Menggapai manisnya Iman

0

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار.

"Ada tiga perkara yang apabila terdapat dalam diri seorang hamba maka ia akan meraih manisnya keimanan:

(1) Hendaklah ia jadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain kedua-Nya.

(2) Dan hendaklah ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah.

(3) Dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci kalau dirinya dilempar ke dalam api." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu]

وفي رواية للبخاري: وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ.

Dalam riwayat Al-Bukhari: Dan sampai dilempar ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekafiran, setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَمَعْنَى حَلَاوَةِ الْإِيمَانِ اسْتِلْذَاذُ الطَّاعَاتِ وَتَحَمُّلُ الْمَشَاقِّ فِي الدِّينِ وَإِيثَارُ ذَلِكَ عَلَى أَعْرَاضِ الدُّنْيَا

“Makna manisnya iman adalah merasa lezat dalam melakukan ketaatan, menahan beban dalam mengamalkan agama dan lebih mendahulukan hal tersebut dari seluruh kenikmatan dunia.” [Fathul Baari, 1/61]

Al-Imam Ahmad bin Harb rahimahullah berkata,

عَبَدْتُ اللهَ خَمْسِيْنَ سَنَةً فَمَا وَجَدْتُ حَلاَوَةَ العِبَادَةِ حَتَّى تَرَكْتُ ثَلاَثَةَ أَشيَاءٍ تَرَكْتُ رِضَى النَّاسِ حَتَّى قَدِرْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِالحَقِّ، وَتَرَكْتُ صُحْبَةَ الفَاسِقِيْنَ حَتَّى وَجَدْتُ صُحْبَةَ الصَّالِحِيْنَ، وَتَرَكْتُ حَلاَوَةَ الدُّنْيَا حَتَّى وَجَدْتُ حَلاَوَةَ الآخِرَةِ.

“Aku beribadah kepada Allah selama 50 tahun, tapi aku tidak mendapatkan manisnya ibadah sampai aku meninggalkan tiga perkara:

(1) Aku tinggalkan mencari ridho manusia hingga aku mampu mengatakan yang benar.

(2) Aku tinggalkan pertemanan dengan para pendosa hingga aku berteman dengan orang-orang shalih.

(3) Aku tinggalkan manisnya dunia hingga aku mendapatkan manisnya akhirat.” [Siyar A’lamin Nubala, 9/99]


BEBERAPA PELAJARAN

1. Cinta kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam adalah ibadah yang sangat agung, dan itu dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah ta'ala dengan cara meneladani Rasul-Nya shallallahu'alaihi wa sallam.

2. Cinta karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat, dan maknanya adalah kita mencintai seseorang hendaklah karena ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka semakin takwa seseorang hendaklah kita semakin cinta kepadanya.

3. Kewajiban membenci kekafiran dan orang-orang kafir, dan mencintai keimanan dan orang-orang yang beriman.

4. Kewajiban bersabar menghadapi berbagai rintangan dalam beriman dan bertakwa kepada Allah ta’ala.

5. Mengalami penderitaan di dunia sampai kehilangan nyawa dengan cara yang paling berat seperti dibakar, itu lebih baik daripada melakukan dosa kekafiran, lalu mendapatkan azab yang jauh lebih dahsyat di akhirat.

==============================

Ust. Sofyan 

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)
To Top