuatu maka kejadiannya seperti apa yang diperkirakan oleh ayahku”.


Keberaniannya


Riwayat dari Ibnu ‘Asakir telah meriwayatkan dari Ali, dia berkata,” Aku tidak mengetahui seorangpun yang hijrah dengan sembunyi sembunyi kecuali Umar bi al-Khaththab melakukan dengan terang terangan”. Dimana Umar seraya menyandang pedang dan busur anak panahnya di pundak lalu dia mendatangi Ka’bah dimana kaum Quraisy sedang berada di halamannya, lalu ia melakukan thawaf sebanyak 7 kali dan mengerjakan shalat 2 rakaat di maqam Ibrahim.
Kemudian ia mendatangi perkumpulan mereka satu persatu dan berkata,” Barang siapa orang yang ibunya merelakan kematiannya, anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, maka temuilah aku di belakang lembah itu”. Kesaksian tersebut menunjukan keberanian Umar bin Khaththab Radhiyallahu’Anhu.


Wafatnya


Pada hari rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H ia wafat, ia ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh beliau ditikam oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar dimakamkan di samping Nabi dan Abu Bakar ash Shiddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.


Sumber:
Disalin dari Biografi Umar Ibn Khaththab dalam Tahbaqat Ibn Sa’ad, Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin Imam Suyuthi

Selasa, 18 Agustus 2020

Menjaga Pandangan

 Tafsir Quran Surat An-Nur Ayat 30

 قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ 

 Terjemah Arti: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".


Tafsir Quran Surat An-Nur Ayat 30. "Katakanlah -wahai Rasul- kepada kaum laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandanganya dari melihat hal-hal yang tidak halal bagi mereka seperti wanita dan aurat, dan hendaknya memelihara kemaluan mereka agar tidak terjatuh dalam perkara yang haram dan (tidak) menyingkapnya. Menahan pandangan dari perkara haram itu adalah lebih suci bagi mereka di sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat, tidak ada sesuatupun dari hal itu yang tersembunyi bagi-Nya, dan Dia akan memberikan balasan pada kalian atas hal tersebut.


 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

 Katakanlah wahai Nabi, kepada laki-laki Mukmin agar mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dari wanita-wanita dan aurat-aurat yang tidak halal bagi mereka, memelihara kemaluan mereka dari perkara yang diharamkan Allah, seperti zina, homoseksual dan membuka aurat serta perkara terlarang lainnya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat terkait perkara yang Allah perintahkan kepada mereka dan perkara yang Allah melarang mereka darinya. 


Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 30. Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan kepada orang-orang beriman perintah agung yang sering disepelekan banyak orang, yaitu menundukkan pandangan dari apa yang tidak boleh dilihat dan menjaga kemaluan dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Perintah yang agung ini lebih menjaga kehormatan mereka lahir dan batin. Allah Maha Mengetahui penundukan pandangan dan penjagaan kemaluan yang mereka lakukan.


 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah . 

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصٰرِهِمْ 

(Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya) 

Setelah dijelaskan hukum dalam meminta izin, Dia kemudian melanjutkannya dengan menyebutkan hukum pandangan mata secara umum untuk menghindarkan hamba-Nya dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan pada perbuatan zina. 

Makna (غض البصر) adalah menundukkan sebagian pandangannya agar tidak melihat hal yang dilarang. Dan yang dimaksud dengan sebagian pandangan adalah bahwa seseorang tidak berdosa dalam pandangan pertama yang tertuju pada hal yang dilarang tanpa disengaja.

 وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ( dan memelihara kemaluannya) Dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. 

ذٰلِكَ(yang demikian itu) Yakni menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.

 أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ( adalah lebih suci bagi mereka) Yakni lebih suci dari kotornya keburukan dan lebih bersih dari perbuatan rendahan itu.

 إِنَّ اللهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُون(sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat) Ini merupakan ancaman bagi orang yang tidak menundukkan pandangan dan tidak menjaga kemaluannya.


 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah . 

