Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label HADITS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HADITS. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2020

Menimbang antara Qurban atau Sodaqoh


حدثنا أبو عاصم عن يزيد بن أبي عبيد عن سلمة بن الأكوع قال قال النبي صلى الله عليه وسلم من ضحى منكم فلا يصبحن بعد ثالثة وبقي في بيته منه شيء فلما كان العام المقبل قالوا يا رسول الله نفعل كما فعلنا عام الماضي قال كلوا وأطعموا وادخروا فإن ذلك العام كان بالناس جهد فأردت أن تعينوا فيها . 5249


Imam Bukhori berkata: Abu 'Ashim meriwayatkan hadits kepada kami dari Yazid bin Abi Ubaid dari Salamah bin al-Akwa’ berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.


Para ulama, di antaranya adalah Imam Ahmad menyatakan bahwa menyembelih kurban lebih utama daripada mensedekahkan harganya.

Ibnul Qayyim berkata, “Menyembelih pada waktunya lebih utama daripada sedekah dengan harganya, sekalipun dengan jumlah sedekah yang lebih banyak daripada harga nominal Qurban. Mengingat bahwa penyembelihan dan mengalirkan darah adalah target dari peribadatan itu sendiri. Berkurban merupakan ibadah yang disandingkan dengan shalat.

Allah ta’ala berfirman,artinya, “Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dan Allah ta’ala berfirman, artinya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Di setiap agama ada shalat dan penyembelihan yang tidak tergantikan dengan yang lain.

Di antara alasannya adalah :

1- Qurban adalah ibadah khusus yang diperintahkan di waktu yang khusus pula, sementara sedekah adalah ibadah umum yang tidak berpatok dengan waktu, bila sebuah ibadah sudah ditentukan di waktu tertentu, maka ia merupakan ibadah paling utama di waktunya, bukan ibadah umum.

2- Bahwa Qurban adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan amal kaum muslimin, seandainya sedekah harga lebih utama, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesekali akan meninggalkan qurban dan menggantinya dengan sedekah, tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan amalan yang kalah utama dengan amalan lain semenjak beliau tiba di Madinah sampai wafat.

3- Suatu kali kaum muslimin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertimpa paceklik, saat itu waktu qurban tiba, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan kaum muslimin untuk bersedekah dengan harga qurban, sebaliknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kaum muslimin untuk menyembelih dan membagikan dagingnya kepada kaum muslimin.

Dalam ash-Shahihain dari Salamah bin al-Akwa’ berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban di antara kalian, maka hendaknya tidak menyimpannya lebih dari tiga malam.” 
Pada tahun berikutnya orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apakah tahun ini kami harus melakukan apa yang kami lakukan tahun lalu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Makanlah, berilah makan dan simpanlah, karena tahun lalu orang-orang dalam keadaan sulit, sehingga aku ingin kalian membantu.”

Dalam Shahih al-Bukhari Aisyah ditanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan daging kurban lebih dari tiga hari?” Dia menjawab, “Beliau tidak melakukannya kecuali di tahun di mana masyarakat sedang paceklik, beliau ingin orang kaya memberi makan orang miskin.”

4- Seandainya kaum muslimin menggantinya dengan sedekah, niscaya melenyapkan sebuah syiar agung dalam Islam yaitu qurban, syiar yang ditetapkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits, dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin dan beliau menamakannya sunnah kaum muslimin.
Berkurban pada saat idul Adha merupakan syiar agung umat islam di seluruh negeri, sehingga layak untuk diperlihatkan syiar ibadah ini di setiap tempat. Syiar agama yg berujud dzikir, penyembelihan kurban dan menyelisihi tata cara kaum musyrik dalam berkurban, dimana syiar ini tidak terlihat kalau dilaksanakan dengan cara sedekah atau ibadah lain.

https://www.alukah.net/spotlight/0/92227/

Kamis, 23 Juli 2020

Hikmah larangan memotong rambut dan kuku

Oleh: Ustad H. Saefuddin, Lc
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

 قال صلى الله عليه وسلم: ( إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضّحي، فليمسك عن شعره وأظفاره ) وفي رواية ( فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي ).
رواه مسلم

