Selamat Datang di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Putra D.I. Yogyakarta. Terwujudnya Generasi Mukmin, Mu'allim, Mubaligh, Mujtahid yang Mukhlis

Dua Syarat Diterimanya Ibadah


Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)


Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205]

Wallaahu ta’ala a’lam.

⠀⠀⠀⠀

Baca Juga Ini ya...

Posting Komentar

0 Komentar