Wahai Nabi, Katakanlah kepada orang-orang mukmin: “Tahanlah pandangan kalian dari sesuatu yang tidak dihalalkan untuk dipandang 

(Menahan pandangan adalah menundukkan sebagian pandangan yaitu menahan pandangan untuk menutup keinginan berzina) dan jagalah farji kalian dari sesuatu yang tidak halal bagi kalian. 

Menahan pandangan dan menjaga farji itu lebih baik baik bagi diri kalian daripada terlibat dalam sesuatu yang haram. 

Sesungguhnya Allah Maha Memberi Kabar tentang apa yang kalian perbuat berupa menahan pandangan dan menjaga farji.”

 Ini adalah peringatan bagi orang yang melanggar hal tersebut.

 Ayat ini diturunkan untuk seorang laki-laki yang berjalan di salah satu jalan Madinah, lalu dia saling bertukar pandang dengan wanita dan melanjutkan hal itu sampai dia menabrak tembok sehingga merusak hidungnya. Lalu dia mengabarkan hal ini kepada Nabi SAW tentang hal itu. Kemudian Nabi bersabda kepadanya: “Ini adalah akibat dari dosamu” Lalu Allah menurunkan ayat ini. 


Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah,

 Yakni bimbinglah orang-orang yang beriman, dan katakanlah kepada mereka yang memiliki iman agar iman mereka terpelihara dan sempurna. Dari melihat yang haram dilihat, seperti memandang wanita-wanita asing, memandang sesuatu yang dikhawatirkan timbul fitnah dan memandang perhiasan dunia yang dapat menggoda hatinya. Dari yang haram, seperti zina. Yakni menjaga pandangan dan kemaluannya. 

Syaikh As Sa’diy berkata, “(Yakni) lebih suci, lebih baik dan lebih mengembangkan amal mereka, karena barang siapa yang menjaga kemaluan dan pandangannya, maka ia akan bersih dari kotoran yang menodai para pelaku perbuatan keji, dan amalnya pun akan bersih disebabkan meninggalkan hal yang haram yang diiinginkan hawa nafsu dan didorong olehnya. 

Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. 

Oleh karena itu, barang siapa yang menundukkan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari bashirahnya (mata hatinya), dan lagi karena seorang hamba apabila menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram serta pengantarnya, meskipun ada dorongan syahwat kepadanya, maka tentu ia dapat menjaga diri dari dosa yang lain. 

Oleh karena itulah Allah sebut sebagai penjagaan. Sesuatu yang dijaga, jika penjaganya tidak berusaha mengawasi dan memeliharanya,dan tidak melakukan sebab yang dapat membuatnya terjaga, maka sesuatu itu tidak akan terjaga.

 Demikianpula pandangan dan kemaluan, jika seorang hamba tidak berusaha menjaga keduanya, maka keduanya dapat menjatuhkannya ke dalam cobaan dan ujian. 

Perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan menjaga kemaluan secara mutlak, karena ia tidak diperbolehkan dalam salah satu di antara sekian keadaan.

Adapun pandangan, Dia berfirman, “Yaghuddhuu min abshaarihim (Agar mereka menundukkan sebagian dari pandangan.” 

 Penggunaan huruf “min” yang menunjukkan sebagian, karena dibolehkan memandang dalam sebagian keadaan karena dibutuhkan, seperti melihatnya saksi, melihatnya pelaku, melihatnya seorang pelamar, dsb. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan kepada mereka pengetahuan-Nya terhadap amal mereka agar mereka berusaha menjaga diri mereka dari hal-hal yang diharamkan.” Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadapnya.


Wallahu a'lam.

Senin, 17 Agustus 2020

KEMERDEKAAN YANG HAKIKI

Merdeka yang hakiki adalah mengamalkan tauhid; memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta'ala, dan membebaskan diri dari semua bentuk penghambaan kepada selain-Nya.