“Jika kalian melihat hilal Dzul Hijjah, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaklah menahan diri (tidak memotong) rambut dan kuku-kukunya”. Dalam redaksi yang lain: “Jika sepuluh hari awal Dzul Hijjah sudah masuk, dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaknya tidak menyentuh (memotong) rambut dan bulu tubuhnya sedikitpun” (HR. Muslim)

Sebagian ulama mengatakan bahwa hikmah dari tidak mencukur rambut dan memotong kuku adalah agar seluruh bagian tubuh itu tetap mendapatkan kekebalan dari api neraka. Sebagian yang lain mengatakan bahwa larangan ini dimaksudnya biar ada kemiripan dengan jamaah haji yang sedang berihram. 

 { { إن تقرضوا الله قرضاً حسناً يضاعفه لكم ويغفر لكم والله شكور حليم } } [التغابن: 17] 

Kurban adalah sedekahnya seorang muslim. Dalam beberapa ayat, ia dibahasakan sebagai investasi akherat kita, sebagaimana ayat di atas. Jika ditunaikan sesuai syarat dan ketentuan syariat, maka Allah akan memberi keuntungan berlipat serta dijanjikan ampunan-Nya.

Dalam sebuah riwayat, setiap organ tubuh hewan kurban akan membebaskan anggota tubuh mudhohhinya. Sampai-sampai rambut dan kukunya pun tidak luput.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita tidak memotongnya, baik dari tubuh kita maupun hewan yang akan dikurbankan.

Larangan ini berlaku sejak awal bulan DzulhijjahsDzulhijjah hewan kurban disembelih. Berharap, semakin banyak anggota tubuh kita yang selamat dari neraka.

Wallohu ta'ala a'lam..

Senin, 20 Juli 2020

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

Oleh : Ustad H. Saefuddin, Lc. (Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)


عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام -يعني الأيام العشر- قالوا يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء .}روى البخاري في صحيحه{"

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’ Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada beramal di hari-hari ini .(maksud beliau adalah hari-hari yang sepuluh). Sahabat bertanya:’Wahai Rasulullah, walaupun jihad fi sabililah?’Beliau menjawab:’Ya, walaupun jihad fi sabililah, kecuali seseorang yang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu dari jihad itu dia tidak pulang lagi dengan membawa suatu apapun.”(HR.Al-Bukhari)

Pengesahan hadits:
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (Fathul Bari II/457)

Di antara keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah:

1.Allah Ta’ala bersumpah dengannya (sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah), dan bersumpah menggunakan sesuatu menunjukan arti penting dan besarnya manfaat hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman:


(والفجر وليال عشر)

“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh (QS.Al-Fajr:1-2)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Zubair, Mujahid rahimahullah dan banyak dari kalangan salaf maupun khalaf berkata: Sesungguhnya itu adalah sepuluh hari dzulhijjah. Ibnu katsir berkata :ini adalah pendapat yang benar (tafsir Ibnu katsir)
2.Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan bahwa hari-hari tersebut adalah hari-hari terbaik sebagaimana hadits di atas.

3. Hadits ini mengandung motivasi untuk beramal shalih di dalamnya, karena kemuliaan waktu tersebut.

4.Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk memperbanyak tasbih, tahmid, dan takbir pada hari-hari tersebut, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad.


عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد". أخرجه أحمد 7/224 وصحّح إسناده أحمد شاكر

“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau berkata:’Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak juga amalan shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah di dalamnya tahlil (laa ilaha illallahu),takbir, dan tahmid.
(HR.Ahmad dan sanadnya dishahihkan oleh syaikh Ahmad Syakir)

5.Di dalamnya ada hari Arafah dan itu adalah hari yang disaksikan, di mana Allah menyempurnakan agama Islam pada hari itu. Berpuasa pada hari Arofah dapat menghapus dosa dua tahun.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ. 
اخرجه مسلم في صحيحه ( 20/482 برقم 2063

Jumat, 17 Juli 2020

Shalat paling afdhol

Oleh: Ustad H. Saefuddin,Lc 
(Pengajar Pondok Ibnul Qoyyim Putra)

