Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra Yogyakarta, Jalan Yogya - Wonosari Km 10,5 Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Tampilkan postingan dengan label USHUL FIQH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label USHUL FIQH. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

NIAT, SYARAT SEGALA AMAL

Niat itu adalah syarat untuk segala macam amal. Dengan niatlah baik dan rusaknya amal. 

Kaidah ini merupakan kaidah yang paling bermanfaat dan penting, karena kaidah ini terpakai pada semua bab ilmu agama. Baiknya amal badan, amal harta, amal hati, dan amal anggota tubuh, hanyalah dengan niat. Rusaknya amal-amal tersebut adalah dengan sebab rusaknya niat. Jika niat itu baik akan baiklah ucapan dan perbuatan. Akan tetapi jika niat itu rusak rusaklah ucapan dan perbuatan, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Sesungguhnya setiap amal itu pasti pada niat, dan setiap orang itu mendapatkan sebagaimana apa yang ia niatkan” (HR. AlBukhari no.1 dan Muslim no. 1907)

Niat itu memiliki dua fungsi: 

Pertama: membedakan antara ibadah dan non-ibadah. Puasa misalnya, dalam bentuk tidak makan dan tidak minum, terkadang ada orang meninggalkan makan dan minum bukan karena ibadah, tanpa ada niat mendekatkan diri kepada Allah dengan tindakannya tidak makan dan minum. Terkadang tidak makan dan minum itu bernilai ibadah, berpahala di sisi Allah. Oleh karena itu tidak boleh tidak, kedua hal ini harus dibedakan dengan melihat niat.

Kedua: membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain, karena sebagian ibadah hukumnya fardhu ‘ain, sebagiannya lagi fardhu kifayah, sebagiannya lagi sifatnya rawatib, dan sebagian lagi muthlak. Semuanya ini harus dibedakan. Di antara fungsi niat, di dalamnya terdapat: ikhlas. Ikhlas adalah kadar yang lebih dari semata-mata niat untuk melakukan suatu aktifitas. Bisa dipastikan bahwa di dalam niat terdapat niat untuk melakukan suatu perbuatan, dan tujuannya untuk beramal untuk siapa. Gabungan dari kedua ini disebut ikhlas, yaitu seorang hamba bermaksud dengan amalnya mengharapkan wajah Allah dan tidak menginginkan yang lainnya. Di antara contoh untuk kaidah ini adalah seluruh bentuk ibadah, misalnya seperti salat, baik yang wajib ataupun yang sunnah, zakat, puasa, i’tikaf, haji dan umroh, -baik yang wajib ataupun yang sunnah- demikian juga meyembelih hewan kurban, atau hewan yang dihadiahkan untuk orang miskin di tanah haram, nadzar, kafarah, jihad, memerdekakan budak secara langsung ataupun tadbir.  Disebutkan bahwa, niat ini bahkan berlaku untuk semua hal-hal yang mubah. Jika seseorang berniat dengan hal-hal yang mubah yang dia lakukan dalam rangka mencari kekuatan untuk melakukan ketaatan, atau menjadi sarana untuk melakukan ketaatan semacam makan, minum, tidur, mencari harta, nikah, hubungan suami istri, menyetubuhi budak wanita milik sendiri, jika ia memasang niat untuk menjaga kehormatan, atau untuk mendapatkan keturunan yang shalih, atau untuk memperbanyak umat Islam, maka ini semua akan menjadi ladang pahala. Terkait niat terdapat satu poin yang sepatutnya untuk diperhatikan. 

Amal yang Allah arahkan kepada seorang hamba itu ada dua macam: 1. perkara yang dimaksudkan agar seorang hamba melakukannya (ma’muraat) dan, 2. perkara yang dimaksudkan agar seorang itu meninggalkannya (manhiyaat). Dua hal ini punya pengaruh dalam niat. Untuk perkara yang dimaksudkan agar seorang hamba melakukannya, tidak boleh tidak, harus ada niat, karena niat adalah syarat sahnya amal dan syarat untuk mendapatkan pahala, semacam salat, puasa dan yang lainnya.  

Untuk perkara yang dimaksudkan agar seorang itu meninggalkannya, seperti menghilangkan najis di badan, di pakaian dan di tempat. Demikian juga membayar utang yang wajib dibayar. Seorang itu telah gugur kewajibannya berkaitan dengan najis manakala dia telah menghilangkan najis. Seorang itu telah gugur kewajibannya terkait hutang manakala dia telah membayar hutang. Untuk melakukan ini semua, tidak disyaratkan niat. Akan tetapi untuk mendapatkan pahala, tidak boleh tidak, harus ada niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hal-hal tadi.

Wallahua’lam.

Sumber: Syarah Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di) 


Sabtu, 18 Juli 2020

Pengertian Ushul Fiqih

Pengertian Ushul Fiqih 
Oleh: Ustad KH. Rohadi Agus S 
(Pimpinan Pondok Ibnul Qoyyim)

Untuk memahami Ushul Fiqih para Ulama menjelaskan ada dua cara yang pertama dilihat dari susunan katanya ada dua kata yaitu Ushul dan Fiqih, kemudian yang kedua dilihat dari sisi ia adalah nama sebuah Ilmu pengetahuan. 
Yng pertama bila dilihat dari susunannya tersusun dari dua kata yang majnuk kata Ushul dan kata Fiqih, Kata Ushul adalah jamak dari kata ashlun yang berarti asas, kaedah dan dalil. (ما بني عليه غيره) apa saja yang terbangun diatasnya segala sesuatu, lawan kebalikannya adalah cabang (ما بني على غيره) apa saja yang terbangun di atas perkara lain. 
Sedangkan makna Fiqih secara bahasa adalah Faham yang mendalam, sedangkan makna ishtilah adalah : Sebuah Ilmu yang mengkaji hukum syareat yang melalui cara ijtihad pada masalah masalah yang bersifat amaliyah, dari dalil dalil yang mendetail. 
Ushul Fiqih adalah Ilmu yang mempelajari Dalil Dalil Syareat yang bersifat global tidak deteil Sedangkan Ilmu Ushul Fiqih secara nama sebuah Ilmu adalah: Ilmu yang membahas tentang Dalil Syareat, tata cara memahami Dalil dan Keadaan Orang yang memahami Dalil dalil Syareat
  

INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN USHUL FIQH BERBASIS ANDROID UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN PEMBELAJARAN DI MADRASAH ALIYAH IBNUL QOYYIM

Abstrak 

Kegelisahan akademik penelitian ini adalah rendahnya ketuntasan hasil belajar Ushul Fiqih siswa. Hal ini disebabkan karena pembelajaran Ushul Fiqh tanpa menggunakan media dan hanya mengandalkan logika sehingga siswa mudah jenuh. Tujuan peneltian ini adalah mengembangkan media pembelajaan Ushul Fiqih berbasis android untuk meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development jenis Borg and Gall. Hasil penelitian ini mengembangkan media pembelajaran Ushul Fiqih berbasis android yang diberi nama “TADUF”, yakni kata singkat dari “tadrib ushul fiqih”, artinya : sebuah aplikasi untuk melatih siswa menggunakan kaidah kaidah ushuliyah dan kaidah kaidah fiqhiyah dalam menyelasaikan masailul fiqhiyah (masalah masalah fiqih). Dengan hrapan supaya tuntas dalam pembelajaran Ushul fiqih. Hasil validasi ahli materi dan ahli media menunjukan kelayakan yang tinggi: menurut Ahli Teknologi Informasi, TADUF memiliki skor 83% (baik/layak), sedang Ahli Media menilai 84% dan Ahli Materi menilai 97,5% (sangat baik). Hasil uji coba alfa pada siswa kelas empat kulliyatul mualimin atau sedarajat dengan kelas X Madrasah Aliyah di pondok pesantren Ibnul Qoyyim menunjukan adanya peningkatan dalam ketuntasan belajar dengan tiga indikator, yang pertama peningkatan rata-rata dari 58 menjadi 71, yang kedua peningkatan nilai maksimal dari 38 menjadi 50 dan nilai minimal dari 80 menjadi 90, yang ketiga pengurangan nilai bawah KKM dari 14 menjadi 2 seta peningkatan nilai atas KKM dari 10 menadi 22. Dengan demikian, media pembelajaran Ushul Fiqih (TADUF) ini layak dan baik untuk digunakan untuk meningkatkan ketuntasan belajar Ushul Fiqih siswa kelas X pada madrasah yang berbasis pesantren..

Kata Kunci : Inovasi, Media pembekajaran, Ushul Fiqih, Ketuntasan Belajar.

KESIMPULAN

Pertama

Berdasarkan data dan analisa data dari tiga Ahli Ahli IT. Ahli Media dan Ahli Materi bisa    disimpulkan bahawa TADUF sebagai media Pembelajaran Ushul Fiqih Bagus untuk diterapkan dalam pebelajaran Ilmu Ushul Fiqih.

Berdasarkan data dan analisa data setelah diterpkan di 24 User (Siswa), TADUF merupakan Media pembelajaran yang bisa meningkatkan ketuntasan belajar siswa dalam materi peljaran Ushul Fikih dengan tiga Idikator : a. Yang pertama Peningkatan Rata Rata meningkat dari 58 menjadi- 71. b. Yang kedua Peningkatan Nilai maksimal meningkat dari 38 menjadi 50 dan nilai minimal dari 80 menjadi 90, dan   c. Yang ketiga Pengurangan Nilai bawah KKM seta Peningkatan Nilai Atas KKM. Jumlah Nilai yang kurang dari 60 (Nilai KKM) menurun dari 14 menjadi 2 dan jumlah Nilai yang berada di 60 ke atas meningkat dari 10 menadi 22

Keterbatasan Penelitian

1.      Dalam Penelitian ini pada awalnya sangat terbatasi oleh aturan pendidikan pesantren yang melarang siswa menggunakan Gadget secara bebas bahkan sangat dilarang selama berada di lingkungan pesantren sehingga tidak mudah menerapkannya

2.      Setelah peristiwa Wabah covid ini peluang diterapkan TADUF sangat terbuka akan tetapi masih ada keterbatasan Siswa dirumah mereka terutama yang berada di pelosok yaitu soal kuota Internet mereka juga pesawat Telpun masih banyak yang belum memiliki sendiri

Saran

1. Tentang Gadget a. Perlu didesain “Pesantren Masa Depan” berbasis Teknologi Informasi, Dengan istilah Pondok Pesantren IT, dimana semua proses pendidikan yang bersifat teknis menggunakan IT seperti perpustakaan alat tulis menulis berbasis Teknologi komputer dan Tablet.b. Pesantren semestinya memiliki Server sendiri sehingga mampu menyimapan data tersendiri terjamin keamanannya bisa mengontrol semua proses penggunaan jaringan internet oleh para siswa dan guru sehingga terarah pada penggunaan yang positif.

2, Implementasi TADUF

a. TADUF ini merupakan pengembangan yang bersifat awal masih banyak hal yang perlu disempurnakan b. TADUF ini Media yang sangat bagus dipraktekkan dalam proses pembelajaran dengan melakukan Efaluasi terhadap Materi pembelajarannya dan pada media TADUF itu sendiri.


RUBRIK USHUL FIQH

Rubrik Ushul Fiqh akan diasuh oleh Pimpinan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta, Beliau Ustadz KH. Rohadi Agus Salim, S.Pd.I