Karena ibadah kepada Allah adalah sifat dasar manusia, yang merupakan tujuan hamba diciptakan, sedangkan hawa nafsu dan setan ingin memalingkan hamba agar beribadah kepada selain Allah 'azza wa jalla.

Allah 'azza wa jalla berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [Adz-Dzariyyat: 56]

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

هربوا من الرق الذي خلقوا له

وبلوا برق النفس والشيطان

"Mereka berpaling dari peribadahan kepada Allah yang merupakan tujuan mereka diciptakan, maka mereka menjadi budak nafsu dan setan." [Al-Kaafiyah Asy-Syaafiyah melalui Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

أن وصف الإنسان بالعبودية لله يعد كمالاً، لأن العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابداً لغيره

"Bahwa sifat manusia beribadah kepada Allah adalah kesempurnaan baginya, karena penghambaan kepada Allah adalah HAKIKAT KEMERDEKAAN, barangsiapa yang tidak menghamba kepada Allah maka dia adalah hamba selain-Nya." [Syarhul Aqidah Al-Wasithiyah, 1/362]

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnul 'Utsaimin rahimahullah juga berkata,

إذا قال ذلك رجل حر وأراد أنه حر من رق الخلق، فنعم هو حر من رق الخلق، وأما إن أراد أنه حر من رق العبودية لله - عز وجل - فقد أساء في فهم العبودية، ولم يعرف معنى الحرية، لأن العبودية لغير الله هي الرق أما عبودية المرء لربه - عز وجل - فهي الحرية

"Jika seorang berkata 'saya merdeka' dan yang ia maksudkan adalah merdeka dari penjajahan makhluk maka maknanya benar, ia memang harus merdeka dari penjajahan makhluk. Adapun jika yang ia maksudkan adalah merdeka dari penghambaan kepada Allah 'azza wa jalla maka ia telah salah besar dalam memahami penghambaan, dan ia tidak memahami arti kemerdekaan, karena penghambaan kepada selain Allah itulah penjajahan. Adapun penghambaan seseorang kepada Rabbnya 'azza wa jalla, maka itulah kemerdekaan." [Majmu' Al-Fatawa, 3/81]

Dan ibadah yang diterima oleh Allah hanyalah apabila dilakukan dengan ikhlas dan meneladani Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam, maka:

- Merdeka yang hakiki apabila semua ibadah kita hanya diniatkan ikhlas karena Allah dan melepaskan diri penghambaan kepada pujian manusia dan keuntungan dunia semata.

- Merdeka yang hakiki adalah meneladani sunnah; yaitu mencontoh Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam dalam setiap amalan, dan melepaskan diri dari belenggu taklid dan fanatisme golongan (hizbiyyah).

Sumber: https://www.instagram.com/p/CD-xLu0hLIh/

Sabtu, 15 Agustus 2020

AMAL SHOLIH YANG TERSEMBUNYI

 Dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:

⠀⠀⠀إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ

⠀⠀⠀“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al Baqarah: 271)

⠀⠀⠀Ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan amal shalih itu pada umumnya adalah lebih utama. Karena itu lebih dekat kepada keikhlasan. Disebutkan dalam hadits tujuh orang yang mendapat naungan Allah, diantaranya:

⠀⠀⠀ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

⠀⠀⠀“Seorang yang bersedekah, lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari).

⠀⠀⠀Jadi, menyembunyikan amal shalih itu pada dasarnya lebih utama, kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu

⠀⠀⠀

Wallaahu ta’ala a’lam.

INFO HUT DAN TAHUN BARU HIJRIYAH

 Berikut ini Surat Pemberitahuan mengenai kegiatan KBM pada HUT RI dan Tahun Baru Hijriyah :



Jumat, 14 Agustus 2020

Ancaman memutus silaturrohim

 *"Ancaman Memutuskan Tali Kekeluargaan"*


عَنْ أَبِى مُحَمَّدُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ. قَالَ سفيان في روايته: يَعْنِي: قَاطِع رَحِم. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)


Artinya :

_Dari Abu Muhammad, yaitu Jubair bin Muth'im radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk syurga seseorang yang memutuskan." Sufyan  berkata dalam riwayatnya bahwa yang dimaksudkan ialah memutuskan ikatan kekeluargaan."_ (Muttafaq 'alaih)


*Pelajaran yang terdapat pada hadits di atas :*


1. Ancaman yang sangat berat bagi siapa yang memutuskan tali Silaturahim.

2. Dosa yang sangat besar bagi siapa yang memutuskan hubungan Silaturahim.

3. Ancaman bagi orang yang memutuskan tali silaturahim, diantaranya:

1) Pemutus silaturrahim tidak akan masuk surga.

2) Pemutus silaturrahim dipercepat siksaan terhadap dosanya.

3) Amal pemutus silaturrahim tidak diterima oleh Allah SWT.

4) Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala.


*Tema hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur'an :*


1. Ancaman bagi siapa yang memutuskan hubungan Silaturahim;


فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۞ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ ۞


_"Apakah barangkali, andai kalian semua berkuasa, maka kalian akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan ikatan kekeluargaanmu semua. Orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Allah memekakkan pendengaran mereka dan membutakan penglihatan mereka."_ (QS. Muhammad: 22-23)


2. Keharaman memutuskan ikatan kekeluargaan;


وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ ۞


_"Dan orang-orang yang merusak janji Allah sesudah diteguhkannya dan juga memutuskan apa-apa yang diperintah oleh Allah untuk dihubungkannya serta membuat kerusakan di bumi, maka mereka itulah yang mendapatkan laknat dan akan memperoleh tempat kediaman yang terburuk."_ (QS. Ar-Ra'ad: 25)


3. Saling memaafkan itulah ciri muslim sejati;


وَلْيَـعْفُوْا وَلْيَـصْفَحُوْا ۗ اَ لَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۞


_"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."_ (QS. An-Nur 24: 22)

Senin, 10 Agustus 2020

URGENSI MEMPELAJARI BAHASA ARAB

Setiap muslim tentunya tidak pernah lupa untuk berdoa dan berdzikir kepada Allah dalam kesehariannya. Amalan ini menjadi salah satu bukti cintanya kepada Allah Dzat Yang Maha Agung. Bahkan ketika dia mulai membuka matanya dari lelapnya tidur, senantiasa membaca doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika hendak makan dan minumpun dia mengucapkan doa. Dan doa tersebut tersusun menggunakan bahasa Arab. Hal ini membuktikan bahwa awal kita pada pagi haripun, sudah terbiasa berbahasa Arab. Dan masih banyak doa yang sering kita ucapkan dalam keseharian kita dan semuanya berbahasa Arab. 

         Selain itu, Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Alquran.  karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling bagus diantara bahasa-bahasa lainnya, sebagaimana firman Allah dalam surah Yusuf ayat 2 yang berbunyi:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkanya (Alquran) dengan bahasa Arab agar kalian memahaminya”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa; karena bahasa Arab adalah bahasa yag paling fasih, paling jelas, paling luas, dan paling tepat untuk dapat menyampaikan makna (maksud) yang ada di dalam jiwa. Oleh karen itu, kitab yang paling mulia ini (Alquran) diturunkan dengan bahasa yang paling mulia (yaitu bahasa Arab).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan:

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“Bahasa Arab itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari agama, dan memahami/mempelajarinya (bahasa Arab) adalah suatu kewajiban. Karena sungguh memahami Alquran dan Asunnah hukumnya wajib, dan tidak mungkin Alquran dan Assunah dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Apa saja kewajiban yang tidak sempurna dilakukan kecuali dengan disertai dengan suatu, maka suatu hal tersebut hukumnya menjadi wajib. ”

Dalam kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan:

اللِّسَانُ العَرَبِي شِعَارُ الإِسْلاَمِ وَأَهْلِهِ


“Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan syi’ar kaum muslimin”

Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahasa para sahabat. Hadits nabi yang kita pelajari sampai hari ini juga berbahasa Arab, begitu juga dengan kitab-kitab rujukan dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, bahasa Arab sangatlah penting dan menjadi kunci ketercapaian dalam memahaminya.

Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam semuanya berbahasa Arab. Kita tidak bisa membaca dan memahaminya dengan baik, kecuali dengan mempelajari bahasanya terlebih dahulu. Padahal keduanya menjadi GPS yang membimbing arah hidup kita, sebagaimana ketika kita akan melakukan perjalanan yang jauh, kita membutuhkan alat navigasi supaya perjalanan kita berjalan dengan baik sampai kepada tujuan kita, sehingga tidak tersesat dalam lika liku hehidupan dunia. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah nabi-Nya.”

Terbesit dalam hati kita, tidak ingin doa kita dinilai sekedar lantunan doa saja. Akan tetapi, kita juga berharap mampu mengetahui lebih dalam makna dari apa yang kita baca, terlebih doa dan bacaan dalam shalat kita. Doa yang kita baca tanpa memahami artinya, tentunya akan terasa hambar seperti makanan tanpa bumbu. Maka, kehadiran bahasa Arab menjadi sangat penting dan mendasar bagi seluruh umat muslim. Mampu memahami bacaan doa, dzikir dan semua rutinitas ibadah kita, terlebih agar hidup kita lebih berkah, perpahala dan mendapatakan kunci surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

 

Jumat, 07 Agustus 2020

SEPUTAR QURBAN (16) ADAB & TATA CARA PENYEMBELIHAN 3

Oleh: DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

16 Keenambelas: Ketika Menyembelih Hingga Putus Empat Urat

Ketika menyembelih hendaknya dipastikan empat hal yang harus putus:

Pertama: Al-Hulqum

Tenggorokan/leher bagian atas adalah tempat saluran pernafasan. 

📌 Kedua: Al-Mari’

Kerongkongan/leher bagian bawah adalah tempat lalu lintas makanan dan minuman.

📌 Ketiga dan Keempat: Al-Wadjani 

Dua urat leher adalah dua urat tebal tempat mengalirnya darah, terletak di leher mengiringi al-Hulqum dan al-Mari’.

eempat urat ini disebut dengan empat urat al-Audaj.

Para ulama sepakat jika empat urat dari binatang yang disembelih tersebut sudah terputus, maka hukumnya halal dimakan. 

🏷 Tetapi para ulama berbeda pendapat jika salah satu dari empat urat tersebut tidak terputus. 

Adapun rinciannya sebagai berikut:

🍁 Pendapat Pertama

Mengatakan kalau salah satu dari empat urat tersebut  tidak putus, maka tidak sah untuk dimakan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dari keduanya .

💡 Mereka berdalil dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa  beliau berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ شَرِيطَةِ الشَّيْطَانِ، وَهِىَ الَّتِى تُذْبَحُ فَيُقْطَعُ الْجِلْدُ وَلاَ تُفْرَى الأَوْدَاجُ ثُمَّ تُتْرَكُ حَتَّى تَمُوتَ.

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memakan hasil sayatan syetan, yaitu binatang yang disembelih dengan cara memotong kulit, tetapi tidak memotong urat-urat di tenggorakan, kemudian dibiarkan sampai mati." (HR Abu Daud, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, al-Hakim, di dalam sanadnya ada Amru bin Abdullah bin al-Aswar al-Yamani, berkata al-Mundziri: “Para ulama banyak yang mempemasalahkannya.” Berkata Syuaib al-Arnauth: Isnadnya lemah. Imam al-Hakim menshahihkan isnadnya dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi)   

Syarithatu asy-Syaithan adalah sayatan syetan. Maksudnya bahwa unta dan sejenisnya sering disayat di tenggorakannya dengan pisau, sehingga meninggalkan bekas sedikit, sebagaimana dalam sayatan bekam. Tetapi hal itu belum sampai memotong dua urat saluran darah, bahkan tidak ada darah yang mengalir sama sekali.

Ini adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah pada zaman dahulu, mereka mengerjakan hal itu karena mengikuti bisikan syetan, makanya perbuatan ini disebut dengan sayatan syetan, karena berasal dari bisikan syetan. 

🍁 Pendapat Kedua 

Mengatakan cukup yang putus sebagian dari empat urat tersebut. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya Imam Abu Hanifah,  Imam asy-Syafi’I, Imam Malik dan Imam Ahmad dalam riwayat lain. 

💡 Dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ

"Apa-apa (dari sembelihan) jika darahnya mengalir dan disebut nama Allah, maka makanlah oleh kalian." (HR. al'Bukhari dan Muslim) 

🏷 Ulama yang mengatakan cukup putus sebagian dari empat urat di atas, berbeda pendapat juga diantara mereka tentang mana dari urat-urat tersebut yang harus terputus dan mana yang boleh tidak terputus ?

🍁 Pertama: Putusnya Tiga Urat

💡 Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa yang harus terputus adalah salah satu dari tiga urat tanpa ditentukan, seperti dua al-wadjan dan salah satu dari al-hulqum atau al-mari’, bisa juga satu al-wadjan, al-hulqum dan al-mari’.

Pendapat inilah yang lebih kuat, karena dengan terputus salah satu dari tiga di atas, maka darah akan cepat mengalir dan nyawa akan cepat melayang.

💡 Abu Yusuf, salah satu sahabat Abu Hanifah berpendapat bahwa  yang terputus harus tiga al-hulqum, al-mari’ dan salah satu al-wadju.

💡 Imam Malik dalam riwayat yang masyhur berpendapat bahwa yang terputus harus tiga yaitu: dua al-wadjan dan al-hulqum.  

🍁 Kedua: Putus Dua Urat

💡 Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang terputus cukup dua yaitu: al-hulqum dan al-mari’.

17. Ketujuhbelas: Tidak Boleh Menyembelih Sampai Putus Lehernya dengan Sengaja Tanpa ada Keperluan

Mayoritas ulama, termasuk di dalamnya Ibnu al-Qasim dari Malikiyah, berpendapat bahwa hal tersebut hukumnya makruh, tetapi dagingnya tetap halal, walaupun pelakunya melakukannya dengan sengaja.

Makruh, karena perbuatan tersebut termasuk menyiksa binatang dan perbuatan yang  berlebih-lebihan dan melampaui batas. Halal dagingnya, karena sembelihan tersebut telah memenuhi syarat-syarat penyembelihan. 

💡 Di dalam Tabyin al-Haqaiq (5/292) disebutkan:

قَالَ الْكَرْخِيُّ فِي مُخْتَصَرِهِ وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إنْ ضَرَبَ عُنُقَ جَزُورٍ بِسَيْفٍ فَأَبَانَهَا وَسَمَّى فَإِنْ كَانَ ضَرْبًا مِنْ قِبَلِ الْحُلْقُومِ فَإِنَّهُ يُؤْكَلُ وَقَدْ أَسَاءَ

“Berkata al-Karkhi di dalam Mukhtasornya: “Dan berkata Abu Hanifah: “Jika seseorang menyabet leher unta dengan pedang  sampai putus, tetapi dia sudah membaca basmalah, maka jika dia menyabetnya dari arah tenggorakan, maka dagingnya boleh dimakan, tetapi pelakunya telah berbuat dosa"."

💡 Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/44):

وَلَوْ ضَرَبَ عُنُقَهَا بِالسَيْفِ فَأَطَارَ رَأْسَهَا حَلّتْ بِذلِكَ نَصّ عَليْه أَحْمَدُ

“Seandainya seseorang menyabet leher binatang dengan pedang sampai terbang kepalanya, maka halal dagingnya. Hukum ini telah dinyatakan oleh Imam Ahmad."

Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

💡 Pertama 

Riwayat al-Bukhari yang menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِذَا قُطِعَ الرَأْسُ فَلَا بِأْسَ

“Jika kepalanya terputus, maka tidaklah mengapa (untuk dimakan)."

💡 Kedua

Di dalam Mushannaf Abdur-Razaq disebutkan:

عن جعفر عن عوف قال ضرب رجل عنق بعير بالسيف فأبانه فسأل عنه علي بن أبي طالب فقال ذَكَاة وَحِيّة

“Dari Ja’far dari Auf, dia berkata: “Seorang laki-laki menyabet leher unta dengan pedang, sampai terputus, kemudian hal itu ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau menjawab: “Itu adalah penyembelihan (yang sah) dan hiyyah (mempercepat kematiannya)."

💡 Ketiga 

Berkata Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari (9/642):

أنَّ جَزَّارَا لِأَنَس ذَبَحَ دَجَاجَةً فاضطَرَبَتْ فذبحهَا مِنْ قَفَاهَا فأطَارَ رَأسها فأرادُوا طرحَها فأمَرهُمْ أنس بأكلها    

“Bahwa para jagal yang dimiliki Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu suatu ketika dia menyembelih seekor ayam, tetapi ayam tersebut meronta-ronta, maka dia menyembelih dari tengkuknya sampai terbang kepalanya. Mereka ingin membuang ayam tersebut, tetapi justru Anas bin Malik menyuruh untuk memakannya.” (lihat juga Ibnu Hazm dalam al Muhalla: 6/129)

🏷 Kesimpulan

📌 Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa menyembelih binatang sampai terputus kepalanya adalah perbuatan yang melampaui batas yang dilarang oleh Islam, karena masuk dalam katagori menyiksa binatang.

📌 Kalau hal itu dilakukan dengan sengaja, maka sebagian ulama mengharamkan dagingnya. Tetapi menurut pendapat mayoritas ulama bahwa dagingnya halal untuk dimakan, walaupun hal itu dilakukan dengan sengaja, karena masuk dalam katagori penyembelihan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Perbuatan maksiat pelakunya tidak serta merta menyebabkan daging binatang itu menjadi haram.

💡 Berkata Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni (11/44):

والصحيح أنها مباحة لأنه اجتمع قطع ما تبقى الحياة معه مع الذبح فأبيح كما ذكرنا مع قول من ذكرنا قوله من الصحابة من غير مخالف

 “Pendapat yang benar, bahwa hal itu adalah mubah (dibolehkan), karena (memukul kepala binatang dari tengkuk sampai terlepas kepalanya) terkumpul di dalamnya memotong sesuatu dari binatang yang masih hidup dan  penyembelihan, maka dibolehkan, sebagaimana telah kita sebutkan juga perkataan beberapa sahabat tanpa ada yang menentangnya."

💡 Berkata Ibnu al-Mundzir:

ولا حجة لمن منع أكلها ؛ لأن القياس أنها حلال بعد الذكاة

"Tidak ada hujjah bagi yang melarang untuk memakannya (binatang yang disembelih sampai putus kepalanya), karena analoginya bahwa hal itu halal setelah selesai menyembelihnya." (Ibnu al-Bathal di dalam Syarh Shahih al-Bukhari: 5/426) 

Wallahu A'lam



ANGGAPAN MENGENAI AMAL SHOLEH

Sebagian orang beranggapan bahwa pahala amal saleh hanya akan dirasakan di akhirat. Begitu pula akibat buruk dari dosa hanya akan dirasakan di hari kiamat. 

Padahal sebenarnya AMAL SALEH seorang mukmin akan mendatangkan kebaikan, baik ketika di dunia maupun saat di akhiratnya.

Begitu pula KEMAKSIATAN akan mendatangkan keburukan, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. 

Renungkanlah dua firman Allah (yang artinya) berikut ini:

"Barangsiapa melakukan amal saleh -baik lelaki maupun perempuan- dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan akan Kami beri balasan (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. An-Nahl: 97)

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit (di dunia), dan pada hari kiamat nanti Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta”. (QS. Thoha: 124)

Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny, MA