عابن عمر قال : 
قال الرسول صلى الله عليه وسلم : 
( أفضل الصلوات عند الله صلاة الصبح يوم الجمعة في جماعة ) .
رواه البيهقي في ((شعب الإيمان)) (3045)
صححه الألباني في صحيح الجامع (1119)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Rasulullah saw bersabda: "Shalat yg paling afdhol di sisi Allah adalah shalat berjamaah subuh pada hari jum'at."
Diriwayatkan oleh Al Baihaqy di dalam kitab Sy'abul Iman,
Dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahihul Jami' no. 1119

Selasa, 14 Juli 2020

Pentingnya Menjaga Silaturrahmi

oleh: Ustad H. Saefuddin, Lc
(Pengajar Pondok  Ibnul Qoyyim Putra)

 
الرَّحِمُ معلَّقةٌ بالعرشِ تقولُ : مَن وَصَلني وصلَه اللهُ ومَن قطعني قطعه اللهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan
dengannya.”

الراوي : عائشة أم المؤمنين
  المحدث : الألباني  
المصدر : غاية المرام
الصفحة أو الرقم: 406 
حكم المحدث : صحيح

التخريج : أخرجه مسلم (2555)

Sabtu, 11 Juli 2020

KUNCI SEGALA KEBAIKAN

MEMAHAMI ILMU AGAMA ADALAH KUNCI SEGALA KEBAIKAN
========================
Ustad Sofyan Chalid

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah akan memahamkannya dengan agama, dan aku hanyalah membagi sedang Allah Dia-lah yang memberi, dan akan senantiasa (segolongan) umat ini tegak (istiqomah) di atas agama Allah, orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka, sampai datang ketetapan Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَهَذَا الْحَدِيثُ مُشْتَمل على ثَلَاثَة أَحْكَام أَحدهَا فضل التفقه فِي الدِّينِ وَثَانِيهَا أَنَّ الْمُعْطِيَ فِي الْحَقِيقَةِ هُوَ اللَّهُ وَثَالِثُهَا أَنَّ بَعْضَ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَبْقَى عَلَى الْحَقِّ أَبَدًا

"Hadits ini mencakup tiga permasalahan:

Pertama: Keutamaan mendalami ilmu agama.

Kedua: Bahwa yang memberi secara hakiki adalah Allah ta’ala.

Ketiga: Bahwa sebagian umat ini akan selalu istiqomah di atas kebenaran." [Fathul Bari, 1/164]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

وَقد تتَعَلَّق الْأَحَادِيث الثَّلَاثَةِ بِأَبْوَابِ الْعِلْمِ بَلْ بِتَرْجَمَةِ هَذَا الْبَابِ خَاصَّةً مِنْ جِهَةِ إِثْبَاتِ الْخَيْرِ لِمَنْ تَفَقَّهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يَكُونُ بِالِاكْتِسَابِ فَقَطْ بَلْ لِمَنْ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهِ وَأَنَّ مَنْ يَفْتَحِ اللَّهُ عَلَيْهِ بِذَلِكَ لَا يَزَالُ جِنْسُهُ مَوْجُودًا حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

"Dan tiga perkara dalam hadits ini berkaitan dengan bab-bab ilmu, bahkan dengan bab ini secara khusus, yaitu:

(1) Dari sisi penetapan kebaikan untuk orang yang mendalami ilmu agama.

(2) Bahwa pemahaman itu tidak dapat diraih hanya dengan usaha, namun dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya untuk memahami agama.

(3) Bahwa orang yang telah Allah berikan pertolongan untuk memahami agama, maka golongan ini akan senantiasa berada di atas kebenaran sampai datang ketetapan Allah." [Fathul Bari, 1/164]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadits ini bahwa siapa yang tidak mendalami agama, yaitu tidak mempelajari kaidah-kaidah dasar Islam dan cabang-cabang yang terkait dengannya maka ia tidak akan meraih kebaikan.” [Fathul Bari, 1/165]

Al-Kirmani rahimahullah berkata,

أَنَّ مِنْ جُمْلَةِ الِاسْتِقَامَةِ أَنْ يَكُونَ التَّفَقُّهَ لِأَنَّهُ الْأَصْلُ

“Bahwa termasuk makna istiqomah hendaklah mendalami ilmu agama, karena ia adalah pokoknya.” [Fathul Bari, 13/293]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم